MENGATASI PERMASALAHAN KETIDAKADILAN DAN KETIMPANGAN EKONOMI

Oleh: Ust. Agung Riyardi (ISTAC Jakarta)

 

Semua ideologi menghadapi permasalahan ketimpangan ekonomi, yaitu ketimpangan harta antara kaya dan miskin.  Selain itu, semua ideologi juga mensikapi permasalahan ketidakadilan ekonomi dan ketimpangan ekonomi.  Tulisan ini menunjukan permasalahan ketimpangan ekonomi pada semua ideologi dan menunjukan pensikapan yang dilakukan atas ketidakadilan ekonomi dan ketimpangan ekonomi.  Hasilnya adalah ketimpangan ekonomi yang terjadi pada ideologi Islam tidak menjadi permasalahan serius disebabkan ideologi Islam mengatasi permasalahan ketidakadilan ekonomi dan ketimpangan ekonomi dengan serius.

 

Permasalahan Ketimpangan Ekonomi

Jika ingin melihat seriusnya permasalahan ketimpangan ekonomi, lihatlah pada ideologi kapitalisme.   Rasanya berlembar-lembar kertas dan bergalon-galon tinta tidak akan habis untuk menunjukan seriusnya permasalahan ketimpangan ekonomi pada ideologi kapitalisme.  Pada masa kapitalisme feodalisme, ketimpangan ekonomi terlihat dari perbedaan mencolok dan pertentangan keras antara kelompok tuan tanah dengan kelompok budak tanah, adapun pada masa kapitalisme industri, ketimpangan ekonomi terlihat dari perbedaan mencolok dan pertentangan keras antara kelompok majikan dengan kelompok buruh.

Permasalahan ketimpangan ekonomi pada ideologi kapitalisme memang fatal karena menyangkut juga masalah ketidakadilan ekonomi.   Pihak yang miskin menjadi miskin dan semakin miskin karena dieksploitasi dan dimiskinkan, sedangkan pihak yang kaya menjadi kaya dan semakin kaya karena mengeksploitasi dan menghalalkan segala cara untuk memperkaya diri.  Jadi, bersama masalah ketimpangan ekonomi terdapat masalah ketidakadilan.  Oleh karena itu, ketimpangan ekonomi pada ideologi kapitalisme sangat tajam.

Perkembangan kemasyarakatan yang terjadi, tidak menyebabkan permasalahan ketimpangan ekonomi mereda.  Di tengah masyarakat kapitalisme tetap terjadi ketimpangan ekonomi yang serius.  Ketimpangan ekonomi antar kawasan, ketimpangan ekonomi antar negara, ketimpangan ekonomi pusat-daerah, ketimpangan ekonomi kota-desa, dan ketimpangan ekonomi antar pendapatan adalah contoh-contoh ketimpangan ekonomi yang terjadi pada ideologi kapitalisme.

Negara-negara yang menerapkan konsep welfare state juga mengalami ketimpangan ekonomi yang kadang lebih parah dari ketimpangan ekonomi pada ideologi kapitalisme itu sendiri.  Permasalahannya, welfare state dimaknai sebagai usaha mempertahankan kapitalisme dan menutup-nutupi kebobrokan kapitalisme melalui pengembangan bisnis jaminan ‘sosial’ di tengah masyarakat kapitalisme.  Jadilah ideologi kapitalisme tetap ada, bersama-sama dengan kebobrokan yang dihasilkannya termasuk ketimpangan ekonomi yang di dalamnya terdapat ketidakadilan ekonomi.  Permasalahan mereka sedikit tertutupi oleh ‘bisnis’ welfare state dan jaminan ‘sosial’.

Negara-negara yang meniru ideologi kapitalisme, baik yang tidak menutupi ataupun yang menutupi dengan konsep welfare state mengalami nasib tidak kalah malang.  Bukannya kesuksesan diraih, namun waktu demi waktu kemalangan diperoleh.  Ketimpangan ekonomi yang di dalamnya ada ketidakadilan ekonomi menjadi salah satu permasalahan besar.

Entah apa alasannya, kondisi ketimpangan ekonomi dan ketidakadilan ekonomi pada ideologi kapitalisme mengundang minat untuk menghitung di atas kertas derajat ketimpangan yang terjadi.  Berbagai ukuran ketimpangan ekonomi berhasil dibentuk.   Salah satu ukuran yang populer adalah yang dikemukakan oleh Corrado Gini yaitu Gini Ratio atau Gini coefficient atau Gini index yang mengukur ketimpangan ekonomi berdasarkan kurva Lorenz. Gini ratio menghasilkan angka mutlak antara 0 sampai 1 atau angka prosentase 0 sampai 100%.  Angka 0 berarti tidak ada ketimpangan sebab semua orang memiliki pendapatan yang sama, sedangkan, angka 1 atau 100% berarti terjadi ketimpangan ekonomi paling lebar sebab hanya 1 orang yang memiliki pendapatan, sedangkan orang lain tidak memiliki pendapatan.  Sayangnya, ukuran tersebut dan ukuran yang lain tidak menunjukan ketidakadilan ekonomi.

