SIAPAKAH KAUM MUSLIMIN ITU????

Apakah pengikut para rasul sebelum Muhammad SAW itu kaum muslimin?

Apakah pengikut Ibrahim AS itu kaum muslimin?

Ataukah orang-orang Yahudi dan Nashrani itu kaum muslimin?

Terkadang banyak dari kaum muslimin menganggap aneh terhadap pertanyaan-pertanyaan di atas, mereka menganggapnya termasuk bab mencari-cari masalah dan kepandaian memutarbalikkan keadaan. Akan tetapi anggapan aneh mereka pasti akan hilang ketika mereka mau berpikir dan berangan-angan dalam slogan-slogan buatan yang populer pada hari ini, pada akhir-akhir abad ke dua puluh masehi, seperti; slogan peradaban universal, kesatuan agama, perdamaian dunia, slogan anak cucu Ibrahim, dan lain-lain dari slogan yang banyak. Sebagian slogan-slogan tersebut benar-benar telah diterjemahkan pada kurikulum pendidikan dalam studi-studi ilmiah khusus untuk anak-anak kaum muslimin, juga pada berbagai seminar dan konferensi internasional yang dihadiri sebagian ulama kaum muslimin disamping para kardinal dan para rabbi (pendeta Yahudi). Tidak untuk mengajak mereka memeluk Islam dan tidak pula untuk membantah mereka dengan bantahan yang lebih baik sehingga mereka meninggalkan kekufuran, tetapi agar mereka meninggalkan hukum-hukum Islam yang agung seperti khilafah, jihad, dan hukum hudud, karena semuanya –menurut prasangka mereka– adalah fundamentalisme dan ekstrimisme. Dan untuk menggabungkan pemikiran-pemikiran asing kepada Islam seperti Demokrasi –menurut prasangka mereka– merupakan toleransi dan kemajuan. Berdasarkan ini, kaum muslimin harus memelihara undang-undang impor mereka dan harus rela dengan institusi-institusi nasionalisme mereka yang lemah, juga harus mengakui legalitas negara Israel di atas negeri mereka, karena orang Yahudi merupakan anak cucu Ibrahim, dan mereka juga anak cucu pamannya. Mereka juga harus menerima kebudayaan Barat serta derivatnya, yaitu paham serba boleh dan penyimpangan-penyimpangan lain karena berupa kebudayaan universal. Bahkan mereka juga harus menerima dengan kemurtadan anak cucu mereka jauh meninggalkan Islam karena merupakan kebebasan berakidah.

Dan pada akhirnya kaum muslimin juga dipaksa agar tidak menyifati orang-orang non Islam seperti Yahudi dan Nashrani dengan sifat kafir, karena mereka juga sama-sama beriman dan penganut agama-agama langit, dan Allah benar-benar telah menyifati mereka –sebagaimana perkataan mereka–dalam Al Quran bahwa mereka adalah orang-orang muslim!

Benarkah dakwah terakhir ini? Dan pada hari ini, siapakah kaum muslimin itu?

Untuk menjawabnya membutuhkan dua pembahasan: pertama adalah pembahasan etimologi dan kedua pembahasan terminologi menurut syara’.

Secara etimologi, sesungguhnya lafadz أسْلَمَ bermakna tunduk (إنْقادُ). Al Quran Al-Karim telah menggunakan makna ini dalam menuturkan para pengikut nabi-nabi sebelum Muhammad, yaitu mereka yang membenarkan dan mengikuti para nabi itu, melalui lisan Nabi Nus AS. Allah berfirman:

فَإِنْ تَوَلَّيْتُمْ فَمَا سَأَلْتُكُمْ مِنْ أَجْرٍ إِنْ أَجْرِيَ إِلَّا عَلَى اللَّهِ وَأُمِرْتُ أَنْ أَكُونَ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Jika kalian berpaling dari peringatanku, aku tidak meminta upah sedikit pun kepada kalian. Upahku tidak lain hanyalah dari Allah belaka, dan aku disuruh supaya aku termasuk golongan orang-orang yang berserah diri”. (Q.S. Yunus: 72)

Melalui lisan Ibrahim dan Ismail Allah SWT berfirman:

