RSBI MAU KEMANA?

الفقير الى الله حرمان انس

(Menawarkan Pendidikan Islam di Saat RSBI Gagal Total)

Proyek besar Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (KEMENDIKBUD) untuk mencetak Sekolah Bertaraf Internasional (SBI) patut dipertanyakan. Betapa tidak, sejak program rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI) diluncurkan pada 2005, hingga kini tak ada satu pun sekolah yang berhasil lolos penilaian menjadi SBI.

Berdasar evaluasi (KEMENDIKBUD), seluruh RSBI di negeri ini belum layak menjadi SBI! Jumlah RSBI di seluruh tanah air mencapai 1.305 sekolah. Terdiri atas level SD, SMP, SMA, dan SMK. Ironisnya, tak satu pun RSBI yang digadang-gadang menjadi SBI itu lolos dalam penilaian.

Kondisi tersebut kontras dengan strategi awal pencanangan program. Waktu itu dirumuskan bahwa sekolah berlabel RSBI hanya cukup berjalan tiga tahun untuk level SD. Artinya, setelah tiga tahun, RSBI level SD itu bisa dinilai layak atau tidak menjadi SBI. Kenyataannya, hingga enam tahun berlalu, tidak ada SD yang layak menjadi SBI.

“Keberadaan RSBI saat ini pendekatannya bukan lagi mengutamakan kualitas untuk memfasilitasi keunggulan. Tapi sekarang justru mengutamakan besaran nilai uang dari para siswanya,” ungkap Ketua PB PGRI, Sulistiyo di Jakarta, Kamis (29/12). (JPPN.com)

“RSBI itu mengandung banyak kelemahan. Yakni diskriminatif, melemahkan nasionalisme, menjadi lahan korupsi. Bahkan, sekarang ini sudah tidak jelas kriterianya. Tapi pemerintah tetap masih saja akan meneruskannya dengan alasan tuntutan Undang-Undang,” keluhnya.

Suyanto mengatakan, SD berlabel RSBI jika ingin naik tingkat menjadi SBI harus menyiapkan minimal 10 persen guru bertitel S-2 atau pascasarjana. Sedangkan untuk tingkat SMP harus ada 20 persen guru lulusan S-2, dan tingkat SMA atau SMK harus ada 30 persen guru bergelar magister jika ingin naik tingkat menjadi SBI. ”Ketentuan komposisi ini masih belum terwujud di RSBI manapun,” kata dia usai memberikan penghargaan siswa pemenang catur tingkat dunia di Jakarta kemarin (3/1). Hampir di seluruh RSBI di negeri ini, pendidik yang tamatan S-2 masih kepala sekolah saja.

RSBI yakni rintisan sekolah berstandard internasional adalah sebuah program pemerintah yang dilakukan di Indonesia. Bertujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia. Dimana yang di tonjolkan adalah menggunakan kata pengantar bahasa inggris, gedung yang tinggi dan laboratorium yang lengkap. Kemudian pengajarnya kualifikasi S2. Sebenarnya RSBI itu mau kemana?

Gagalnya RSBI

Pencarian terhadap model pendidikan, materi apa saja yang akan di ajarkan, standard berhasil-gagalnya dan bagaimana pembiyaannya  sudah termasuk sistem atau ajaran yang dipengaruhi oleh ideologi tertentu dan tidak ada istilah netral. Sehingga memang kaum muslimin wajib mengetahui dan bisa membedakan mana yang madaniyah (benda, sarana dan sains) yang boleh di ambil oleh kaum muslimin dan hadharah (menyangkut pandangan hidup) yang harus mengambil hanya dari Islam. Mengapa kaum muslimin harus membedakan mana yang madaniyah dan hadharah? supaya mereka tidak salah mengambil karena memang  agama Islam adalah agama yang sempurna dan umat Islam wajib mengambil terhadap problem solving tersebut. Namanya sempurna berarti semua masalah atau semua aspek menyangkut pandangan hidup dalam Islam ada. Kalau misalnya tidak ada maka hilanglah kesempurnaan Islam, Sebagaimana yang di firmankan oleh Allah اليوم اكملت لكم دينكم واتممت عليكم نعمتى ورضيت لكم الاسلام دينا (المائدة: ٣) .  Materi yang diajarkan oleh Nabi pada masa awal tumbuhnya Islam di Mekkah yaitu tentang aqidah bukanlah sebuah kebetulan atau karena kecerdasannya tetapi memang diperintahkan oleh Allah sebagaimana dalam Al-Qur’an bahwa sesuatu yang keluar dari Rasulullah bukanlah dari hawa nafsunya tetapi wahyu yang diturunkan oleh Allah  وما ينطق عن الهوى ان هو الا وحى يوحى   dan memang pada faktanya syari’at Islam / ajaran islam tidak ada kesesuaian (taufiq) ketika seseorang tidak mempunyai  keimanan yang kokoh. Keimanan ibarat pondasi sebuah bangunan yang benar-benar harus diperhatikan dan dibina. Sudah sangat banyak contoh kaum muda muslim yang pada masa di pendidikan madrasah diniyah ataupun di pondok-pondok mereka sangat tekun dalam melaksanakan kegiatan agamanya, patuh pada ajaran Islam karena sistem di pesantren atau di madrasah diniyah tersebut mendukung. Tetapi pada saat mereka keluar dari pesantren banyak dari mereka justru tergerus keimanannya bahkan malah mengidola-idolakan barat dalam pemikiran sampai ikut mempromosikan sekulerisme, liberalisme dan pluralisme. Akibat serangan pemahaman tersebut banyak umat Islam yang ikut karena serangan ini halus berupa pemikiran, berbeda dengan serangan  Penjajah Belanda  dan Jepang yang berbentuk penjajahan fisik pada kaum pribumi.

