HIJRAH MENUJU PERADABAN ISLAM

Tak terasa waktu begitu cepat berlalu, tahun 1432 H baru saja terlewati dan masuk di tahun 1433 H. Sudah menjadi sebuah tradisi bahwa sebagian dari umat Islam merayakannya dengan berbagai macam kegiatan. Sebuah kebiasaan yang tidak salah memang bagi kita untuk merayakan Tahun Baru Islam walaupun tidak ada anjuran untuk merayakannya. Tahun baru Islam digunakan sebagai pengingat tentang peristiwa bersejarah yang menjadi titik tolak perjuangan umat Islam dalam menyebarkan risalah Allah SWT.

Yang menjadi pertanyaan bersama bagi kita adalah apakah dengan terus bergantinya tahun demi tahun, waktu demi waktu ini sudah membuat kita berubah pola pikir dan pola sikap terhadap berbagai persoalan. Apakah kita sudah memahami makna dari peristiwa hijrah?

Sejarah Hijrah Rasulullah SAW

Salah satu catatan penting dalam setiap peringatan Tahun Baru Hijriyah adalah peristiwa hijrah Rasulullah dari Mekkah ke Madinah. Peristiwa ini dianggap sebagai titik tolak perjalanan dakwah umat Islam pada saat itu. Berbagai catatan peristiwa penting dalam perjalanan hijrah Rasul menjadi sebuah pelajaran penting bagi umat Islam saat ini.

Diantara peristiwa-peristiwa penting dalam perjalanan hijrah Rasul dari Mekkah ke Madinah adalah antara lain:

Rencana Quraisy untuk membunuh Muhammad pada malam hari, karena dikhawatirkan Rasul akan hijrah ke Madinah dan memperkuat diri di sana serta segala bencana yang mungkin menimpa Mekkah dan menimpa perdagangan mereka dengan Syam sebagai akibatnya, beritanya sudah sampai kepada Muhammad. Memang tidak ada orang yang menyangsikan, bahwa Muhammad akan menggunakan kesempatan itu untuk hijrah. Muhammad sendiri memang masih tinggal di Mekkah ketika ia sudah mengetahui keadaan Quraisy itu dan ketika kaum Muslimin sudah tak ada lagi yang tinggal kecuali sebagian kecil. Sambil menunggu perintah Allah yang akan mewahyukan kepadanya supaya hijrah, ketika itulah ia pergi ke rumah Abu Bakar dan memberitahukan, bahwa Allah telah mengijinkan ia hijrah. Dimintanya Abu Bakar supaya menemaninya dalam hijrahnya itu, yang lalu diterima baik oleh Abu Bakar. Di sinilah dimulainya kisah yang paling cemerlang dan indah yang pernah dikenal manusia dalam sejarah pengejaran yang penuh bahaya demi kebenaran, keyakinan, dan iman.

Peristiwa lainnya adalah peristiwa Ali menggantikan Rasul di tempat tidur beliau. Pemuda-pemuda yang sudah disiapkan Quraisy untuk membunuhnya malam itu sudah mengepung rumahnya, karena dikhawatirkan Rasul akan lari. Pada malam akan hijrah itu pula Muhammad membisikkan kepada Ali bin Abi Thalib supaya memakai mantelnya dan supaya berbaring di tempat tidurnya. Dimintanya supaya sepeninggalnya nanti ia tinggal dulu di Mekkah menyelesaikan barang-barang amanat orang yang dititipkan kepadanya. Kaum Quraisy mengintip dari sebuah celah ke tempat tidur Rasul. Mereka melihat ada sesosok tubuh di tempat tidur itu dan mereka terkejut ketika dibalik selimut bukanlah Rasulullah melainkan Ali.

Peristiwa di Gua Tsur menjadi catatan penting dalam perjalanan Hijrah Rasul. Menjelang larut malam waktu itu, tanpa sepengetahuan mereka, Muhammad sudah keluar menuju ke rumah Abu Bakar.

