MEWASPADAI JEBAKAN KAMUFLASE IDOLA BARU

Ketika kita melihat program-program televisi akhir-akhir ini kita dapat melihat berbagai macam program pencarian bakat dengan berbagai macam konsepnya. Ada yang namanya Indonesian Idol, Indonesia Mencari Bakat, The X Factor, dan The Voice Indonesia. Berbagai macam program itu semuanya menawarkan seseorang untuk menjadi seorang idola atau paling tidak mendukung salah satu peserta untuk mereka idolakan. Disadari atau tidak bahwa keberadaan program-program pencarian bakat menjadi sebuah fenomena yang dihadapi oleh masyarakat saat ini. Suka atau tidak bahwa antusiasme seseorang untuk menjadi seorang idola maupun mengidolakan seseorang dalam program entertainment saat ini adalah sebuah hal nyata. Yang patut kita pahami secara mendalam bagi seorang muslim adalah apakah idola-idola yang ada pantas dijadikan idola? sudahkah kita menemukan idola sesungguhnya?

Idola Baru dengan Kamuflase

Munculnya berbagai macam pandangan tentang idola bagi seseorang dalam dunia entertainment tentunya sebuah fenomena yang sah-sah saja tatkala sebatas menganggap tahu adanya seorang bintang baru dalam dunia entertainment. Namun jika kita lihat bahwa keberadaan istilah idola-idola baru seakan menjadi hal yang senantiasa dihadapi oleh manusia dari masa ke masa. Setiap masa memiliki idola bagi masyarakat yang ada di massa itu, bahkan bisa diidolakan dari satu masa ke masa lainnya.

Kita tentu tahu bagaimana sosok tokoh-tokoh hebat di dunia atau khususnya tokoh-tokoh yang dianggap pembaharu di dunia. Siapa yang tidak mengenal Martin Luther King, namanya senantiasa disebut dalam perjalanan sejarah dunia. Dalam setiap pembahasan tentang proses perubahan maka nama Martin Luther King menjadi yang disebut sebagai inspirator dalam perubahan bagi masyarakat. Sebagaimana diketahui bahwa Martin Luther King adalah dianggap sebagai tokoh penting dalam perjalanan renaissance di Barat pada masanya. Dia dianggap menjadi inspirator perubahan di Barat yang pada saat itu kehidupan di Barat dikuasai oleh para cendekiawan gereja. Dia menganggap bahwa keberadaan cendekiawan gereja dalam system pemerintahan akan mengganggu jalannya pemerintahan dalam suatu Negara. Masa renaissance dianggap titik tolak pencerahan kehidupan masyarakat di Barat menjadi sebuah Negara yang tidak direcoki keberadaan sistem pemerintahannya oleh cendekiawan gereja. Inilah yang menjadi awal disebutnya masa renaissance di Barat.

Dengan melihat apa yang dibawa oleh keberadaan seorang Martin Luther King, tentu kita akan melihat secara detail bagaimana sebenarnya sosok Martin Luther King. Sosok Martin Luther King yang selalu disebut sebagai tokoh inspirator sepanjang masa tidak ubahnya adalah seorang yang hanya mempropagandakan Peradaban Barat. Sebagai seorang muslim kita melihat bahwa pemikiran-pemikiran yang dihasilkan oleh seorang Martin Luther King tidak patut untuk diambil. Maka menjadi langkah yang salah ketika kita sebagai seorang muslim mengidolakan seorang Martin Luther King dengan berbagai macam pemikiran yang dihasilkannya. Tidak layak bagi seorang muslim mengidolakan seseorang yang justru merupakan orang yang mengajarkan pemikiran peradaban kufur. Pemikiran yang dihasilkan tidak ubahnya adalah pancaran ideologi yang melekat dalam dirinya yaitu berlandaskan akidah kebebasan dan sekulerisme. Tidak patut kita mengikuti seseorang yang mengajarkan hal itu semua, meskipun mayoritas masyarakat di dunia menganggap sebagai tokoh yang patut diidolakan karena inspirasi perubahan yang dilakukan. Hal ini diperparah dengan sikap masyarakat yang cenderung ikut-ikutan mengambil apa yang menjadi kebiasaan peradaban barat tanpa melihat sesungguhnya substansi dan kebiasaan dari perayaan tersebut seperti perayaan valentine yang sebenarnya dipergunakan untuk menghormati tokoh umat lain yang dianggap sebagai tokoh yang patut diidolakan.

Bentuk-bentuk idola baru yang muncul dalam sesosok orang yang dibalut dengan pemikiran-pemikiran yang diembannya sungguh sangat menunjukkan sebuah kamuflase terhadap sosok seorang idola. Opini yang menggiring kaum muslim untuk menjadikan pihak-pihak tertentu menjadi seorang idola adalah sebuah nilai kamuflase yang nyata yang harus dihindari. Jangan sampai kaum muslim terjebak dengan kamuflase ini. Seolah kita melakukan hal yang benar karena hal tersebut merupakan hal umum yang dilaksanakan masyarakat. Akan tetapi secara tidak sadar kita menjadi pihak yang mengikuti berbagai macam pemikiran yang sesungguhnya tidak layak untuk diikuti karena bertentangan dengan akidah dan hukum yang diyakini oleh seorang muslim.

