Kerusuhan, Buah Ketidaktegasan Hukum


Kerusuhan yang melibatkan  antara sebagian  umat Islam dengan anggota Jamaah Ahmadiyah Indonesia terjadi lagi. Bentrokan tersebut terjadi di desa Umbulan, Kecamatan Cikeusik, Pandeglang Banten pada Hari Ahad, 6 Pebruari 2011. Dalam bentrokan tersebut diberitakan empat orang anggota Jamaah Ahmadiyah  meninggal dan empat orang lainnya mengalami luka-luka.

Berdasarkan penjelasan beberapa warga setempat, apa yang terjadi pada hari tersebut dipicu oleh kekesalan-kekesalan warga setempat yang menumpuk. Salah satu yang membuat warga kesal adalah aktivitas Suparman, pemilik rumah yang menjadi amuk masa. Sejak kembali ke desa itu enam bulan lalu dan menempati rumah yang dia beli seharga Rp. 115 juta, Suparman banyak mendatangkan orang luar desa. Aktivitas Suparman yang juga membuat amarah warga adalah niatnya untuk menbangun masjid sendiri untuk para jamaahnya.  (Jawa Pos, 9 Pebruari 2011). Sedangkan di Pakistan terjadi  bentrokan antara sebagian umat Islam dengan anggota Jamaah Ahmadiyah pada 28 Mei 2010 di Model Town dan Garishaw’ , pada  bentrokan tersebut 90 orang tewas. (Sumber : Tempo Interaktif). Seringnya terjadi bentrokan  antara umat Islam dengan anggota Jamaah Ahmadiyah  dipicu dari sikap Jamaah Ahmadiyah yang mengatasnamakan sebagi penganut agama Islam namun ternyata terjadi penyimpangan yang mendasar dari ajaran Ahmadiyah sendiri.

 

Pengakuan Mirza Ghulam Ahmad

Terjemahan buku Ahmadiyah yang berjudul (The Ahmadiyya Movement in Islam inc.) karangan Louis J. Hamman dari Gettysburg College, terjemahannya direstui oleh Syekh Mubarrak Ahmad, tertulis sebagai berikut: “Bagaimanapun sampai umur 41 tahun (1876) Hazrat Ahmad mulai menerima banyak wahyu yang akan membawanya pada keyakinan bahwa didalam  pribadinya telah genap datangnya Al-Mahdi. “Setelahnya telah diwahyukan kepadanya bahwa ia juga adalah Al-Masih yang dijanjikan dan benar-benar seorang  nabi yang datang seperti yang telah dikabarkan dalam agama-agama utama di dunia “. Ia adalah “juara yang berasal dari Tuhan dengan jubah pakaian semua para Nabi”.

Jamaah Ahmadiyah  mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai nabi, padahal Allah SWT telah jelas menyampaikan bahwa Rasulullah SAW sebagai nabi terakhir dan tidak ada nabi lagi setelah beliau.

“ Muhammad itu bukanlah ayah dari siapapun diantara seorang laki-laki, tetapi dia sebagai utusan Allah dan penutup para nabi. Dan allah senantiasa Maha mengetahui atas segala sesuatu.” (QS. Al-Ahzab 40)

Keberadaan Ahmadiyah di Indonesia telah ada  sejak zaman kolonial Hindia Belanda. Aktivitasnya senantiasa  meresahkan sebagian besar umat Islam di Indonesia, dikarenakan tempat  ibadah mereka disebut “mesjid” juga. Sementara di samping al-Qur’an, mereka juga menggunakan Kitab Tadzkirah sebagai pegangan dalam keyakinan mereka, juga tentang kenabian Mirza Ghulam Ahmad.

