MENGGAPAI KEMULIAAN RAMADHAN

Buletin Jum’at FKM

Jum’at, 5 Agustus 2011

No. 155105082011

          Tidak terasa bulan Ramadhan sudah menghampiri kita kembali, kita sebagai kaum muslimin tentunya sangat berbahagia ketika kita bisa menemui Bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan seakan menjadi magnet besar bagi umat islam untuk ingat atas rahmat Allah pada hamba-Nya. Sehingga banyak kita lihat bagaimana antusiasme umat islam dalam menyambut bulan Ramadhan. Banyak diantara mereka sudah sangat merindukan bulan mulia ini. Karena merasa bulan Ramdhan merupakan bulan istimewa yang diberikan oleh Allah kepada hamba-Nya.

          Apa lagi kalau kita lihat ketika puasa sedang berlangsung, masyarakat pun melihatnya secara berbeda-beda. Sebagian dari mereka sibuk dengan persiapan-persiapan makanan baik untuk sahur maupun buka. Ada juga sebagian yang lain yang lebih banyak menghabiskan waktunya di masjid untuk berdzikir, membaca Al Quran, I’tikaf dan kegiatan-kegiatan amal soleh lainnya seperti bersedekah ke fakir miskin, anak yatim dan kegiatan lainnya. Beragamnya perilaku masyarakat menghadapi bulan Ramadhan ini memang sesuai dengan tingkat pemahaman mereka terhadap hakikat hadirnya bulan Ramadhan ini. Banyak diantara umat islam melihat bulan Ramadhan sebagai sebuah rutinitas bulan yang hanya untuk berpuasa dan sebagainya, akan tetapi sebagian lainnya memahami bulan Ramadhan untuk dipergunakan meningkatkan amalan-amalan soleh, baik amalan wajib ataupun amalan sunnah.

          Fakta-fakta yang terjadi tersebut memberikan sebuah deskripsi tentang kegiatan sebagian umat islam pada bulan Ramadhan. Ada yang antusias, ada yang biasa-biasa saja. Akan tetapi bagaimana sebenarnya kita memahami hakikat dari Bulan Ramadhan? Dan apa yang  harus kita lakukan selama bulan Ramadhan?

Kemuliaan Bulan Ramadhan

          Bulan Ramadhan bagi umat islam adalah bulan yang menyimpan berbagai kemuliaan. Sehingga sebagian besar umat islam merasa senang dengan kedatangan bulan Ramadhan. Bulan Ramadhan dianggap sebagai bulan yang harus dioptimalkan dalam menjalankan amalan-amalan kebaikan. Dengan harapan akan mendapatkan berkah dan ampunan dan Allah Swt.

          Diantara kemuliaan-kemuliaan yang ada di bulan Ramadhan adalah adanya ibadah yang hanya akan dijumpai pada bulan Ramadhan. Diantaranya adalah ibadah puasa Wajib Bulan Ramadhan. Ibadah puasa bulan Ramadhan hanya ada pada bulan Ramadhan. Ibadah puasa Ramadhan ini wajib atas setiap kaum muslimin untuk menunaikannya. Hal ini di dasarkan pada firman Allah Swt: “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS. Al Baqarah: 183). Berdasarkan nash inilah kaum muslimin berpuasa Ramadhan karena merupakan sebuah kewajiban yang harus ditunaikan.

          Kewajiban puasa Ramadhan ini adalah wajib bagi setiap muslim yang Baligh dan berakal. Sehingga anak kecil dan orang gila tidak wajib untuk menjalankan ibadah puasa. Sebagaimana sabda Rasul saw: “Diangkat pena atas tiga orang yaitu orang tidur hingga ia bangun, anak kecil hingga baligh dan orang gila hingga ia sadar/berakal” (HR. Abu Dawud). Adapun bagi orang yang haid dan nifas maka tidak wajib atasnya berpuasa dan tidak sah jika ia melakukan puasa. Akan tetapi ketika sudah suci maka wajib untuk menggantinya. Hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Aisyah: “Di dalam haid ada perintah untuk mengganti puasa akan tetapi tidak ada perintah untuk mengganti shalat”. Adapun bagi orang yang sudah tua renta dan bagi orang yang sakit yang tidak bisa diharapkan lagi kesembuhannya, maka tidak wajib baginya untuk berpuasa dan wajib menggantinya dengan membayar fidyah. Hal ini didasarkan atas hadits Rasul yang diriwayatkan oleh Ibnu Abbas: “orang yang tua renta dan tidak mampu untuk berpuasa Ramadhan maka diwajibkan atasnya membayar satu hari satu mud dari gandum”. Sedangkan bagi orang yang sakit ketika dalam menjalankan puasa atau khawatir sakitnya akan semakin parah jika berpuasa maka boleh tidak berpuasa hal ini didasarkan atas firman Allah Swt: “(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barang siapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain” (QS. Al Baqarah: 184). Nash di atas juga berlaku bagi orang yang sedang melakukan perjalanan (safar), maka dia boleh tidak berpuasa. Akan tetapi jika dia mampu berpuasa walaupun dalam keadaan safar maka itu lebih baik. Kebolehan itu dengan syarat jarak minimal perjalanannya adalah dua marhalah atau sekitar 88,7 km.