Bentuk-bentuk mengidolakan seseorangpun seakan menjadi sebuah permainan agenda para kapitalis dalam rangka memasyarakatkan peradaban dan mengeruk nilai ekonomi di dalamnya. Keberadaan idola-idola dalam sebuah balutan ajang pencarian bakat dan yang lainnya bukanlah sebatas ingin memunculkan sosok idola di tengah-tengah masyarakat. Akan tetapi ada nilai ekonomi yang sangat tinggi di dalamnya. Keberadaan idola dalam dunia entertainment memiliki nilai ekonomi yang berujung pada pengerukan kekayaan masyarakat untuk kepentingan bisnis para kapitalis. Ujung dari keberadaan idola-idola itu adalah untuk memasyarakatkan atau menjual apa yang biasa disebut dengan food, fashion, and fun (3F). Konsep idola dibentuk karena dalam rangka untuk memasyarakatkan ketiga hal tersebut. Siapa yang tidak tahu seberapa besar hasil yang didapatkan dari dunia perfilman hollywood. Seperti tahun 2012 saja dari sepuluh film terlaris yang diproduksi Hollywood berapa triliun yang dihasilkan. Berdasarkan data dari sepuluh film terlaris tahun 2012 saja dihasilkan tidak kurang dari 85 triliun dihasilkan, padahal selama 2012 berapa ratus film yang dihasilkan oleh Hollywood yang dipasarkan ke seluruh dunia (Kompas: 27 Desember 2012). Demikian juga dengan makanan dengan tagline produksi barat seperti KFC misalnya yang pada semester I tahun 2012 saja sudah membukukan pendapatan sejumlah 1,77 triliun rupiah (Kontan: 4 September 2012).

 

The Real Idol is Muhammad Saw

Masyarakat secara umum bisa memiliki idola atau bahkan memunculkan seorang idola baru dengan berbagai macam kamuflase yang dibentuknya. Namun kita sebagai seorang muslim menganggap bahwa idola sesungguhnya bagi kita adalah Rasulullah Muhammad Saw. Rasululullah adalah “The One of Idol for Moslem”. Tidak ada idola lain yang layak diikuti oleh seorang muslim melainkan Rasulullah Muhammad Saw.

Selanjutnya adalah menentukan sikap kita yang menjadikan Rasulullah sebagai idola kita. Apakah cukup hanya berikrar bahwa kita mengidolakan Beliau? Jawabannya tentu tidak. Sebagai seorang muslim tentu kita ingat dengan ikrar seorang muslim yang menyaksikan bahwa Muhammad Saw adalah utusan Allah. Ikrar ini bukanlah sekedar ikrar biasa bagi seorang muslim. Ikrar tersebut harusnya memiliki konsekuensi yang sangat luar biasa bagi seorang muslim karena ikrar itu juga menunjukkan keyakinan atas keimanan kepada Rasulullah Muhammad Saw. Keyakinan atas keimanan kepada Rasulullahpun memiliki konsekwensi yang besar. Beriman kepada Rasulullah menunjukkan iman kita kepada Allah, dan beriman kepada Rasulullah mengharuskan kita mengikuti ajaran dan syariat yang dibawa oleh Rasulullah Saw.

Mengikuti syariat Rasulullah adalah sebuah hal yang pasti dan wajib bagi seorang muslim. Hal ini sebagai firman Allah Swt:

Apa saja yang dibawa Rasul kepada kalian maka terimalah dan apa saja yang dilarangnya atas kalian, maka tinggalkanlah dan bertaqwalah kalian kepada Allah. Sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya. (QS. Al Hasyr: 7).

Demikian juga dalam firman-Nya yang lain:’

Tidaklah patut bagi laki-laki mukmin maupun bagi perempuan mukmin, jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada bagi mereka pilihan (yang lain) tentang urusan mereka. Siapa saja yang mendurhakai Allah dan rasulnya maka sesungguhnya dia telah sesat secara nyata. (QS Al Ahzab: 36).

            Dalil-dalil di atas secara gamblang menjelaskan bagaimana seorang muslim, seorang mukmin berkewajiban mengikuti apa yang dibawa oleh Rasulullah. Dalil tersebut merupakan dalil yang qath’i tsubut dan qath’i dilalah tentang kewajiban seseorang mengikuti syariat Rasul. Syariat Rasul adalah syariat yang diturunkan oleh Allah untuk umat manusia tidak pandang bulu syariat apapun.