رَبَّنَا وَاجْعَلْنَا مُسْلِمَيْنِ لَكَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِنَا أُمَّةً مُسْلِمَةً

“Dan jadikanlah kami bedua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) di antara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau”. (Q.S. Al-Baqarah: 128)

Tentang kaum Luth Allah SWT berfirman:

فَمَا وَجَدْنَا فِيهَا غَيْرَ بَيْتٍ مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Dan Kami tidak mendapati di negeri itu kecuali sebuah rumah dari orang yang berserah diri.” (Q.S. Adz-Dzariyat: 36)

Dan melalui lisan Nabi Yusuf, Dia berfirman:

تَوَفَّنِي مُسْلِمًا وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ

“Wafatkanlah aku dalam keadaan Islam dan gabungkanlah aku dengan orang-orang shaleh”. (Q.S. Yusuf: 101 )

Melalui lisan Musa AS, Dia berfirman:

فَعَلَيْهِ تَوَكَّلُوا إِنْ كُنْتُمْ مُسْلِمِينَ

“Maka bertawakkallah kepadan-Nya, jika kalian benar-benar orang yang berserah diri”. (Q.S. Yunus: 84)

Melalui lisan Nabi Sulaiman kepada ratu negeri Saba. Dia berfirman:

أَلاَّ تَعْلُوا عَلَيَّ وَأْتُونِي مُسْلِمِينَ

“Janganlah kamu sekalian berlaku sombong terhadapku, dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri/muslimin”. (Q.S. An-Naml: 31)

Dan melalui lisan Hawariyin pengikut Nabi Isa, Allah SWT berfirman:

فَلَمَّا أَحَسَّ عِيسَى مِنْهُمُ الْكُفْرَ قَالَ مَنْ أَنْصَارِي إِلَى اللَّهِ قَالَ الْحَوَارِيُّونَ نَحْنُ أَنْصَارُ اللَّهِ ءَامَنَّا بِاللَّهِ وَاشْهَدْ بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

“Maka tatkala Isa mengetahui keingkaran mereka (Bani Israil) berkatalah dia;”Siapakah yang akan menjadi penolongku untuk (menegakkan agama) Allah? “Para  Hawariyin setia menjawab: ”Kamilah penolong-penolong agama Allah. Kami beriman kepada Allah; dan saksikanlah bahwa sesungguhnya kami adalah orang-orang yang berserah diri”. (Q.S. Ali Imran: 52)

Kataمُسْلِمُوْنَ  pada ayat-ayat di atas bermakna مُنْقادُوْنَ orang-orang yang tunduk pasrah/berserah diri kepada Allah dalam apa saja yang diperintahkan kepada mereka, tidak berarti bahwa mereka memeluk Islam, yaitu agama yang telah diturunkan kepada Muhammad SAW, karena agama ini tidak dikenal oleh mereka dan mereka pun tidak diseru dengannya. Setiap kaum mempunyai rasul dari mereka yang tertentu dengan mereka, dan Allah telah mengutusnya dengan membawa syariat tertentu pula. Allah SWT berfirman:

لِكُلٍّ جَعَلْنَا مِنْكُمْ شِرْعَةً وَمِنْهَاجًا

“Untuk tiap-tiap umat di antara kalian, kami berikan syariat dan jalan yang terang”. (Q.S. Al-Maidah: 48)

Walaupun sesungguhnya akidah itu satu, seperti dipahami dari firman-Nya:

إِنَّا أَوْحَيْنَا إِلَيْكَ كَمَا أَوْحَيْنَا إِلَى نُوحٍ وَالنَّبِيِّينَ مِنْ بَعْدِهِ

“Sesungguhnya Kami telah memberi wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi setelahnya”. (Q.S. An-Nisa’: 163)

Setelah wahyu turun kepada Rasulullah SAW dengan bahasa kaumnya yaitu bahasa arab, wahyu memakai sebagian lafadz-lafadz, lalu makna lafadz-lafadz lughawi wadh’iy (bahasa buatan manusia) ditransfer ke makna syar’i sebagaimana telah ditunjukkan oleh nash-nash Al Quran dan As Sunnah. Termasuk lafadz-lafadz tersebut adalah lafadz  اَلإسْلامُ  yang makna bahasanya adalah tunduk patuh (الإنْقِيَادُ). Lalu maknanya menjadi agama yang telah diturunkan Allah kepada Muhammad SAW. Dalilnya berupa firman Allah:

وَرَضِيتُ لَكُمُ الْإِسْلَامَ دِينًا

“Dan telah Aku ridhoi Islam itu menjadi agama bagi kalian”. (Q.S. Al-Maidah: 3)

Dan firman-Nya:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ

“Barangsiapa mencari agama selain Islam, sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya”. (Q.S. Ali Imran: 85)

Dan sabda Nabi saw :

بُنِيَ الإسْلامُ على خَمْسٍ…

“Islam dibangun di atas lima rukun…” (H.R. Bukhari dan Muslim)

Dan setelah penukilan secara syar’i terhadap lafadz-lafadz اَلإسْلامُ dan derivatnya, sehingga lafadz  أسْلَمَ, مُسْلِمٌ, dan  إسْلامٌ ketika lafadz-lafadz tersebut disebut dengan tanpa adanya indikasi tertentu, maka lafadz-lafadz itu menunjukkan hanya terhadap makna syar’i. Apabila dikehendaki makna lughowi wadh’iy, maka membutuhkan indikasi untuk memalingkan dari makna syar’inya. Di dalam Al Quran, lafadz اَلإسْلامُ tidaklah datang kecuali pada delapan tempat yang semuanya hanya mempunyai satu makna, yaitu agama yang telah diturunkan Allah kepada Nabi Muhammad SAW.

Itulah sudut pandang terminologis, dan telah cukup untuk mengetahui siapakah kaum munslimin itu? Karena lafadz اَلإسْلامُ telah menjadi haqiqoh lughawiyah syar’iyah, seperti telah ditunjukkan oleh nash-nash syara’ dengan sangat jelas dan gamblang.

Sedangkan sudut pandang dari sisi syar’i, maka sesungguhnya Allah SWT telah mengutus Muhammad SAW kepada semua manusia dengan menyeru mereka supaya meninggalkan agama-agama yang telah dipeluknya, baik agama-agama samawi maupun non samawi. Dan agar manusia mengambil Islam sebagai agama mereka, maka siapa saja menerimanya, berarti ia orang Islam, dan siapa saja tidak menerimanya, maka ia menjadi orang kafir, baik orang Yahudi, atau orang Nashrani, atau orang musyrik. Allah SWT berfirman:

لَمْ يَكُنِ الَّذِينَ كَفَرُوا مِنْ أَهْلِ الْكِتَابِ وَالْمُشْرِكِينَ مُنْفَكِّينَ حَتَّى تَأْتِيَهُمُ الْبَيِّنَةُ

“Orang-orang kafir, yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata”. (Q.S. Al-Bayyinah: 1)

Kata مُنفَكِيْنَ bermakna memisahkan/meninggalkan kekufuran, dan kata اَلبَينَة bermakna Islam. Dan Nabi SAW bersabda:

اُمِرْتُ أنْ أُقَاتِلَ النَّاسَ حَتَّى يَقُولُوا لاَ إلَهَ إلاَّ اللهُ فَإذَا قَالُوهَا عَصَمُوا مِنِّي دِمَاءَهُمْ وَأمْوَا لَهُمْ إلاَّ بِحَقِّهَا

“Aku diperintahkan supaya memerangi manusia sampai mereka berkata Tiada Tuhan Selain Allah dan bahwa Muhammad utusan Allah, lalu apabila mereka telah mengucapkannya, maka mereka telah terjaga dariku darah dan harta mereka kecuali dengan haknya”. (H.R. Muslim dari Ibnu Umar r.a)

Maka semua manusia telah dituntut sehingga mereka tidak diperangi oleh orang-orang muslim yaitu memeluk agama Islam atau tunduk pada hukum-hukum Islam dan mereka dibiarkan tetap atas agama mereka. Nabi SAW bersabda:

وَالَّذِيْ نَفْسُ مُحَمَّدٍ بِيَدِهِ لاَيَسْمَعُ بِيْ أحَدٌ مِنْ هَذِهِ الاُمَّةِ يَهُوديٌّ ولانَصْرَانِيٌّ ثُمَّ يَمُوتُ وَلَمْ يَؤْمِنْ بِالَذِيْ اُرْسِلْتُ بِهِ إلاَّكَانَ مِنْ اَصْحَابِ النَّار

“Demi dzat yang jiwa Muhmmad tetap dalam kekuasaan-Nya, tidaklah seseorang dari umat ini mendengar dengan (kerasulanku), Yahudi atau Nashrani, kemudian dia mati dalam keadaan tidak beriman dengan agama dimana aku diutus dengannya, kecuali dia menjadi penduduk neraka.