          Umat islam diwajibkan memulai puasa Ramadhan setelah menyaksikan bulan. Hal ini didasarkan atas firman Allah Swt: “Barangsiapa di antara kamu hadir di bulan itu, Maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu” (QS. Al Baqarah: 185). Hadir atau menyaksikan bulan dalam ayat di atas artinya menyaksikan masuknya bulan baru yaitu Ramadhan. Penentuan masuknya bulan Ramadhan adalah berdasarkan uslub yaitu dengan Hisab dan Ru’yat yang masing-masing adalah uslub yang syar’I untuk digunakan menentukan masuknya bulan baru. Kedua uslub ini memiliki landasan dalil nash yang syar’I, sehingga ketika sudah masuk pada bulan Ramadhan maka umat islam wajib menunaikan puasa.

          Adapun ibadah lain yang hanya ada di bulan Ramadhan adalah Shalat Tarawih. Shalat tarawih adalah ibadah shalat sunat yang dilakukan pada malam hari di bulan Ramadhan. Sedangkan kemuliaan-kemuliaan lain yang ada di bulan Ramadhan diantaranya adalah bahwa bulan Ramadhan merupakan bulan penuh berkah, ampunan, dan penjauhan dari api neraka. Juga di bulan Ramadhan inilah Al Quran pertama kali diturunkan yaitu pada tanggal 17 Ramadhan. Dan juga kemuliaan lainnya yaitu adanya malam lailatul qadar di bulan suci Ramadhan, dimana sebagaimana dijelaskan malam lailatul qadar adalah malam yang setara dengan malam seribu bulan.  Sebagaimana dalam firman Allah: Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Qur’an) pada malam kemuliaa.Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu?. Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar. (QS. Al Qadar: 1-5). Demikian juga di bulan puasa amalan-amalan sunah yang dilakukan oleh umat islam akan bernilaikan sama dengan melakukan sebuah kewajiban. Sedangkan jika melakukan amalan wajib maka Allah akan melipat gandakan pahala wajib itu hingga berkali-kali. Juga dikatakan bahwa orang yang memberikan buka pada orang yang berpuasa maka pahalanya seperti orang yang melakukan puasa.

          Itulah beberapa kemuliaan-kemuliaan yang ada di bulan Ramadhan dan kalau mau kita lihat lebih jauh, sesungguhnya masih banyak kemuliaan lain yang bisa didapatkan oleh umat islam di bulan Ramadhan yang mulia ini. Yang pasti Allah telah memberikan 1 bulan diantara bulan-bulan lain kepada kaum muslim yang itu memiliki keutamaan-keutamaan yang besar. Dan itu merupakan sebuah rahmat Allah kepada hamba-hamba-Nya yang mau mengoptimalkan kemuliaan-kemuliaan itu.

 Ramadhan untuk Bersungguh-sungguh dalam Amal Sholeh

          Banyak sebagian kalangan yang mem-blow up bulan puasa untuk menunjukkan pada umat islam tentang amalan-amalan soleh baik amalan wajib ataupun amalan sunnah. Akan tetapi kalau kita melihat fakta di masyarakat bahwa pemahaman umat islam terkait dengan kewajiban-kewajiban masih sangat minim apalagi dengan adanya eksploitasi tentang amalan-amalan sunnah, yang itu memang baik untuk dilakukan. Sehingga sering kita lihat umat islam lebih mementingkan amalan-amalan sunnah dari pada amalan-amalan yang itu sifatnya adalah wajib. Banyak orang yang mempolitisir bulan puasa sebaiknya sering membaca Al Quran, beri’tikaf, sedekah, dan melaksanakan amalan sunnah akan tetapi jarang untuk memberikan pemahaman terkait kewajiban-kewajiban apa yang harus dilakukan sebagai seorang muslim.