Setiap tahun derajat ketimpangan ekonomi dapat diukur dan dipaparkan pada semua level.  Sebuah publikasi misalnya, telah mengukur Gini Ratio dan ketimpangan ekonomi setiap negara pada tahun 2009.  Gini Ratio berkisar antara 24,7% hingga 59,5%.  Gini Ratio terendah adalah Denmark dan tertinggi adalah Haiti. Indonesia dalam publikasi tersebut berada pada ranking 70 dengan Gini Ratio 39.4%.

Khusus Gini Ratio Indonesia, walaupun lebih baik dari Gini Ratio berbagai negara sekitar, ternyata dari tahun 1990 hingga 2012 memiliki trend Gini Ratio yang meningkat dan Gini Ratio di kota lebih tinggi daripada di desa.  Bahkan, modifikasi Gini Ratio dari Gini Ratio pendapatan menjadi Gini Ratio tanah dan kekayaan menunjukkan bahwa ketimpangan ekonomi di Indonesia sangat tajam sebab Gini Ratio pendapatan sekitar 40%, namun Gini Ratio tanah dan kekayaan mencapai 72% dan 76%.

Terlepas dari hitung-hitungan di atas kertas, menggunakan Gini Ratio atau yang lain, fakta ketimpangan ekonomi dapat dirasakan dan bahkan dilihat dengan jelas.   Sebagai contoh pada saat ada nenek Minah yang miskin sehingga harus mencuri tiga buah kakao senilai hanya Rp 15.000 ternyata ada pengusaha macam Ted Sioeng yang berbisnis di bidang persuratkabaran berbahasa Cina dan Inggris yang mendermakan US$ 1 juta pertahun selama 5 tahun (sekitar Rp 56,5 milyar) kepada Global Fund.  Bahkan kabarnya Ted Siong dulu pernah menyumbang sangat banyak untuk pemenangan Bill Clinton.  Masih terkait dengan pendapatan, konon kabarnya, gabungan gaji setahun dari ribuan pegawai suatu perusahaan sepatu terkenal di suatu negara lebih rendah dari honor yang diterima seorang pesohor di sana untuk mempromosikan sepatu perusahaan tersebut.   Konon Kabarnya pula, sebuah negara di Afrika, yaitu Tanzania yang berpendapatan agregat US$ 2,2 milyar pertahun dengan 25 juta orang penduduk ternyata tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan sebuah perusahaan investasi internasional Goldman Sachs yang pendapatannya US$ 2,2 milyar pertahun dengan rekan bisnis hanya 161 usaha.

Permasalahannya bukan sekadar ketimpangan ekonomi itu sendiri, namun adanya ketidakadilan ekonomi.  Minimal ada pemihakan kepada yang kaya dan pembiaran kepada yang miskin.  Bahkan situasinya lebih parah lagi.  Eksploitasi yang dilakukan si kaya dilindungi, dihormati dan dijamin, sedangkan tereksploitasinya si miskin tidak mendapat empati. Kasus pinjam meminjam uang ribawi misalnya, pihak bank dilindungi, dihormati dan dijamin walaupun mengeksploitasi, sedangkan pihak peminjam selalu diliputi kekhawatiran terkena ‘pinalti’ dan kehilangan barang jaminan.  Kasus lain adalah privatisasi dan nasionalisasi harta milik umum seperti hutan, tambang, dll dilindungi, dihormati dan dijamin, di mana masyarakat yang mau menggunakan harus ijin terlebih dahulu dan atau membayar (mahal).     Masih banyak kasus lain di mana ketimpangan ekonomi pada ideologi kapitalisme mencerminkan ketidakadilan.

Wajar saja banyak yang muak dengan kapitalisme.   Ingin rasanya merevolusi ideologi kapitalisme secepat mungkin sehingga ketimpangan ekonomi lenyap.  Bubarnya ideologi kapitalisme adalah pintu masuk bubarnya ketimpangan ekonomi.

Salah seorang yang berusaha membubarkan ideologi kapitalisme adalah Karl Marx. Ditunjukannya kesalahan ideologi kapitalisme dan dirumuskannya ideologi tandingan bagi kapitalisme, yaitu ideologi sosialisme-komunisme.  Ditawarkannya perubahan dari ketimpangan ekonomi menjadi “sama rata dan sama rasa”.  Karl Marx mengetahui betapa hinanya ideologi kapitalisme.

Melalui ‘Das Kapital’ dia tunjukan ‘kesalahan teknis’ ideologi kapitalisme berupa penyerapan ‘hak’ kaum pekerja oleh kaum borjuis.  ‘Kesalahan teknis’ Itulah yang menyebabkan kemiskinan terjadi di mana-mana, dan ketimpangan ekonomi mencolok sekali di tengah masyarakat.  Melalui bukunya ‘Manifesto komunisme’ dia tunjukan cara ‘melawan’ ideologi kapitalisme menggunakan dialetika materialisme di mana untuk kalangan ‘agamawan’ hendaknya dimulai dengan menghilangkan pengaruh agama  dari dirinya sebab agama itu seperti opium/candu hanya menyebabkan kecanduan kepada ‘kapitalisme’ dan lupa perjuangan melawan kapitalisme.