Dan Allah SWT berfirman:

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ اْلإِسْلاّمِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي اْلآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Siapa saja mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) darinya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi”. (Q.S. Ali Imran: 85)

Dalil-dalil yang datang sangat banyak dan pasti, menunjukkan bahwa sesungguhnya Islam adalah agama yang telah diturunkan oleh Allah kepada Muhammmad SAW dan sesungguhnya manusia, semuanya sampai hari kiamat diajak untuk memeluk agama Islam ini dan diseru dengan hukum-hukumnya. Maka siapa saja memeluk Islam, ia adalah muslim, dan siapa saja yang tidak memeluk Islam, maka ia adalah kafir, secara pasti.

Sesungguhnya setiap orang yang berkeyakinan bahwa orang Yahudi atau Nashrani atau lainnya setelah Islam sampai kepada mereka adalah orang-orang mukmin, atau muslim atau termasuk penduduk surga, maka ia adalah kafir dan keluar dari agama Islam. Karena ia dengan keyakinannya itu telah mengingkari nash-nash syariat yang pasti sumbernya dan pengertiannya. Ia harus kembali dari keyakinannya itu dan beristighfar kepada Allah. Jika tidak kembali, ia telah menjadi kafir dan akan menjadi penghuni neraka kalau mati tetap dalam keadaan seperti itu.

Setelah penjelasan tersebut, kami benar-benar telah menjawab pertanyaan: Pada hari ini, siapakah kaum muslimin itu? Dan telah menjawab maksud lafadz المُسْلِمُوْنَ  yang telah datang dalam Al Quran Al-Karim, yaitu dengan menisbatkannya kepada para pengikut nabi-nabi sebelum Muhammad SAW.

Dengan begitu, slogan-slogan, propaganda-propaganda, pemikiran-pemikiran dan koferensi-konferensi yang mengumandangkan kesatuan agama-agama, dan komunitas internasional, semuanya hanyalah serangan dari rangkaian serangan yang telah dirancang oleh musuh-musuh Islam dan kaki tangan mereka terhadap umat ini untuk mencampuradukkan dan melelehkan pemikiran-pemikiran Islam, dan untuk memalingkan kaum muslimin dari agama mereka yang benar dengan menggempur ikatan akidah Islam yang ada pada mereka dan menggantinya dengan ikatan-ikatan yang rendah dan terbelakang seperti patriotisme dan nasionalisme, dan ikatan anak cucu Ibrahim AS. Semua itu adalah untuk memudahkan dalam menggempur dan melumat umat, termasuk mencegah mereka meniti kebangkitan yang benar, yaitu dengan mendirikan Negara Khilafah yang akan menyatukan umat dan membimbing mereka kepada tangga ketinggian dan kekuatan. Allah SWT berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ

“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara”. (Q.S. Al-Hujurat: 10)

Dan Rasulullah SAW bersabada:

الْمُسْلِمُ أخُوالْمُسْلِمِ

“Orang muslim adalah saudara orang muslim”. (H.R.Muslim dari Ibnu Umar r.a)

Dalam nash syara’ manapun tidak dijumpai bahwa orang Yahudi atau orang Nashrani itu adalah bersaudara dengan orang-orang muslim, bahkan Allah SWT berfirman tentang mereka:

وَلَمَّا جَاءَهُمْ كِتَابٌ مِنْ عِنْدِ اللَّهِ مُصَدِّقٌ لِمَا مَعَهُمْ وَكَانُوا مِنْ قَبْلُ يَسْتَفْتِحُونَ عَلَى الَّذِينَ كَفَرُوا فَلَمَّا جَاءَهُمْ مَا عَرَفُوا كَفَرُوا بِهِ فَلَعْنَةُ اللَّهِ  عَلَى الْكَافِرِينَ