          Pengungkapan fakta ini tidak untuk mengatakan bahwa amalan-amalan sunnah itu tidak boleh dilakukan, akan tetapi untuk menunjukkan bagaimana memposisikan amalan-amalan itu sesuai dengan sifatnya apakah itu wajib atau sunnah. Dan manakah yang menjadi prioritas yang harus dilakukan. Sehingga seseorang memiliki prioritas amalan mana yang harus didahulukan. Karena banyak dilihat bahwa umat islam saat ini lebih banyak dan suka melakukan amalan-amalan sunnah, akan tetapi melupakan amalan-amalan wajib yang seharusnya dilakukan baik itu di bulan Ramadhan atau di luar bulan Ramadhan. Karena posisi kewajiban adalah jika dilakukan akan mendapatkan pujian dari Allah dan jika ditinggalkan akan mendapatkan dosa/celaan dari Allah.

          Salah satu kewajiban yang sering dilupakan oleh umat islam saat ini adalah kewajiban untuk berdakwah/menyeru pada al islam. Hal ini sering terjadi baik di bulan Ramadhan dan lebih sering lagi ditinggalkan di luar bulan Ramadhan. Banyak dari umat islam belum memposisikan aktivitas dakwah sebagai salah satu prioritas kewajiban yang harus mereka kerjakan. Padahal Allah Swt berfirman: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung”. (QS. Ali Imran: 104). Juga firman Allah yang lain: “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik”. (QS. An Nahl: 125).

          Atas dasar inilah kewajiban melakukan aktivitas dakwah itu diwajibkan atas kaum muslimin. Sehingga kaum muslimin harus sadar dan memahami akan kewajibannya melakukan aktivitas dakwah di setiap waktu, dan di manapun berada. Melihat penjelasan ini, maka dakwah di bulan Ramadhan ini akan semakin mulia dan utama apalagi kewajiban yang kita lakukan di bulan Ramadhan akan dilipat gandakan oleh Allah. Oleh karena itu kewajiban berdakwah akan menjadi bagian penting dalam diri kaum muslim yang akan dilakukan baik di bulan Ramadhan atau di bulan-bulan lain.

          Apalagi pada bulan Ramadhan ini perasaan umat islam sedang sama, mereka sama-sama berada pada bulan yang dimuliakan Allah. Umat islam sadar secara perasaan menjadi umat yang satu yang dipersatukan oleh bulan Ramadhan. Sesungguhnya momen seperti ini menjadi modal bagi pengemban dakwah untuk mendakwahkan islam ke seluruh penjuru dunia sebagai kepemimpinan berpikir bagi umat islam. Hanya dengan mengemban dakwah islam sebagai kepemimpinan berpikir inilah, maka kehidupan islam bisa berwujud. Selain itu juga perlu menyadarkan keterpurukan umat islam saat ini, dimana umat islam sudah melupakan akan aqidah dan hukumnya yang sebenarnya adalah menjadi penyebab utama keterpurukan umat islam itu sendiri, dan yang telah menjadikan umat islam terpecah-pecah. Dengan kesungguhan dakwah islam maka diharapkan umat islam akan bisa bersatu dan hidup sejahtera dalam naungan islam. Bulan Ramadhan inilah yang akan memberikan sebuah titik perkembangan dakwah islam kepada umat agar islam bisa mengatur kehidupan ini dengan sempurna dan kaffah.

 Ikhtitam

          Bulan Ramadhan hendaknya dimaknai oleh umat islam saat ini sebagai bulan untuk meningkatkan amalan-amalan sholeh. Baik amalan wajib ataupun sunnah. Janganlah bulan Ramadhan ini terbuang sia-sia untuk kegiatan-kegiatan lain yang melenakan umat islam akan eksistensinya sebagai bagian dari umat islam. Karena kita lihat umat islam saat ini lebih banyak  melakukan aktivitas yang tidak mendekatkan dirinya pada aqidah dan hukum islam. Akan tetapi mengarah pada pelenaan terhadap aqidah dan hukum itu sendiri.

          Apalagi amalan yang sifatnya wajib seperti aktivitas dakwah, maka umat islam harus menunjukkan kesungguhan di bulan puasa ini untuk melakukan aktivitas kewajiban dakwah. Dengan kata lain bulan Ramadhan ini menjadi momen “Jihadud Dakwah” guna menyadarkan umat islam untuk kembali pada aqidah dan hukum islam. Dan semoga umat islam bisa bersatu dan hidup dengan islam di muka bumi ini.

Oleh karena itu, momentum ramadhan kali ini harus dijadikan momen untuk membangun ketaqwaan kepada Allah swt. di seluruh aspek kehidupan, baik ketaqwaan individu, masyarakat maupun Negara sebagaimana perintah Allah melalui amalan-amalan sholeh yang sudah diperintahkan oleh Allah. Dengan mengharap ridho Allah swt. kita jadikan diri kita sebagai saksi atas kemulian bulan suci ramadhan tahun ini, bukan bulan ramadhan yang menyaksikan kita tanpa melakukan kewajiban-kewajiban dan amalan sunnah di dalamnya. Wallahu a’lam bi showab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s