Namun, Karl Mark ‘lupa’ kalau manusia memiliki kelemahan mendasar yaitu manusia, termasuk Karl Mark sendiri, diliputi keterbatasan dan sangat terpengaruh oleh lingkungannya.    ‘Perlawanan’ terhadap ideologi kapitalisme yang dilakukannya, dipengaruhi oleh euphoria di tengah masyarakat kapitalisme tentang penolakan kepada agama dan pengaruhnya dalam kehidupan. Demikian juga ‘perlawanan’ terhadap ideologi kapitalisme yang dilakukannya, dipengaruhi oleh euphoria di tengah masyarakat kapitalisme tentang filsafat pemberontakan ‘terhadap kejumudan’,  khususnya filsafat Hegelian tentang dialektika.

Seandainya Karl Mark mempelajari Islam tentu dia akan mengetahui bahwa eksploitasi yang terjadi pada ideologi kapitalisme bukan hanya kelicikan para majikan, namun juga kerakusan pelaku pinjam meminjam ribawi, pelaku nasionalisasi dan privatisasi harta milik umum, dan lain-lain eksploitasi. Demikian juga, seandainya Karl Mark mempelajari Islam tentu dia akan mengetahui bahwa jalan perubahan adalah mengikuti metode dakwah Rasulullah SAW.  Tetapi dia sudah tertutup dari kebenaran.  Jadilah ideologi sosialisme-komunisme yang diciptakannya tidak kalah hina dengan ideologi kapitalisme.

Hingga saat kematian Karl Marx datang, ideologi sosialisme-komunisme ciptaan Karl Marx hanya sedikit bergaung di tengah ideologi kapitalisme.  Hanya orang-orang yang berpikiran pendek, pengecut dan frustasi yang mau menerimanya.  Boleh disimpulkan bahwa ideologi sosialisme-komunisme gagal merubah ideologi kapitalisme dan gagal menghilangkan ketimpangan ekonomi.

Lenin dan dilanjutkan oleh Stalin ‘berjasa’ menerapkan ideologi sosialisme-komunisme melalui negara Uni Soviet.  Lenin ‘berjasa’ karena mendirikan negara Uni Soviet yang berideologi sosialisme-komunisme.   Stalin ‘berjasa’ karena ‘membersihkan’ negara Uni Soviet dari pihak internal Uni Soviet yang bertentangan dengan ideologi sosialisme-komunisme, termasuk ‘menghabisi’ umat Islam di sana.   Kruschev meneruskan langkah para kamerad pendahulunya itu melalui sosialisme industri dan pertanian.  Brezhnev sangat populer karena bersama dengan blok timurnya terlibat perang dingin dengan blok Barat. ‘Yang paling berjasa’ adalah Gorbachev sebab dialah yang menunjukan kebobrokan dan membubarkan negara Uni Soviet.

Seandainya mereka–dari Karl Marx hingga Gorbachev dan yang lain-lainnya–mempelajari, membenarkan dan memperjuangkan agama Islam tentu nasib mereka baik sekali di dunia dan di akhirat.  Kenyataannya mereka menolak kebenaran dari Tuhan Yang Menciptakan mereka, Yang Maha Mengetahui dan Yang Maha berkuasa.  Jadilah mereka merugi besar-besaran.  Khayalan mereka di dunia itulah yang sebenarnya seperti opium/candu, dan di akhirat kelak mereka akan berhadapan dengan kemurkaanNYA.

Agama Islam menunjukan bahwa permasalahan ketimpangan ekonomi tidak menjadi permasalahan serius sebab tidak terjadi ketidakadilan ekonomi, dan ketimpangan ekonomi diatasi dengan serius.  Berbagai dalil menunjukan tidak terjadi ketidakadilan ekonomi dan berbagai hadits menunjukkan bahwa ketimpangan ekonomi bukan permasalahan serius.  Perhatikan berbagai dalil berikut ini:

  1. Ketidakadilan ekonomi diberantas.
    1. Hal itu dapat diketahui dari adanya berbagai larangan eksploitasi seperti larangan memprivatisasi harta milik umum, larangan menasionalisasi harta milik umum, larangan riba, larangan menerlantarkan lahan pertanian dan larangan menipu dalam jual beli
    2. Hal itu juga dapat diketahui dari peranan qodhi hisbah yang terus menerus secara langsung memantau dan menyelesaikan pelanggaran dan ketidakadilan di sektor perekonomian.
  2. Berbagai hadits yang menunjukkan bahwa ketimpangan ekonomi tidak menjadi permasalahan
    1. Dari Abdurrahman bin ‘Auf r.a. katanya: “Ketika kami tiba di Madinah, Rasulullah saw. mempersaudarakan saya dengan Saad bin Rabi’. Kata Saad bin Rabi’, “Saya orang Ansar yang paling kaya. Aku bagi dua hartaku denganmu. Dan tengoklah mana di antara isteriku yang engkau senangi. Akan saya ceraikan dia. Setelah ia halal, engkau boleh mengawininya. Jawab Abdurrahman, “Saya tidak memerlukan demikian. Di manakah pasar di sini?” Jawab Saad, “Pasar Qainuqa’,” Pagi-pagi Abdurrahman pergi ke pasar itu membawa keju dan samin. Dan sesudah itu ia terus menerus pergi ke sana. Tidak lama kemudian, Abdurrahman datang (kepada Nabi saw) dengan kesan pucat (di mukanya). Rasulullah saw. bertanya, “Kawinkah engkau?” Jawab Abdurrahman, “Benar, ya, Rasulullah!” Tanya Nabi , “Dengan siapa?” Jawabnya, “Dengan seorang wanita Ansar.” Sabda Nabi, “Berapa engkau beri maharnya!” Jawabnya, “Emas seberat atau sebesar biji kurma.” Sabda Nabi saw., “Adakanlah pesta, sekalipun dengan seekor kambing.”
    2. Suatu hari kalangan miskin dari kalangan sahabat mendatangi Rasulullah SAW.   Mereka berkata, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah mendahului kami dengan membawa derajat-derajat yang tinggi dan kenikmatan yang abadi.” Rasulullah SAW bertanya, “Kenapa demikian?” Para sahabat tadi melanjutkan, “orang-orang kaya tersebut shalat sebagaimana kami juga sholat, mereka puasa sebagaiman kami juga berpuasa, tapi mereka bersedekah dan kami tidak bisa bersedekah, mereka membebaskan budak dan kami tidak bisa.” Maka Rasulullah SAW bersabda: “Bukankah telah kuajarkan kepada kalian sesuatu yang dengannya kalian dapat menyamai orang-orang sebelum kalian dan kalian mendahului orang-orang setelah kalian serta tidak ada seorang-pun yang lebih utama dari kalian kecuali dia melakukan apa yang kalian lakukan ? ”Mereka menjawab : “Betul wahai Rasulullah”. Rasulullah bersabda: “Kalian bertasbih, bertakbir, dan bertahmid setiap selesai shalat 33 kali”.  Kemudian kaum miskin dari kalangan sahabat kembali, lalu berkata: “Saudara-saudara kami orang-orang kaya mendengar apa yang kami lakukan, kemudian mereka melakukan hal serupa”.  Maka Rasulullah SAW bersabda: “Itulah keutamaan Allah yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya”.
    3. “Ajaklah mereka kepada syahadat laa ilaaha illallaah dan bersaksi bahwa aku adalah utusan Allah. Kemudian apabila mereka telah menaatinya maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah mewajibkan kepada mereka mengerjakan shalat lima waktu pada setiap sehari semalam. Kemudian apabila mereka telah menaatinya maka beritahukanlah kepada mereka bahwa Allah juga mewajibkan kepada mereka sedekah/zakat dalam harta mereka yang diambil dari orang-orang kaya mereka dan diberikan kepada orang-orang miskin di antara mereka.

 

Hal-hal di atas, dan dalil-dalil lainnya dalam ajaran Islam menunjukan bahwa permasalahan ketimpangan ekonomi  dalam Islam bukan permasalahan serius karena tidak ada masalah ketidakadilan ekonomi, dan ketimpangan ekonomi diselesaikan secara serius.  Poin 1 menunjukkan bahwa tidak ada masalah ketidakadilan ekonomi sebab semua permasalahan ketidakadilan ekonomi segera diselesaikan secara hukum.  Poin 2 menunjukan bahwa ketimpangan ekonomi tidak menjadi masalah serius.  Hadits a menunjukkan bahwa permasalahan ketimpangan ekonomi bukan permasalahan serius, sebab (1) yang ‘diirikan’ oleh orang miskin bukan masalah kekayaan orang kaya, namun betapa orang kaya dapat meraih pahala yang banyak.  (2) Orang kaya juga ‘iri’ kepada orang miskin, sebab orang miskin diberi ‘amalan’ yang dapat menghasilkan pahala banyak, selanjutnya orang kaya meniru juga yang dilakukan orang miskin, yaitu membaca tasbih, hamdalah dan takbir 33x setelah sholat.  Jelas permasalahan ketimpangan ekonomi bukan permasalahan serius yang mencemaskan hati kita.  Selanjutnya mari kita selalu berdoa agar dapat menyaksikan ketimpangan ekonomi tidak menjadi masalah serius sebagaimana dalam kehidupan Islam. Hadits b dan c juga menunjukan bahwa ketimpangan ekonomi tidak menjadi masalah serius dalam kehidupan Islam, sebab diatasi secara serius.  Hadits kedua menunjukkan arti penting persaudaraan dan amal usaha, sedangkan hadits ketiga menunjukkan arti penting anggaran negara/baitul mal dalam mengatasi masalah ketimpangan ekonomi.

Penanganan serius untuk mengatasi ketidakadilan ekonomi dan ketimpangan ekonomi menyebabkan ketimpangan ekonomi bukan permasalahan serius, sebaliknya penanganan tidak serius untuk mengatasi ketidakadilan ekonomi dan ketimpangan ekonomi menyebabkan ketimpangan ekonomi menjadi permasalahan serius.  Oleh karena itu harus ada usaha serius mengatasi permasalahan ketidakadilan ekonomi dan ketimpangan ekonomi.

 

Mengatasi Permasalahan Ketidakadilan Ekonomi

Perlunya penanganan terhadap ketidakadilan ekonomi sudah dijelaskan di atas.  Islam sangat serius dalam mengatasi permasalahan ketidakadilan ekonomi, sedangkan yang lain tidak serius dalam mengatasi ketidakadilan ekonomi.  Ideologi kapitalisme membiarkan bahkan menjamin orang kaya berlaku ekonomi tidak adil terhadap orang miskin, sedangkan ideologi sosialisme-komunisme  menganggap orang kaya selalu berbuat tidak adil kepada orang miskin. Hanya Islam yang mampu mengatasi ketidakadilan ekonomi.

