Lagi!! Bencana Kelaparan di Tanduk Afrika

(Solusi Kelaparan bukan dengan Bantuan Negara Kapitalisme, tetapi Pelayanan kepada Umat dengan Adil oleh Negara)

Setelah berita kelaparan di Ethiopia mampu mencuri perhatian dunia bertahun-tahun yang lalu, kini kaum muslimin pada rabu (20/7/2011) kembali dikejutkan dengan pernyataan seorang pejabat PBB yang menginformasikan bahwa puluhan ribu warga Somalia meninggal dunia akibat kelaparan dan kekurangan gizi (malnutrisi) selama bertahun-tahun. Data yang berhasil dihimpun, setidaknya hampir setengah dari 3,7 juta warga Somalia mengalami kelaparan, kekurangan gizi, dan masalah lain yang terkait. Sejumlah 2,8 juta tinggal di wilayah terparah yang mengalami krisis pangan, yaiut wilayah Somalia Selatan dan Lower Shabelle Bakool.

Mark Bowden, pejabat PBB yang bertanggung jawab atas bantuan kemanusiaan di Somalia menegaskan bahwa “Somalia menghadapi krisis makanan terburuk dalam 20 tahun terakhir,”  (Associated Press, rabu (20/7/2011).

Krisis kemanusiaan terburuk selama dua dasawarsa yang dialami negeri yang terletak di Tanduk Afrika ini kian menjadi-jadi akibat perselisihan antar warga sipil, curah hujan yang rendah, dan kurangnya pelayanan pemerintah Somalia terhadap rakyatnya.        Guna mengatasi krisis pangan yang ada, dibutuhkan infus dana sebesar $ 300 untuk keperluan dua bulan ke depan. Jumlah yang sangat fantastis, dan ini semua diharapkan datang dari misi-misi kemanusian dunia. Mampukah terpenuhi?

Kelaparan kata Bowden, secara resmi dinyatakan ketika tingkat malnutrisi akut antara anak-anak melebihi 30% dan ketika lebih dari dua orang per 10.000 meninggal dunia setiap hari. Saat ini, tingkat malnutrisi di Somalia adalah yang tertinggi di dunia. Di beberapa wilayah bagian selatan Somalia, lebih dari setengah dari semua anak-anak menderita gizi buruk. Bahkan di daerah Bakool dan Lower Shabelle, diberitakan bahwa ada enam anak per 10.000 anak di bawah usia 5 tahun sekarat setiap hari.

Berdasarkan terminologi diatas, maka secara jelas dapat disimpulkan bahwa saat ini di Somalia memang telah terjadi krisis pangan sehingga menimbulkan kelaparan yang hebat. Menghadapi hal ini, bagaimanakah seharusnya kaum muslimin bersikap, menginggat berdasarkan fakta sejarah, Somalia juga merupakan salah satu wilayah negeri muslim. Mari kita bahas bersama?

AS Mencari Simpati Dunia

  Kelaparan adalah suatu bukti bahwa kesejahteraan belum bisa dinikmati oleh rakyat hingga untuk memenuhi kebutuhan pangannya saja mereka tidak mampu. Krisis kemanusiaan yang terjadi di Somalia seharusnya mampu membuat mata dunia terbuka untuk segera memberi bantuan. Namun bukannya bantuan yang didapat, tapi justru tuduhan keji yang terlontar kepada kaum muslimin. Wilayah selatan yang paling parah menderita krisis diberitakan sering menjadi sasaran serangan militan. Militan-militan Somalia juga berafiliasi dengan Al Qaeda. Padahal keberadaan Al-Qaeda masih merupakan polemik. Bahkan banyak yang meragukan keberadaannya.

Militan di Somalia sekarang dijadikan kambing hitam karena ditengarai sering kali melarang para relawan masuk ke wilayah tersebut pada dua tahun yang lalu. Meski larangan dari militan sudah dicabut pada bulan ini, tapi akibat pemberitaan ini banyak bantuan internasional yang membatalkan bantuannya, hingga penduduk Somalia kian menderita.

Pada faktanya, perseteruan antar warga sipil di Somalia ini juga memicu pasukan penjaga perdamaian AS untuk melakukan intervensi sejak tahun 1992 yang lalu. Dalam buku dan film “Black Hawk Down” digambarkan bahwa dalam beberapa bulan, pasukan terlibat dalam konflik yang intents untuk mencabut panglima perang Somalia. Dan setelah 18 tentara Amerika tewas dalam pertempuran tahun berikutnya, akhirnya mereka mengundurkan diri. Jadi bisa dikatakan, pasukan perdamaian AS telah gagal menciptakan perdamaian di Somalia.