Kewajiban mentaati apa yang dibawa oleh Rasulullah juga jangan sampai dikerdilkan dengan pemaknaan yang salah. Mentaati Rasul adalah dengan mengambil apa yang sudah ditetapkan oleh Rasulullah. Apa yang dibawa oleh Rasulullah adalah syariat Islam yang mengatur semua aspek kehidupan manusia berkaitan dengan hubungan manusia dengan Allah, hubungan manusia dengan dirinya sendiri, dan hubungan manusia dengan manusia lain. Tiga aspek inilah yang ada dalam kehidupan manusia dan wajib diambil dari apa yang telah disyariatkan oleh Allah melalui Rasul-Nya.

Jangan sampai memberikan makna yang kerdil mengikuti Rasulullah hanya dalam persoalan ibadah ritual saja lalu meninggalkan persoalan lain dengan hukum atau syariat lain. Tentu langkah itu merupakan langkah yang salah kaprah dalam memaknai ketaatan kepada Allah Swt dan Rasul-Nya. Upaya pengkerdilan terhadap kewajiban mengambil syariat Allah adalah upaya untuk menjauhkan umat Islam dari kemuliaan atas keberadaan syariat Islam yang fitrah bagi seorang manusia.

Sehingga makna sesungguhnya adalah diwujudkan dengan mengikuti apa yang Rasul bawa kepada kita. Tidak pandang bulu apakah itu persoalan ritual, persoalan tata negara, keluarga, atau apapun. Karena sesugguhnya syariat yang dibawa oleh Rasul adalah syariat yang sempurna dan syariat yang komprehensif dalam menyelesaikan seluruh persoalan kehidupan dari waktu ke waktu.

Meskipun kita juga patut memberikan catatan bahwa meneladani Rasulullah juga tidak dilakukan secara membabi buta. Karena dalam meneladani Rasulullah pun juga perlu membedakan antara hal yang tergolong perbuatan jibiliyah (perbuatan yang merupakan tabiat manusia, seperti duduk, makan, minum, dan sebagainya) dan perbuatan  Rasulullah sebagai seorang Rasul. Yang harus kita ikuti sepenuhnya adalah apa yang dibawa Muhammad Saw sebagai seorang Rasul dengan berbagai syariat yang sudah dibawanya. Adapun sebagai seorang manusia biasa, bagi kita seorang muslim tidak harus mengikuti sepenuhnya karena hal tersebut bukan merupakan syariat seperti contoh jenis makanan Rasulullah berupa kurma, dan hal-hal lain selebihnya.

Demikian juga, kaum muslimin juga jangan terjebak dengan istilah keteladanan. Banyak kalangan yang menyatakan bahwa untuk menjadi masyarakat yang baik maka diperlukan keteladanan oleh para pemimpin-pemimpin negeri atau masyarakat. Seolah adanya kebutuhan bagi masyarakat untuk meneladani para pemimpin atau para tokoh masyarakat untuk menjadi masyarakat yang baik. Sesungguhnya keteladanan hanya boleh dilakukan oleh kaum muslimin kepada Rasulullah. Tidak diperlukan bahkan tidak diperbolehkan meneladani siapapun kecuali Rasulullah. Bahkan seorang kepala negara/khalifah pun tidak boleh untuk dijadikan teladan. Karena seorang khalifah adalah objek yang dihukumi bukan sumber hukum. Berbeda dengan Rasulullah yang merupakan sumber hukum karena apa yang diucapkan, yang diperbuat, dan diamnya Beliau adalah sebuah bentuk sumber hukum yaitu As Sunnah. Sehingga meneladani selain Rasulullah adalah sebuah keteladanan yang salah kaprah. Meneladani kepemimpinan adalah dengan jalan meneladani Rasulullah dalam hal kepemimpinan. Bagaimana umat memiliki kepemimpinan berfikir yang benar yaitu berdasarkan akidah dan hukum yang benar yaitu Islam. Jangan mengaku meneladani kepemimpinan Rasulullah jika kepemimpinan berfikir kita bukan kepemimpinan berfikir Islam melainkan kepemimpinan berfikir yang kufur.

Ikhtitam

Sebagai seorang muslim yang sudah berikrar bahwa Muhammad adalah Rasulullah maka akan menjadi sebuah motivasi besar bagi kita yang menjadi bagian dari kaum muslimin untuk mengikuti apa yang sudah Allah syariatkan melalui Rasul-Nya Muhammad Saw. Patut kita berupaya untuk mengambil kemuliaan atas kemuliaan yang Allah janjikan bagi hambanya yang mau mengikuti dan mencintai Allah dan Rasulnya. Semoga kita menjadi orang-orang yang diberi kemuliaan oleh Allah atas upaya kita dalam rangka ketaatan kepada Allah Swt. Dan semoga kita menjadi hamba-hamba yang dicintai oleh Allah Swt. Allah berfirman dalam surat Ali Imran ayat 31:

Jika Kalian (benar-benar) mencintai Allah, maka ikutilah aku, niscaya Allah mencintai kalian dan mengampuni dosa-dosa kalian, Alah Maha pengampun lagi Maha penyayang. Wallahu a’lamu bishawab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s