 

Mengatasi Permasalahan Ketimpangan Ekonomi

Ideologi kapitalisme tidak serius mengatasi permasalahan ketimpangan ekonomi.  Terdapat dua cara yang mudah untuk mengetahui ketidakseriusan ideologi kapitalisme dalam mengatasi permasalahan ketimpangan ekonomi.  Cara yang pertama adalah peran keluarga dan cara kedua adalah peran anggaran negara.  Peran keluarga dan peran pemerintah yang kecil menunjukkan ketidakseriusan mengatasi permasalahan ketimpangan ekonomi, sebaliknya  peran yang besar menunjukkan keseriusan mengatasi permasalahan ketimpangan ekonomi.

Ideologi kapitalisme menganggap keluarga tidak berperan dalam mengatasi permasalahan ketimpangan ekonomi.  Bahkan, ideologi kapitalisme menganggap keluarga sebagai ‘musuh’ perekonomian.  Hal itu dapat kita ketahui dari berbagai pandangan yang berkembang.  Pandangan Malthus misalnya, adalah pandangan yang menganggap keluarga sebagai pihak yang menghasilkan penduduk yang berkembangnya lebih cepat dari berkembangnya perekonomian, sehingga menghabiskan perekonomian.  Adapun pandangan club of Rome lebih ‘sadis’ lagi sebab mengusulkan “zero growth of population”.  Penduduk tidak  boleh berkembang supaya sumber perekonomian tidak habis.  Pandangan Garry S. Becker memberikan pembenaran terhadap “zero growth of population” melalui perlunya reformasi keluarga.   Keluarga harus seperti perusahaan; mempertimbangkan anak seperti perusahaan mempertimbangkan hasil produksi, mempertimbangkan juga biaya yang dikeluarkan, pendapatan diperoleh, pola kerja sama dalam perusahaan.  Hanya keluarga yang sudah direformasi seperti itu yang mendukung “zero growth of population”.

Padahal, kalau kita cermati, bukan penduduk dan keluarga yang ‘menghabiskan’ sumber perekonomian.  Yang menghabiskan sumber perekonomian adalah para kapitalis yang memang terbukti rakus dan serakah.  Seharusnya, bukan penduduk dan keluarga yang disalahkan, namun para kapitalis yang rakus dan serakah itu.  Kalau perlu dicanangkan gerakan “zero and zero growth of capitalism and socialism-communism”.

Kenyataannya, banyak pandangan dalam ideologi kapitalisme yang menganggap penduduk dan keluarga sebagai ‘musuh’ perekonomian.  Berdasarkan hal itu dapat disimpulkan bahwa mereka pesimis keluarga berperan dalam mengurangi ketimpangan ekonomi.  Mereka tidak serius menjadikan keluarga sebagai metode untuk mengurangi ketimpangan ekonomi.

Ideologi kapitalisme menganggap anggaran negara sebagai salah satu ‘tempat’ mengekspresikan relasi (transaksional) antara negara dengan berbagai pihak-pihak yang memiliki kepentingan-kepentingan anggaran.  Istilahnya: “love it or leave it”.  Berbagai pihak ‘mencintai’ negara dan anggarannya jikalau ‘share’ yang telah diberikan kepada negara berbalas dengan negara dan anggarannya memberi manfaat sebanding dengan ‘share’ yang telah diberikan, sebaliknya, berbagai pihak ‘tidak mencintai’ negara dan anggarannya jikalau ‘share’ yang telah diberikan kepada negara berbalas dengan negara dan anggarannya memberi manfaat tidak sebanding dengan ‘share’ yang telah diberikan.  Berbagai perusahaan ekspor misalnya, suka hati membayar pajak ‘jalan’ jika jalan-jalan dan infrastruktur pelabuhan dalam kondisi bagus sehingga tranportasi ke pelabuhan lancar.  Sebaliknya, berbagai perusahaan ekspor merasa berat hati membayar pajak ‘jalan’ jika jalan-jalan dan infrastruktur pelabuhan dalam kondisi tidak bagus sehingga tranportasi ke pelabuhan tidak lancar, menambah biaya.   Bukan hanya berat hati, mereka ada yang memilih hengkang dan merelokasi usaha ke negara/tempat lain.