Disamping adanya isu militan yang berhembus, lemahnya pemerintahan Somalia selama dua dekade ini juga memperburuk krisis yang terjadi. Lemahnya pemerintahan Somalia tak terlepas dari dampak pemerintahan transisi yang lemah dan korup. Tapi meski begitu, pemerintahan yang hanya sedikit mempunyai kemampuan untuk menghadapi krisis ini tetap mendapat dukungan dari Amerika dan Sekutunya.

Dalam kondisi yang kian memburuk yang tidak terlepas dari peran AS, ternyata Amerika Serikat – sang Globo Cop– sengaja mencari simpati dunia dengan mengumumkan akan memberi tambahan bantuan sejumlah $28 juta. Rupanya, AS ingin menjadi pahlawan kesiangan walaupun pada faktanya turut andil dalam kekisruhan di Somalia.

Islam Menyelesaikan dengan Hukumnya yang Adil

Kasus kelaparan di Somalia akan bisa teratasi jika kaum muslimin berada dalam naungan kepemimpinan yang satu. Meski berada dalam wilayah yang cukup jauh, tapi krisis yang terjadi sepenuhnya adalah tanggung jawab negara untuk mengatasinya. Krisis yang terjadi diatasi bukan hanya sekedar mengandalkan pemberian bantuan saja seperti saat ini, tapi memang sudah menjadi komitmen pemerintah Islam guna mensejahterakan rakyatnya. Hal ini  merupakan wujud tanggung jawab para pemimpin dalam sistem Islam, karena pemimpin akan senantiasa dimintai pertanggungjawaban oleh Allah swt atas pelayanannya kepada rakyatnya.

Imam Muslim meriwayatkan dari al-A’raj dari Abu Hurairah dari Nabi saw bersabda: “ Sesungguhnya imam itu adalah laksana perisai, orang-orang akan berperang dibelakangnya dan menjadikannya sebagai pelindung (bagi dirinya).”

Kelaparan akan tuntas karena adanya jaminan kesejahteraan yang digulirkan oleh Islam. Jaminan Islam di bidang ekonomi telah dirintis oleh Rasulullah saw, kemudian dilanjutkan oleh generasi khulafaur rasyidin hingga pada masa Umar bin Abdul Aziz kesejahteraan rakyat sangat baik. Pada saat itu harta kekayaan Baitul Mall melimpah ruah dan didistribusikan kepada mereka yang membutuhkan baik di pusat maupun di daerah, tanpa membedakan warna kulit dan agamanya. Seluruh penduduk daulah Khilafah baik yang beragama islam, Yahudi, Kristen atau majusi semuanya berhak memperoleh bantuan untuk mencukupi kebutuhannya. Pemimpin Islam memahami benar-benar ayat Al-Qur’an yang membahas tentang kebutuhan orang miskin serta tanggung jawab negara hingga sebagai pemimpin mereka memang benar-benar komitmen dalam menjalankan tanggung jawabnya dalam mensejahterakan rakyatnya.

Jaminan Islam di bidang ekonomi adalah jaminan terpenuhinya pemuasan semua kebutuhan pokok/primer bagi tiap-tiap individu. Untuk itu Islam mewajibkan bekerja kepada seorang muslim agar ia mampu menafkahi keluarganya. Sebagaimana firman-Nya:”dan kewajiban ayah memberi makan dan pakaian kepada ibu.” (QS. Al-Baqoroh: 233). Dalam hadits pun ditegaskan:

Aku memiliki dinar, apa yang harus aku perbuat dengannya? Beliau bersabda,”nafkahkan untuk dirimu sendiri”,orang itu berkata,” aku masih punya yang lain”, beliau bersabda,” nafkahkanlah untuk keluargamu”. Dia berkata lagi,” aku masih punya yang lain,” beliau bersabda,” nahkahkan untuk pembantumu”. Rasulullah bersabda” mulailah (pemberian nafkah itu) dari orang yang menjadi tanggunganmu: ibumu, ayahmu, saudara perempuanmu, saudara laki-lakimu, kemudian family terdekatmu.” (HR. Nasa’I dari Thariq al Muharibi).

Jaminan kesejahteraan terhadap rakyat ini akan sempurna jika berada di bawah sistem kekhilafahan yang yang menjadi ujung tombak dalam pelaksanaannya. Mari bersatu untuk menegakkan sistem Allah ini yang akan memberikan pelayanan terbaiknya bagi umat di seluruh penjuru dunia, hingga kelaparan akan tuntas sampai ke akar-akarnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s