Rasul dan Abu Bakar kemudian keluar dari jendela pintu belakang, dan terus bertolak ke arah selatan menuju Gua Tsur. Tujuan kedua orang itu melalui jalan sebelah kanan adalah di luar dugaan. Rasul dan Abu Bakar tinggal dalam gua selama tiga hari. Sementara itu pihak Quraisy berusaha mencari mereka tanpa mengenal lelah. Kaum Quraisy melihat bahaya sangat mengancam mereka kalau mereka tidak berhasil menyusul Muhammad dan mencegahnya berhubungan dengan pihak Yatsrib. Selama Rasul dan Abu Bakar berada dalam gua, tiada hentinya Muhammad menyebut nama Allah. Rasulullah menyerahkan nasibnya itu hanya kepada Allah SWT dan memang kepada-Nya pula segala persoalan akan kembali. Dalam kondisi tersebut Abu Bakar memasang telinga. Ia ingin mengetahui apakah orang-orang yang sedang mengikuti jejak mereka itu sudah berhasil juga.

Dalam buku-buku hadits ada juga sumber yang menyebutkan, bahwa setelah terasa oleh Abu Bakar bahwa mereka yang mencari itu sudah mendekat ia berkata dengan berbisik: “Kalau mereka ada yang menengok ke bawah pasti akan melihat kita”. “Abu Bakar, kalau kau menduga bahwa kita hanya berdua, ketiganya adalah Tuhan,” kata Muhammad.

Orang-orang Quraisy semakin yakin bahwa dalam gua itu tidak ada manusia tatkala dilihatnya ada cabang pohon yang terkulai di mulut gua. Tak ada jalan orang akan dapat masuk ke dalamnya tanpa menghalau dahan-dahan itu. Ketika itulah mereka lalu surut kembali. Kepercayaan dan iman Abu Bakar bertambah besar kepada Allah dan kepada Rasul.

Sarang laba-laba, dua ekor burung dara, dan pohon merupakan mukjizat yang diceritakan oleh buku-buku sejarah hidup Nabi mengenai masalah persembunyian dalam Gua Tsur itu. Dan pokok mukjizatnya ialah karena segalanya itu tadinya tidak ada. Tetapi sesudah Nabi dan sahabatnya bersembunyi dalam gua, maka cepat-cepatlah laba-laba menganyam sarangnya guna menutup orang yang dalam gua itu dari penglihatan. Dua ekor burung dara datang pula lalu bertelur di jalan masuk. Sebatang pohonpun tumbuh di tempat yang tadinya belum ditumbuhi.

Tentang pengejaran Quraisy terhadap Muhammad untuk dibunuh itu diabadikan dalam Firman Allah: “Dan (ingatlah) ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan tipu daya terhadap (Muhammad) untuk menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya.” (TQS. Al Anfaal: 30)

“Jika kamu tidak menolongnya (Muhammad), sesungguhnya Allah telah menolongnya (yaitu) ketika orang-orang kafir mengusirnya (dari Makkah); sedang dia salah seorang dari dua orang ketika keduanya berada dalam gua, ketika itu dia berkata kepada sahabatnya, “Jangan engkau bersedih, sesungguhnya Allah bersama kita”. Maka Allah menurunkan ketenangan kepadanya (Muhammad) dan membantu dengan bala tentara (malaikat-malaikat) yang tidak terlihat olehmu, dan Dia menjadikan seruan orang-orang kafir itu rendah. Dan firman Allah itulah yang tinggi. Allah Maha Perkasa dan Bijaksana.” (TQS. At Taubah: 40).

Hijrah Menuju Peradaban Islam

Pergantian Tahun Baru Hijriyah tidak harus dirayakan oleh umat Islam karena memang tidak ada perintah untuk melakukan itu. Akan tetapi bagaimana kaum muslimin bisa mengambil sejarah mengapa Hijrah dijadikan sebuah titik tolak penanggalan tahun di dalam Islam. Mengikuti pergantian Tahun Baru Hijriyah adalah untuk mengingatkan kita pada sejarah kejayaan Peradaban Islam pada masa lalu. Dengan demikian, umat Islam dapat mengambil Peradaban Islam untuk diterapkan kembali dalam kehidupan saat ini dan yang akan datang sebagaimana Peradaban Islam yang pernah dibangun oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya serta generasi-generasi Islam berikutnya hingga keruntuhan peradaban Islam Utsmaniyah di Turki Tahun 1924 atau 1346 H sekitar 86 tahun yang lalu.