Tentu saja metode anggaran seperti ini memarjinalkan pelayanan umum kepada rakyat. Contohnya adalah yang terjadi di AS.  Sudah 18 kali terjadi sejak tahun 1976 hingga tahun 2013, sekitar antara bulan Oktober  sampai Desember, pemerintah AS menghentikan pelayanan kepada masyarakat.  Sebagian pegawai negerinya diliburkan (kemungkinan termasuk gajinya), kantor dan fasilitas dalam tanggung jawab pemerintah ditutup dan pelayanan dihentikan.   Mengapa pemerintah AS melakukan seperti itu?.  Para ‘pebisnis’ yang meminjami uang kepada anggaran AS khawatir pemerintah AS tidak membayar hutang sebab di akhir tahun anggarannya sudah menipis.  Lalu para ‘pebisnis’ ini ‘berteriak-teriak’ (mengancam) nilai dollar dan saham Wall Street akan jatuh kalau pemerintah AS tidak membayar hutang.  Pemerintah AS pun merespon dengan ‘sembah takzim’ permintaan para pebisnis tersebut.  Segala hal akan digunakan untuk memenuhi keinginan mereka.  Kalau anggaran tidak cukup, mereka ‘ikhlas’ gaji pegawai negerinya dan pelayanan kepada masyarakatnya disisihkan dan ditunda terlebih dahulu demi membayar hutang dari para ‘pebisnis tersebut’.  Sungguh suatu contoh yang buruk dari anggaran negara dalam ideologi kapitalisme.  Haruskah umat Islam mengikuti seperti itu?  Walaupun dampaknya belum ‘separah’ di ideologi kapitalisme, kita khawatir  sedang mengikuti atau seperti mereka.  Anggaran negara bukan lagi ekspresi pelayanan umum negara, namun ekspresi relasi transaksional yang tentu saja tidak berperan dalam mengurangi ketimpangan ekonomi.

Parahnya lagi, anggaran transaksional seperti itu dapat ditunggangi oleh pihak asing.  Sebagai contoh adalah APBN Indonesia yang ditunggangi IMF melalui Konsensus Washington.  Setelah konsesus itu, Indonesia pun menyetujui mengurangi subsidi BBM dan naiknya harga BBM.  Laporan John Pilger menunjukkan bahwa pihak yang diuntungkan dari penurunan subsisi BBM dan kenaikan harga BBM adalah para pemberi pinjaman ke Indonesia, karena pembayaran hutang terjamin dan tidak tersendat-sendat.  Berbagai ‘reformasi’ seperti ‘reformasi’ pendidikan dan ‘reformasi’ jaminan kesehatan dalam bentuk BPJS diperkirakan semakin menyebabkan pembayaran hutang terjamin dan tidak tersendat-sendat.  Para pemberi pinjaman tertawa lega, namun rakyat menjerit sedih.  Anggaran transaksional telah ‘membunuh’ masa depan mereka.

Lalu bagaimana ideologi kapitalisme menjawab pertanyaan tentang ketimpangan ekonomi?  Jawabannya sederhana, yaitu ketimpangan ekonomi hanyalah bagian awal dari kemajuan ekonomi.  Simon Kuznet mengemukakan ‘teori’ Kurva berbentuk U terbalik.  Ketika suatu perekonomian mengalami kemajuan, pihak-pihak yang mengalami kelemahan dalam sumber daya belum mampu menyesuaikan diri terhadap kemajuan perekonomian, namun cepat atau lambat, pihak-pihak tersebut akan menyesuaikan diri dan mengejar kemajuan ekonomi.  Jadilah jika di awal kemajuan ekonomi terjadi ketimpangan ekonomi, maka di kelanjutan dan pertengahan kemajuan ekonomi ketimpangan berkurang.

Bahkan ketika kemajuan ekonomi tersebut terjadi antar negara, yang disebut globalisasi, ideologi kapitalisme meyakini ketimpangan ekonomi hanya terjadi di awal globalisasi.  Ketimpangan ekonomi berkurang pada proses-proses selanjutnya dari globalisasi.  Pada tahap awal globalisasi, ketika suatu negara berusaha menyamai kemajuan ekonomi negara di sekitarnya sehingga terjadi konvergensi, di dalam negeri akan terjadi ketimpangan ekonomi yang mencolok, namun cepat atau lambat, ketimpangan ekonomi berkurang.

Oleh karena itu, ideologi kapitalisme merekomendasikan membuka peluang kerja dan usaha sebesar-besarnya, beserta membuka berbagai hal yang mendukung seperti pendidikan, untuk mengurangi ketimpangan ekonomi.  Individu dan pihak-pihak yang ‘terlambat’ menyesuaikan diri dengan kemajuan ekonomi dan globalisasi sehingga timpang, diharapkan dapat menyesuaikan diri melalui terbukanya peluang kerja dan usaha sebesar-besarnya, dan dukungan dari pendidikan.   Ketimpangan ekonomi pun dapat dikurangi.

Adapun rekomendasi untuk anggaran negara dalam rangka mengurangi ketimpangan ekonomi adalah penerapan pajak progresif.  Orang-orang kaya silahkan saja membeli barang-barang ‘mewah’, namun hal itu akan dikenakan pajak progresif.  Harapannya pajak progresif menyebabkan orang-orang kaya ‘takut’ membeli barang-barang mewah.  Kalaupun ‘berani’ membeli barang ‘mewah’, mereka terkena pajak progresif yang dapat ‘digunakan’ pemerintah untuk mengurangi ketimpangan ekonomi.  Menurut ideologi kapitalisme, pajak progresif menjadi andalan dalam mengurangi ketimpangan ekonomi.