 

Dampak dari Isu Penyerangan

Berbagai spekulasi penyebab penyerangan telah dimunculkan, seperti:  adanya kelompok radikal yang menjadi aktor intelektual dibalik penyerangan; penyerangan tersebut adalah murni dari warga; atau penyerangan dilakukan secara sengaja oleh pihak pemerintah untuk mengalihkan berbagai opini sebelumnya yang menyudutkan permerintah. Terlepas dari spekulasi itu semua, yang pasti persoalan Jamaah Ahmadiyah hingga saat ini belum selesai dengan tuntas. Isu tersebut muncul tenggelam sebagaimana masalah-masalah lainnya di negeri ini tanpa adanya penyelesaian yang jelas, hingga menimbulkan pertanyaan; Apakah pemerintah sudah tidak mampu menyelesaikan persoalan ini? atau pemerintah masih dalam proses mencari solusi yang tepat? ataukah sengaja dibiarkan mengambang agar tetap ada isu untuk dimunculkan? Jika kita melihat realita, isu tersebut ternyata mengakibatkan adanya pihak yang diuntungkan dan pihak yang dirugikan.

Penyerangan tersebut ternyata dimanfaatkan oleh orang-orang liberal untuk memasarkan pemikiran mereka. Di antarannya adalah konsep “kerukunan antar umat beragama” yang menghendaki agar umat Islam rela dan membenarkan  keyakinan yang bertentangan dengan Islam. Demikian juga konsep “dialog lintas agama” yang sesungguhnya dikehendaki adalah agar umat Islam  mencampuradukkan agamanya dengan agama yang lain. Sesungguhnya konsep tersebut adalah konsep dari barat yang terkesan baik tetapi memiliki tujuan untuk  menjauhkan umat Islam dari aqidahnya. Konsep tersebut lahir dari pemikiran kebebasan beragama yang merupakan salah satu prinsip dalam liberalisme.  Mereka menyebarkannya untuk  memecah belah kesepakatan seluruh umat Islam atas Jamaah Ahmadiyah, yaitu dibubarkannya Ahmadiyah.

Selain itu, fakta tersebut menjadi opini besar yang mampu menutupi berbagai isu sebelumnya. Isu yang terkesan memojokkan pemerintah, seperti: kasus century, kasus gayus, pembangunan gedung DPR, dan kenaikan gaji pejabat. Apalagi diperkuat adanya kejadian  kerusuhan di Kota Temanggung dan Pasuruan karena memiliki tema sentral yang sama dan dalam waktu yang hampir bersamaan.

Disisi lain, umat Islam semakin resah karena tuntutan agar Ahmadiyah dibubarkan masih belum juga dikabulkan oleh pemerintah. Kemarin, hari ini, dan besok mereka akan tetap menuntut dengan tuntutan yang sama karena hal ini berkaitan dengan masalah ushul (pokok), yang tidak bisa lagi dilakukan kompromi ataupun pilihan. Ketegasan dari pemerintah dalam memutuskan perkara ini sangat diharapkan sehingga masalah akan segera selesai dengan tuntas.

Islam Memberikan Solusi dengan Adil

Setiap masalah perlu diselesaikan dengan cara yang adil, tegas, jujur dan tuntas, tanpa adanya unsur kepentingan dan kedzoliman. Oleh karena itu perlu adanya solusi dari Dzat yang tidak memiliki kepentingan dan tidak berbuat dzalim, yaitu Allah SWT. Dialah yang  telah menurunkan hukumnya dengan adil untuk seluruh umat manusia.

“Dan jika kamu memutuskan perkara mereka, maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka dengan adil, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang adil.” (Q.S Al Maidah: 42)

Masalah ini adalah bagian dari urusan umat yang menjadi tugas pemimpin/pemerintah untuk menyelesaikan urusan tersebut. Pemerintah perlu melihat fakta kebenaran yang hakiki terhadap suatu masalah kemudian menentukan standar kebenaran menurut apa yang Allah turunkan. Karena kebenaran itu datang dari Allah SWT sebagai Al Haq, bukan dari manusia yang sering salah dan lupa.