RSBI tak ubahnya tetap sama dengan program-program sebelumnya yakni memisahkan agama dari kehidupan sehingga materi agama sedikit atau bahkan tidak ada. Apalagi yang berlabel sekolah negeri, mereka berapologi bahwa ini adalah sekolah negeri jadi wajar pelajaran agama sedikit. Padahal dalam hadist “Barang siapa yang dikehendaki kebaikan maka dia akan dipahamkan ilmu agama.(H.R Bukhari dan Muslim)

Kurikulum adalah masalah serius jadi tidak boleh menggunakan percobaan atau eksprimen-eksprimen sebagaimana dalam penelitian sains karena didalam pendidikan yang menjadi objeknya adalah orang yang akan meneruskan generasi masa depan. Sebagaimana perkataan dari Imam Malik “Umat yang akan datang tidak akan menjadi lebih baik kecuali ada perbaikan di masa sebelumnya

(لن يصلح اخر هذه الامة الا ان اصلح اولها) sudah banyak output dari kurikulum yang dijalankan saat ini yang merusak Negara atau bahkan lulusan yang tidak jelas kemana arahnya. Sebagaimana juga program RSBI yang disitu hanya mengandalkan kata pengantar berbahasa inggris, kualifikasi gurus S2 dan gedung yang bagus tidak bisa akan membentuk generasi yang akan datang menjadi lebih baik dan mempunyai pandangan hidup yang jelas. Malah terjadi diskriminasi yakni yang kaya saja bisa menikmati sekolah dan terkesan Negara berbisnis dengan rakyatnya dengan pembayaran yang mahal padahal seharusnya pendidikan adalah tanggungjawab Negara. Jadi dalam Islam biaya pendidikan seharusnya gratis tidak hanya Berupa BOS. Jadi tidak benar kalau ada istilah bantuan operasional sekolah. Kewajiban pemerintah adalah menjamin terhadap pendidikan dan BOS  adalah pembodohan terhadap umat. Seakan-akan pemerintah baik membantu rakyatnya. Sebagaimana juga ada istilah bantuan terhadap korban bencana. Sebenarnya semua adalah kewajiban Negara. Jadi kalau Negara telat atau tidak melaksanakan kewajibannya bisa di sanksi.

Kurikulum yang diandalkan juga dalam RSBI adalah menggunakan kata pengantar Bahasa Inggris. Disadari atau tidak dalam Islam bahasa yang digunakan adalah Bahasa Arab. Termasuk penyebab kemunduran kaum muslimin adalah saat Bahasa Arab ditinggalkan sehingga mereka tidak bisa membaca dan mengartikan kitabnya sendiri yakni Al-Qur’an dan Hadist yang menggunakan Bahasa Arab. Padahal Al-Qur’an dan Hadist adalah panduan hidupnya. Allah berfirman

(٧  وما آتاكم الرسول فخذوه وما نهاكم عنه(الحشر:  Mau dibawa kemana arah hidupnya kalau sudah tidak bisa membaca pandangan hidupnya? Kurikulum yang seperti ini tidak akan  melahirkan para mujtahid apalagi dibatasi umur. Ditambah lagi yang banyak diajarkan adalah sains pada tingkat bawah dan menengah. Tetapi mujtahid lahir yang dari tingkat dasar dan menengah diajarkan ilmu Islam (tsaqafah Islam) dan tidak dibatasi usia. Makanya para imam terdahulu sudah hafal Al-Qur’an dibawah umur 10 tahun pun juga faham ilmu pendukungnya seperti Bahasa Arab, Tafsir, Ushul Fiqih, Balaghah dll. Padahal mujtahid dibutuhkan sepanjang zaman untuk menyelesaikan problem-problem kaum muslimin.