Terlihat sekali bahwa ideologi kapitalisme tidak serius dalam mengatasi masalah ketimpangan ekonomi.  Di satu sisi mereka tidak membenarkan peran keluarga dan anggaran pemerintah dalam mengatasi ketimpangan ekonomi, di sisi lain mereka menyatakan ketimpangan ekonomi hanya permasalahan awal kemajuan ekonomi dan globalisasi, yang cepat atau lambat berkurang seiring kemajuan ekonomi dan globalisasi.  Terbukanya peluang kerja dan usaha, termasuk peluang pendidikan, dan penerapan pajak progresif hanya semacam ‘asesoris’ bagi kemajuan ekonomi dan globalisasi dalam mengatasi masalah ketimpangan ekonomi.  Padahal banyak sekali fakta yang menunjukan bahwa kemajuan ekonomi sesungguhnya bukan kemajuan ekonomi dan globalisasi sesungguhnya juga bukan kemajuan ekonomi internasional.  Lalu bagaimana dapat mengatasi masalah ketimpangan ekonomi?

Jangan pernah berharap kepada sosialisme-komunisme dalam mengatasi masalah ketimpangan ekonomi.  Dialektika materialism yang dikemukakan Karl Marx sebagai metode memunculkan sosialisme-komunisme dan mengatasi ketimpangan ekonomi hanya khayalan.   Belum lagi kandungan sosialisme-komunisme yang mengingkari keberadaan Tuhan dan agama menyebabkan manusia keluar dari fitrahnya.  Memaksakan penerapan sosialisme-komunisme menyebabkan ketimpangan ekonomi hilang sebab semuanya sama rasa dan sama rata dalam kemiskinan.

Harapan hanyalah kepada ajaran Islam.   Ini yang betul sebab sebagaimana dalam surat Al Ikhlas ayat 2, Allah SWT berfirman: “Allah tempat bergantung (berharap)”.   Kenyataannya ajaran Islam memberikan solusi dalam mengurangi ketimpangan ekonomi.  Penjelasannya sebagai berikut:

  1. Ajaran Islam memerintahkan terbukanya lapangan usaha dan kerja.  Hal ini dapat diketahui dari perintah untuk bekerja, perintah bagi pemerintah untuk membuka lapangan pekerjaan dan perintah untuk mengoptimalkan penggunaan segala sumber daya.  Berkaitan dengan perintah untuk bekerja sudah sangat umum diketahui.  Misalnya perintah Allah SWT dalam surat Al Mulk ayat 15:  “Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebahagian dari rezki-Nya. Dan hanya kepada-Nya-lah kamu dibangkitkan.  Berkaitan dengan perintah bagi pemerintah untuk membuka lapangann kerja dapat diketahui dari perbuatan Nabi SAW yang memberi barang modal untuk bekerja kepada seseorang.  Berkaitan  dengan pengoptimalan sumber daya dapat diketahui dari hadits larangan menterlantarkan sumber daya lahan pertanian lebih dari 3,5 tahun, atau mengoptimalkan penggunaan sumber daya (barang) modal dalam bentuk syirkah mudhorobah.  Masih banyak dalil-dalil lain yang intinya memerintahkan individu bekerja sehingga memperoleh harta yang dapat mencukupi kebutuhan-kebutuhannya.

Larangan riba dan judi juga mendorong terbukanya lapangan pekerjaan.  Larangan tersebut menyebabkan ‘bandar’ riba dan bandar judi tidak memiliki kesempatan melakukan eksplotasi ekonomi atas nama mengembangkan harta miliknya.  Jika ingin mengembangkan harta miliknya, mereka harus benar-benar bekerja secara riel.  Jadi, larangan riba dan judi juga mendorong terbukanya lapangan pekerjaan.

  1. Ajaran Islam memerintahkan silaturahmi di antara anggota keluarga.  Silaturahmi di sini tidak sekadar kunjungan, khususnya di saat lebaran, namun silaturrahmi adalah hubungan terus menerus di antara anggota keluarga sedemikian hingga berbagai permasalahan di tengah keluarga terselesaikan.  Jika ada anggota keluarga yang mengalami masalah kemiskinan, maka anggota keluarga yang lain yang dalam keadaan mampu segera memberikan bantuan menyelesaikan masalah kemiskinan.  Jika ada anggota keluarga yang mengalami masalah pengangguran, maka anggota keluarga yang lain yang dalam keadaan mampu segera memberikan bantuan menyelesaikan masalah pengangguran.  Silaturahmi merupakan metode untuk mendistribusikan harta dari yang kaya kepada yang miskin di tengah keluarga.

Kita semua dapat memahami pentingnya silaturahmi dari hadits tentang Abdurrahman bin ‘Auf di atas.  Keluarga/persaudaraan bagi kaum Muhajirin pada waktu itu, pada awal hijrah di Madinah, bukan keluarga/persaudaraan asli, namun keluarga/persaudaraan berdasarkan ketetapan Nabi SAW, seperti Abdurrahman bin ‘Auf dipersaudarakan dengan Saad bin Rabi’.  Keluarga/persaudaraan bentukan ini ternyata begitu dahsyat dalam silaturahmi dan pendistribusian harta, apalagi silaturahmi dan pendistribusian harta dalam keluarga yang asli.  Yang kaya di tengah keluarga memberikan jaminan harta kepada saudaranya yang miskin, sedangkan yang miskin tidak mau bermalas-malasan dan berpangku tangan di atas kerja keras saudaranya.