Kebenaran itu datang dari Tuhanmu, sebab itu janganlah sekali-kali kamu termasuk orang yang ragu (Q.S Al Baqarah: 147)

Kebenaran tidak dapat dilakukan berdasarkan kompromi antara yang haq dengan yang batil, akan tetapi dilakukan dengan upaya tegas untuk memisahkan antara yang haq dengan yang batil. Solusi berdasarkan kompromi tersebut tidak akan menimbulkan kepuasan bagi semua pihak, baik pihak yang benar ataupun pihak yang salah. Solusi yang adil dan benar adalah  memutuskan berdasarkan kebenaran dan meluruskan pihak yang salah.

Berbagai macam solusi yang tidak menyentuh akar persoalan tidak akan pernah mampu menyelesaikan persoalan, sebagaimana himbauan agar melakukan perdamaian antara kedua kelompok dengan tujuan hanya sekedar meredam gejolak tanpa menyelesaikan akar masalahnya, atau membuat peraturan yang kompromistis dengan tujuan menampung semua kepentingan yang akan semakin memperpanjang konflik, atau mencari kambing hitam yang akan semakin menjauhkan dari akar permasalahan, atau hanya sekedar menindak tegas pelaku kerusuhan. Oleh karena itu diperlukan solusi yang dapat menuntaskan masalah hingga ke akar-akarnya.

Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin yang paripurna dan sempurna  telah memiliki hukum-hukum  terperinci termasuk hukum terhadap orang yang memiliki keyakinan lain. Islam tidak pernah memaksakan umat yang sudah beragama lain untuk memeluk agama Islam, namun Islam secara tegas melarang umatnya melakukan penistaan ataupun melakukan aktivitas yang bertentangan dengan aqidah Islam, apalagi sampai murtad keluar dari Islam. Mengakui ada nabi setelah Nabi Muhammad  SAW  tentu menyimpang dari aqidah Islam, begitu juga mempunyai kitab suci selain Al-Qur’an juga bertentangan dengan aqidah Islam.

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: “Telah diwahyukan kepada saya”, padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: “Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Allah” (Q.S Al An’am:93)

Islam mewajibkan  kepada seorang muslim agar senantiasa menguatkan dan memurnikan aqidahnya. Selain itu, Islam mewajibkan bagi kelompok atau pun individu berdakwah  kepada umat Islam agar mempunyai aqidah yang jernih dan  murni. Tidak dibolehkan bagi kelompok dan individu memberantas dan memerangi secara fisik kepada orang yang berbuat kemungkaran, karena yang diperintahkan dalam Al Quran dan As Sunnah adalah menyeru dengan lisan.

Hendaklah ada segolongan umat yang menyeru kepada Islam, beramar makruf nahi mungkar. Dan merekalah orang-orang yang beruntung (Q.S.Ali Imron 104)

Serulah kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan nasehat yang baik, serta bantahlah dengan cara yang baik (An Nahl:125)

Negaralah satu-satunya institusi yang berwenang menjaga stabilitas keamanan Negara dan rakyatnya, baik keamanan secara fisik maupun keamanan aqidah. Negara berkewajiban mengingatkan, melarang, atau pun menghukum  warga negaranya yang menistakan Islam atau pun warganya yang murtad.  Seorang yang murtad  wajib diingatkan dan diberi kesempatan selama tiga hari untuk bertaubat agar kembali kepada Islam, apabila  tetap tidak mau bertaubat dan kembali kepada Islam  maka Negara berhak melakukan hukuman mati kepada rakyatnya tersebut. Bagi orang yang memiliki keyakinan tersebut sejak kecil, sedangkan dia tidak menyebarkan keyakinannya, maka Negara wajib menyediakan pendidikan kepada mereka secara gratis agar mempelajari Islam dengan benar.

Jika masing-masing lini, baik individu, kelompok, atau negara melakukan perannya masing-masing sesuai dengan aturan Islam, maka terjadinya kekerasan tidak akan sampai muncul berkali-kali sebagaimana peristiwa ini. Dengan solusi Islam, kita akan mampu menyelesaikan persoalannya dengan hukum-hukum praktis sehingga masalah dapat selesai dengan tuntas. Tinggal kerelaan pemerintah dan rakyat untuk mengambil solusi tersebut agar diterapkan dalam kehidupan. Wallahu’alam bisshowwab.

 

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s