“Dan setelah datang kepada mereka Al Quran dari Allah yang membenarkan apa yang ada pada mereka, padahal sebelumnya mereka biasa memohon (kedatangan Nabi) untuk mendapat kemenangan atas orang-orang kafir, maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar kepadanya. Maka laknat Allah atas orang-orang yang ingkar itu”. (Q.S. Al-Baqarah: 89)

Allah berfirman:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا لاّ تَتَّخِذُوا الْيَهُودَ وَالنَّصَارَى أَوْلِيَاءَ بَعْضُهُمْ أَوْلِيَاءُ بَعْضٍ وَمَنْ يَتَوَلَّهُمْ مِنْكُمْ فَإِنَّهُ مِنْهُمْ

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mengambil orang-orang Yahudi dan Nashrani menjadi pemimpin-pemimpin (kalian); sebagian mereka adalah pemimpin sebagian yang lain. Siapa saja di antara kalian mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka”. (Q.S. Al-Maidah: 51)

Dan Al Quran benar-benar telah menegaskan dengan jelas tentang Ibrahim berlepas diri dari Yahudi dan Nashrani, Allah berfirman:

مَا كَانَ إِبْرَاهِيمُ يَهُودِيًّا وَلاَ نَصْرَانِيًّا وَلَكِنْ كَانَ حَنِيفًا مُسْلِمًا وَمَا كَانَ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Ibrahim bukanlah seorang Yahudi dan bukan pula seorang Nashrani, akan tetapi dia adalah seorang yang lurus lagi berserah diri (kepada Allah) dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang musyrik”. (Q.S. Ali Imran: 67)

Ikatan patriotisme atau ikatan ras seperti ikatan anak cucu itu, tidak terpakai secara syara’ seperti ditinggalkannya asas untuk mengatur interaksi manusia. Termasuk dalil terebut adalah kisah Nus AS ketika beliau memohon kepada Allah agar menyelamatkan anak lelakinya dari topan yang membinasakan orang-orang kafir. Allah berfirman:

وَنَادَى نُوحٌ رَبَّهُ فَقَالَ رَبِّ إِنَّ ابْنِي مِنْ أَهْلِي وَإِنَّ وَعْدَكَ الْحَقُّ وَأَنْتَ أَحْكَمُ الْحَاكِمِينَ () قَالَ يَانُوحُ إِنَّهُ لَيْسَ مِنْ أَهْلِكَ إِنَّهُ عَمَلٌ غَيْرُ صَالِحٍ

“Dan Nuh berseru kepada Tuhannya sambil berkata: ‘Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji Engkau itulah benar. Dan Engkau adalah hakim yang seadil-adilnya’. Allah berfirman: ’Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu (yang dijanjikan akan diselamatkan), sesungguhnya (perbuatan)nya perbuatan yang tidak baik”’. (Q.S. Hud: 45-46)

Allah juga berfirman tentang Ibrahim AS:

قَالَ إِنِّي جَاعِلُكَ لِلنَّاسِ إِمَامًا قَالَ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي قَالَ لاَ يَنَالُ عَهْدِي الظَّالِمِينَ

“Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu imam bagi seluruh umat manusia” Ibrahim berkata: ‘(Dan saya mohon juga) dari keturunanku’. Allah berfirman:’Janji-Ku (ini) tidak mengenai orang-orang zhalim’”. (Q.S. Al-Baqarah: 124)

Jadi ikatan kekeluargaan yang mengikat Nuh dengan anaknya dan Ibrahim dengan keturunannya, sama sekali tidak memiliki nilai di hadapan ikatan akidah dan ideologi. Anak lelaki Nuh dalam standar ikatan ini tidak termasuk keluarganya karena ia tidak beriman dengan agama yang telah diturunkan Allah kepada ayahnya. Dan orang-orang yang zhalim dari keturunan Ibrahim, yaitu mereka yang tidak mengikuti agama yang telah diturunkan oleh Allah kepada ayah mereka Ibrahim AS, semua dikecualikan dari janji Allah dengan menjadikan imam bagi seluruh manusia, karena mereka adalah orang-orang zhalim.