Adanya harta warisan, menyebabkan silaturahmi di antara anggota keluarga semakin mudah.  Harta warisan akan dimiliki oleh ahli waris sebagaimana hadits Nabi SAW: “Barang siapa mati meninggalkan harta, maka itu untuk ahi warisnya, dan barang siapa mati meninggalkan beban/tanggungan maka itu bagian kami’. Ahli waris akan menggunakan harta warisan yang diterimanya untuk menunaikan tanggung jawab nafkah, termasuk kepada pihak yang kekurangan di tengah keluarga.  Jadi, harta warisan menyebabkan silaturahmi menjadi lebih mudah terlaksana.

  1. Ajaran Islam memerintahkan negara untuk melayani rakyat sebaik-baiknya dan memerintahkan baitul mal sebagai ‘tempat’ bagi negara untuk melayani rakyat sebaik-baiknya di bidang kekayaan dan harta.  Pelayanan baitulmal tersebut meliputi perolehan, pemilikan dan penggunaan harta baitulmal.  Dari sisi perolehan harta, baitulmal melayani rakyat dengan tidak memperoleh harta secara sembarangan.  Harta baitul mal diperoleh dari pungutan zakat, eksplorasi harta milik umum, pungutan jizyah, pungutan kharaj, pungutan usyr, pungutan khumus rikaz, dan harta rampasan perang.  Pungutan pajak hanya diperbolehkan dipungut dari orang kaya Muslim, ketika anggaran dalam keadaan defisit.  Hutang tidak menjadi sumber perolehan harta baitulmal.  Dari sisi pemilikan harta, baitulmal melayani rakyat dengan bertanggung jawab terhadap semua harta yang diperoleh, walaupun harta zakat dan harta milik umum yang ada di baitulmal tidak menjadi pemilikannya baitulmal.  Dari sisi penggunaan harta, baitulmal melayani rakyat dengan menggunakan harta dalam baitulmal untuk memenuhi berbagai kebutuhan di tengah masyarakat, seperti menyantuni orang miskin, menghilangkan ketimpangan ekonomi, membangun berbagai fasilitas yang dibutuhkan masyarakat, membayar kewajiban keuangan negara yang harus dikeluarkan dalam rangka sempurnanya pelayanan kepada masyarakat dan menjauhkan masyarakat dari mara bahaya.

Oleh karena itu, baitulmal memegang peranan penting dalam mengatasi permasalahan ketimpangan ekonomi.  Hadits nomor 3 di atas jelas sekali menunjukkan bahwa zakat dipungut dari yang kaya dan didistribusikan kepada yang miskin.  Adapun dalam Al Quran surat Al Hasyr ayat 7, Allah SWT berfirman: “supaya harta itu jangan beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu”.   Pada waktu itu, sebagaian harta rampasan perang, fa’i, dibagikan Rasulullah SAW kepada orang-orang miskin dari kalangan Muhajirin dan 3 orang dari kalangan Anshor. Orang-orang kaya dari kalangan Anshor tidak mendapatkan pembagian harta fa’i tersebut.  Masih banyak contoh yang menunjukkan bahwa baitulmal sangat serius mengatasi masalah ketimpangan ekonomi.

 

Penutup

Permasalahan ketimpangan ekonomi di tengah masyarakat mencakup permasalahan ketidakadilan ekonomi dan ketidakseriusan dalam menangani ketimpangan ekonomi dan ketidakadilan ekonomi.  Mengatasi permasalahan ketimpangan ekonomi seharusnya dengan mengatasi permasalahan ketidakadilan ekonomi dan keseriusan menangani masalah ketimpangan ekonomi sedemikian hingga ketimpangan ekonomi tidak menjadi masalah serius.  Ideologi Islam sukses mengatasi permasalahan ketimpangan ekonomi.  Ideologi lain gagal.

Ideologi Islam sukses mengatasi permasalahan ketidakadilan ekonomi dengan peran qodhi hisbah dalam memutuskan perkara pelanggaran ekonomi, sukses dalam keseriusan mengatasi ketimpangan ekonomi dan sukses menjadikan ketimpangan ekonomi menjadi masalah yang tidak serius.

Ideologi kapitalisme ‘sukses’ membuat ukuran di atas kertas ketimpangan ekonomi, misalnya Gini Ratio.  Namun ukuran itu tidak menunjukkan ketidakadilan ekonomi.  Yang jelas ideologi kapitalisme membiarkan dan mendukung ketidakadilan ekonomi, tidak serius dalam mengatasi ketimpangan ekonomi, dan ketimpangan ekonomi menjadi masalah serius.  Ideologi kapitalisme gagal mengatasi permasalahan ketimpangan ekonomi.

Ideologi sosialisme-komunisme gagal mengatasi permasalahan ketimpangan ekonomi.  Konsep dan penerapan sosialisme-komunisme bukan mengatasi ketidakadilan ekonomi dan ketimpangan ekonomi, namun menyebabkan terjadinya sama rasa-sama rata dalam kemiskinan. Bahkan ideologi sosialisme-komunisme menjadi pelaku ketidakadilan ekonomi.  Ideologi sosialisme-komunisme, sebagaimana ideologi kapitalisme, tidak dapat dan tidak boleh diharapkan untuk mengatasi permasalahan ketimpangan ekonomi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s