Pada masa pemerintahan Umar bin Khathab dan generasi-generasi Islam berikutnya tidak ada yang namanya perayaan tahun baru sebagaimana yang terjadi dalam perayaan tahun baru masehi, apalagi perayaan yang penuh dengan hura-hura seperti gaya pengikut hedonisme. Para sahabat dan generasi-generasi Islam pada masa peradaban Islam paham betul akan budaya/peradaban yang sesuai dengan Islam maupun yang bertentangan, mereka senantiasa berpikir berlandaskan Aqidah dan Hukum Islam. Bagi mereka, pergantian tahun, bulan, dan hari pada masa lalu adalah sebagai renungan atas perbuatan-perbuatan yang telah dilakukan dan dalam rangka ibadah mendekatkan diri kepada Allah SWT seperti untuk penentuan puasa wajib ramadhan maupun puasa-puasa sunnah, haji, dll. Mereka menjadikan kalender hijriyah sebagai acuan dalam pelaksanaan ibadah fardhiyah maupun untuk pengaturan urusan-urusan negara. Umat Islam saat ini seharusnya menjadikan kalender hijriyah dalam setiap harinya atau setiap bulannya bahkan setiap tahunnya sebagai acuan dalam menyemai dan melestarikan peradaban Islam.

Umat Islam kini telah memasuki tahun baru 1433 Hijriyah, namun keadaan umat Islam hampir di seluruh penjuru dunia masih mengalami keterpurukan di seluruh aspek kehidupan. Momentum tahun baru hijriyah saat ini, harus dijadikan renungan dan kebangkitan bagi setiap individu muslim maupun mukmin, kelompok maupun negara untuk hijrah dari segala kemaksiatan kepada peradaban Islam. Hijrah dari berpikir kufur ke berpikir Islami, dari pemahaman kufur ke pemahaman Islam, dari aturan (hukum) kufur ke aturan (hukum) Islam secara menyeluruh bukan sepotong-potong, seperti penerapan hukum cambuk di Aceh bagi yang berkhalwat (lawan jenis berduaan yang bukan mahramnya), atau hukum potong tangan di Arab Saudi bagi pencuri. Penerapan hukum Islam yang sepotong-potong justru akan menimbulkan kekacauan pemahaman dan keimanan di tengah-tengah masyarakat. Oleh karena itu, tahun baru harus dibarengi dengan hijrah kepada peradaban Islam agar kehidupan ini damai, sejahtera, dan penuh kemuliaan, sebagaimana hijrah yang dilakukan Rasulullah SAW dan para sahabatnya dari Mekkah (jahiliyah) ke Madinah dengan membangun peradaban Islam yang berdasarkan Al Qur’an dan Sunnah Rasul-Nya dan meninggalkan segala bentuk kejahiliyahan dan kemungkaran. Allah SWT. Berfirman:

”Andaikata kebenaran itu menuruti hawa nafsu mereka, pasti binasalah langit dan bumi ini, dan semua yang ada di dalamnya. Sebenarnya Kami telah mendatangkan kepada mereka kebanggaan mereka tetapi mereka berpaling dari kebanggaan itu.” (QS.Al-Mukminun:71).

Allah juga berfirman dalam surah Ar Ruum ayat 41: “Telah tampak kerusakan di darat dan di lautan disebabkan karena perbuatan tangan manusia, supaya Allah merasakan kepada mereka sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar)”.

Esensi hijrah bagi umat Islam adalah memposisikan diri umat Islam untuk melakukan hijrah perubahan dengan dasar hijrah pemikiran, hijrah perasaan, dan hijrah sistem dalam kehidupan. Hijrah tidak hanya sebatas berpindah lokasi atau tempat saja melainkan hijrah harus dimaknai untuk menuju kesatuan pemikiran, perasaan, dan sistem bagi segenap diri kaum muslimin.

Salah satu bentuk teladan kita terhadap peristiwa Hijrah adalah keyakinan umat Islam akan pertolongan Allah bagi siapa saja yang berusaha untuk menolong agama Allah. Demikian pula hal ini menjadikan sebuah pelajaran bagi umat Islam bahwa tidak ada nilai yang paling tinggi dan berharga bagi manusia kecuali ketaatan kepada Allah bukan kecintaan kepada kehidupan dunia yang hanya bersifat sementara. Perubahan hanya akan bisa dilakukan oleh sosok-sosok individu yang yakin akan ketaatan dirinya kepada Allah melebihi semua hal yang dia miliki. Sehingga hendaknya kita merenungkan firman Allah dalam surat At Taubah ayat 24: Katakanlah: “Katakanlah: Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya”. Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik”. Wallahu’alam bisshowab.

2 pemikiran pada “HIJRAH MENUJU PERADABAN ISLAM

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s