Tujuan pendidikan Islam adalah bagaimana mengisi akal atau pemahaman kaum muslimin  dengan pemahaman yang benar baik mengenai aqidah dan hukum Islam. Kemudian membentuk syaksiah islam (kepribadian islam) antara pola pikir dan pola jiwanya sinkron. Misal sudah tahu pemahamannya bahwa mencuri haram maka dengan sekuat tenaga pola jiwanya membenci terhadap pencurian.  Ternyata muncul output dari sistem seperti ini generasi yang unggul seperti sahabat, tabi’ien dan tabi’iet tabi’ien. Dalam kitab Ta’lim tujuan pendidikan seharusnya untuk mendapatkan ridha Allah,  mendapatkan surga, menghilangkan kebodohan, menghidupkan agama Islam dan mengembangkan islam.

Kurikulum yang diajarkan pada tingkat dasar dan menegah adalah masalah tsaqafah islam (ilmu islam) terutama aqidah dan syari’ah kemudian ilmu pendukungnya tafsir, ushul fiqih, nahwu, sharraf dan balaghah. Materi tersebut diajarkan secara intensif sehingga masing-masing orang memahami dengan benar. Materi ini tidak seperti sains yang boleh memilih sesuai hobi atau kecenderungan masing-masing akan tetapi sebuah fardhu ain yang harus dituntut oleh setiap kaum muslimin.  tidak ada dikotomi dalam pendidikan Islam antara ilmu agama dan sains. Sains nanti diajarkan ketika sudah perguruan tinggi sehingga ilmu agama sudah mantap. Kemudian nanti bisa menghukumi sains tersebut sesuai dengan aqidah dan ajaran islam. Ujian yang dipakai adalah lisan bukan tulis. Ujian tulis hanya dipakai kalau memang benar-benar tidak bisa memakai lisan misalnya rumus-rumus seperti matematika. Dari ujian ini seorang syaikh, kyai atau ustadz bisa mengetahui secara pasti kualitas muridnya sehingga nanti bisa merekomendasikan sang murid tersebut pantas atau tidak mengeluarkan pandangan atau pendapat dalam masalah ilmu yang ditekuninya. Bisa dibandingkan dengan produk saat ini yang ujiannya memakai sistem tulisan, sangat banyak kecurangan sana-sini dan tidak jelasnya kemampuan masing-masing murid.

Beberapa ada yang kagum terhadap ulama dan hasil karyanya kaum muslimin dahulu. Jadi mereka sangat ingin melahirkan kembali ulama dan ahli sains seperti zaman dahulu tetapi dalam prosesnya yakni sistem pendidikannya tidak mengambil dari Islam. Sebagaiman dalam kitab Ta’limul Muta’allim “ومن اخطأ الطريق ضل ولا ينال المقصود” (barangsiapa yang salah jalan maka dia akan tersesat dan tidak akan mencapai tujuannya) Tujuan baik seharusnya diikuti dengan metode yang benar dan sesuai dengan yang di contohkan oleh Rasulullah.

Khatimah

Pergantian kurikulum yang hanya sebagai percobaan hanya akan menghasilkan generasi-generasi yang tidak jelas. padahal pemuda sekarang adalah pemimpin di masa depan (الشبان الان رجال الغد) . kita tidak bisa membayangkan bagaimana akhirnya nasib kaum muslimin jika dipimpin oleh generasi tidak jelas yang dihasilkan oleh kurikulum percobaan.  Pada akhirnya kaum muslimin harus kembali ke ajarannya yang sempurna. Mengamalkan  ajaran Islam kaffah, dengan demikian  akan lahir ulama-ulama Islam sebagaimana salafunas shalih. Wallahu A’lam Bisshowab

Tsaqofah Center, 13 Februari 2011 sebelum sholat Jum’at.

2 pemikiran pada “RSBI MAU KEMANA?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s