Maka propaganda “anak cucu Ibrahim” adalah propaganda fanatisme jahiliyah yang disamarkan. Allah telah melarangnya dengan larangan yang tegas, menyeru dengannya dan dakwah kepadanya adalah haram. Begitu pula setiap dakwah selain Islam seperti kesatuan agama, peradaban universal dan perdamaian dunia, semuanya adalah dakwah yang batil juga tertolak secara syara’, Nabi Muhammad SAW bersabda:

كُلُّ شَيْئٍ لَيْسَ عَلَيْهِ أمْرُنَافَهُوَرَدٌّ

“Setiap sesuatu yang tidak terdapat perintah kami padanya, maka ia tertolak”. (H.R. Muslim dari Aisyah r.a)

Yakni haram dakwah kepadanya dan wajib melawannya karena tidak termasuk Islam. Juga karena maksud seruan tersebut adalah memalingkan kaum muslimin dari agamanya dan dari mengemban dakwah yang benar untuk melangsungkan kehidupan Islam, yaitu dengan mendirikan Negara Khilafah yang akan menerapkan Islam kepada rakyat secara adil dan mengemban Islam sebagai lentera petunjuk ke seluruh dunia. Dengan Islam, Negara Khilafah akan melumat berbagai ikatan jahiliyah yang berdasarkan pada kemanfaatan yang telah diadopsi oleh orang-orang kafir beserta para kaki tangannya dimana mereka selalu berdakwah untuk berbagai ikatan itu. Negara Khilafah akan menghancurkan perngaruh dan kepentingan-kepentingan mereka, dan menghancurkan cita-cita dan harapan mereka sehingga akan lenyap. Allah SWT berfirman:

هُوَلَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ

“Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya (dengan membawa) petunjuk (Al Quran) dan agama yang benar untuk dimenangkannya atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai”. (Q.S. At-Taubah: 33)

Jadi Islam adalah agama yang benar. Allah telah berjanji untuk mengokohkan dan memenangkannya atas semua agama kufur, karena agama-agama yang plural –selain Islam– adalah satu agama yaitu agama kufur. Islam akan menang di atas agama-agama itu. Orang-orang muslim tidak lama lagi dengan seizin Allah akan mendapat pertolongan atas kekuasaan orang-orang yang beraktivitas dengan ikhlas  dan akan membuat hina dina orang-orang kafir, para kaki tangan kafir, dan orang-orang munafik:

إِنَّهُمْ يَرَوْنَهُ بَعِيدًا () وَنَرَاهُ قَرِيبًا

“Sesungguhnya mereka memandang siksaan itu jauh/mustahil. Sedangkan Kami memandangnya dekat/pasti terjadi”. (Q.S. Al-Ma’arij: 6-7)

Sedangkan pemikiran “Dialog antar Agama” adalah pemikiran Kapitalisme, tidak berasal dari Islam. Pemikiran tersebut merupakan salah satu strategi untuk memerangi Islam dan kaum muslimin. Pemikiran itu juga bertujuan memalingkan kaum muslimin dari agamanya, dan menjelaskan bahwa Islam –sebagaimana Nashrani dan Yahudi– adalah agama yang tidak memiliki hubungan dengan (pengaturan) kehidupan. Juga bertujuan menelanjangi Islam dari bagian vitalnya; yaitu politik dengan arti yang benar; yaitu memelihara urusan manusia dengan hukum-hukum Islam, dan membatasi Islam hanya dalam masalah-masalah ibadah dan moral. Mereka –musuh-musuh Islam– berkehendak melepaskan kaum muslimin dari pemikiran mendirikan Negara Islam yang akan menyatukan kaum muslimin dan menerapkan semua aspek agama Islam kepada mereka. Karena sistem ini –menurut dugaan mereka– mengandung perkara-perkara yang tidak modern seperti jihad, sistem sanksi-sanksi, dan pengharaman riba dan zina. Semua perkara tersebut –sebagaimana mereka propagandakan– adalah pemikiran-pemikiran ekstrimis tidak layak utnuk masa sekarang ini, karena bertentangan dengan Demokrasi dan ideologi liberal, juga bertentangan dengan HAM dan hak menetapkan masa depan manusia.

Maka alangkah ajaibnya para ulama kaum msulimin yang ikut serta dalam dialog itu. Dan alangkah ajaibnya kaum muslimin yang diam seribu bahasa terhadap para ulama yang berdialog dengan mengatasnamakan mereka! Apakah para ulama tersebut tidak mengetahui tentang metode mengajak orang-orang non Islam kepada Islam, padahal kaum muslimin benar-benar telah membiasakan aktivitas itu selama tiga belas abad. Selama tiga belas abad itu telah terjadi adu argumentasi dan perdebatan sengit antar kaum muslimin dan orang non Islam, tetapi tidak ada dasar mewujudkan bagian-bagian yang dikerjasamakan di antara mereka, tetapi atas dasar bahwa Islam adalah agama yang benar dan bahwa agama selain Islam adalah batil.

Apakah para ulama itu tidak pernah membaca surat-surat yang dikirimkan oleh Rasulullah SAW kepada raja-raja dan para penguasa pada masanya! Sesungguhnya Rasulullah SAW bersabda pada suratnya yang dikirimkan kepada Heraklius, penguasa Romawi:

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مِنْ مُحَمَّدٍ عَبْدِ اللَّهِ وَرَسُوْلِهِ إلَى هِرَقْلَ عَظِيْمِ الرُّومِ سَلاَمٌ عَلَى مَنِ اتَّبَعَ الْهُدَى اَمَّا بَعْدُ فَاِنِّيْ أدْعُوْكَ بِدِعَايَةِ الْإِسْلَامِ أسْلِمْ تَسْلَمْ وَأسْلِمْ يُؤْتِكَ اللَّهُ أجْرَكَ مَرَّتَيْنِ فَاِنْ تَوَلَّيْتَ فَعَلَيْكَ إثْمُ الأرِيْسِيِّنَ (يَاأَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ )

“Bimillahi arrahman arrahim, dari Muhammad hamba Allah juga Rasul-Nya, kepada Heraklius penguasa Romawi, salam sejahtera atas orang-orang yang meniti petunjuk, amma ba’du: Sesungguhnya aku mengajakmu memeluk Islam, Islamlah maka kamu akan selamat, Islamlah niscaya Allah akan memberimu pahala dua kali. Kalau kamu berpaling, maka kamu memikul dosa kaum Arisiyin, dan: ‘Hai ahli kitab, marilah kepada satu kalimat (ketetapan) yang tidak ada peselisihan antara kami dan kalian, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun, dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah’. Jika mereka berpaling, maka katakan kepada mereka: ‘Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)’”. (Q.S. Ali Imran: 64)

Jadi dakwah kita kepada mereka juga bantahan kita kepada mereka tidak berarti kita mengakui agama mereka. Akan tetapi menjelaskan kepada mereka bahwa mereka itu orang-orang kafir, dan Allah menyuruh mereka meninggalkan agama yang mereka peluk dan memeluk agama Islam. Kemudian kalau mereka berpaling dari dakwah ini, maka kita harus berani terang-terangan dalam menyeru mereka, yaitu dengan mengatakan kepada mereka: “Kami telah menyampaikan kepada kalian akan agama yang Allah menyeru kami dengannya. Maka kalian adalah orang-orang kafir sedangkan kami adalah orand-orang Islam”.

Sedangkan firman Allah yang telah dijadikan argumentasi oleh sebagian mereka, yaitu firman-Nya:

وَلاّ تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلاَّ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

“Dan janganlah kalian berdebat dengan ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik” (Q.S. Al-Ankabut: 46)

Maka mereka telah berpura-pura lupa dengan sisa ayat itu. Allah berfirman:

…إِلاَّ الَّذِينَ ظَلَمُوا…

“Kecuali dengan orang-prang zhalim di antara mereka” (Q.S. Al-Ankabut: 46)

Maka mereka tidak mendebat orang-orang kafir dengan cara yang paling baik. Apakah ada sesorang yang lebih zhalim daripada orang-orang yang mengekor kepada negara-negara kafir, yaitu mereka yang ikut serta dalam dialog antar agama! Bukankah orang-orang kafir itu telah merapatkan barisan untuk menghancurkan Islam dan kaum muslimin? Bukankah mereka itu telah membagi-bagi negeri-negeri kaum muslimin menjadi institusi-institusi kecil yang lemah dan mereka telah menanam Israel menjadi pisau beracun di (tanah) suci negeri kaum muslimin? Bukankah mereka yang memberi bantuan senjata dan harta kepada Israel untuk membunuh kaum muslimin dan menduduki negeri-negeri mereka? Bukankah mereka yang menopang kekuasaan pemerintah yang berkuasa di negeri-negeri kaum muslimin untuk membunuh dan menahan kaum muslimin dengan mengatasnamakan melawan terorisme dan ekstrimisme? Dan bukankah Paus yang pada hari itu berdialog dengan ulama muslimin adalah Paus yang dahulu pernah mengeluarkan fatwa pada masa Paus Nikhalai pada akhir abad tiga belas masehi dan fatwa itu berbunyi: “Sesungguhnya khianat adalah dosa, akan tetapi menepati janji kepada kaum muslimin adalah lebih banyak dosanya”.

Bukankah mereka yang mencegah penampakan bagi Islam di negeri-negeri mereka ketika mereka melarang wanita muslimat mengenakan pakaian syar’inya seperti jilbab di sekolah-sekolah dan mereka menyuruh menanggalkan (pakaian) wanita muslimat itu? Lalu bagaimana ulama kaum muslimin yang ikut serta dalam dialog antar agama bisa membayangkan bahwa orang-orang kafir itu mau menerima akidah dan pemikiran Islam.

Sesungguhnya dialog itu tidak sebanding, bahkan pemaksaan yang kuat atas yang lemah, tujuannya adalah untuk membunuh semua sisa-sia nafas terakhir orang yang lemah itu dari ikatan akidah Islam. Karena musuh lama tapi baru ini mengerti bahwa akidah Islam beserta pemikiran-pemikiran yang memancar darinya merupakan rahasia kekuatan kaum muslimin. Akidah itu adalah pembangkit yang agresif bagi mereka akan kebangkitan dari ketergelinciran mereka agar kembali kepada sirahnya yang pertama, yaitu menaiki puncak kejayaan dan menduduki kedudukan negara super power di dunia. Ketika itu menjadi musnah di hadapan mereka kekuatan kufur dan kaum kafir dan dihancurkan berbagai kemaslahatan materi mereka juga dihancurkan ideologi kapitalismenya yang telah memuaskan syahwat-syahwat fisik dan keserakahan harta mereka di atas kemiskinan dan kelaparan mayoritas manusia di dunia.

Sesungguhnya dialog antar agama itu tidak menghubungkan pada kekerabatan dalam Islam yang benar, yang telah merasuk ke dalam jiwa mayoritas kaum muslimin. Sesungguhnya ulama yang ikut serta dalam dialog, baik yang mengekor atau yang mendapat bayaran selalu berupaya agar kaum muslimin menerima dengan dilaksanakannya dialog itu, juga menerima dengan berbagai rekomendasi dan pemikiran yang dihasilkan dalam dialog. Tujuannya adalah untuk menghalangi kebangkitan kaum muslimin dengan kebangkitan yang benar.

Maka berhati-hatilah dan waspadalah dari pemikiran-pemikiran buruk tersebut dan dari strategi licik yang dikemas dengan lafadz-lafadz tipuan manis dan memikat. Hendaklah orang-orang yang sadar dari umat ini selalu siaga untuk menolak dengan tegas terhadap berbagai pemikiran dan sistem tersebut dan berdiri di hadapannya untuk memeranginya sehingga tidak sampai meresap pada jiwa kaum muslimin, yaitu mereka yang baru mulai meniti jalan kebangkitannya yang benar. Dan hendaklah meneliti titik tolak pemikiran dialog antar agama itu, juga meneliti sejarah dan para penggagasnya untuk mengungkap berbagai tujuan dan sasaran-sasarannya, lalu menjelaskan kepalsuannya. Selanjutnya berusaha menghadangnya dengan berbagai teknik yang terencana karena semua tadi merupakan pemikiran yang keji yang menimbulkan bahaya terhadap kaum muslimin dan mencampuri akidah Islam dengan kejelekan.

Satu pemikiran pada “SIAPAKAH KAUM MUSLIMIN ITU????

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s