AKANKAH GEMURUH POLITIK MESIR MENJADI REVOLUSI ISLAM?

Awal tahun 2011 adalah guntur politik di Timur Tengah-Afrika. Kali ini, bukan lantaran ulah Israel, tetapi gemuruh internal di sejumlah negara Timur Tengah sendiri. Bermula dari kebangkitan rakyat Tunisia yang menurunkan secara paksa Presiden mereka, Zine El Abidine Ben Ali yang telah berkuasa selama 23 tahun.

Seolah irama gendang yang diikuti oleh penari, Aljazair pun ikut menggemuruh. Rakyat secara massif turun ke jalan meminta pertanggungjawaban pemerintah atas kehidupan mereka yang kian terpuruk. Lalu, rakyat Jordania melakukan hal yang sama: menuntut pertanggungjawaban Raja Abdullah atas krisis ekonomi yang melilit rakyatnya. Konsekuensinya, Raja Abdullah membubarkan kabinetnya. Rakyat Yaman, seolah tak mau ketinggalan. Mereka juga turun ke jalan menuntut hal yang sama: perbaikan ekonomi rakyat yang kian mencekik. Kini, secara mencolok dan menyita perhatian dunia, adalah gemuruh rakyat Mesir. Sudah ratusan orang meninggal dan ribuan lainnya terluka karena bentrokan antara pasukan keamanan Husni Mubarak dan rakyat. Gerakan dua juta orang, menyemut, menuntut Mubarak hengkang dari singgasananya, sekarang juga.

Mobil-mobil tank, penyiram air dan gas mata, dikerahkan oleh pasukan keamanan untuk meredakan situasi. Tak ada yang mempan. Husni Mubarak langsung membubarkan pemerintahannya dan membentuk pemerintahan baru, untuk membujuk hati rakyat Mesir. Tetapi, semua itu tidak mempan. Rakyat Mesir menuntut Husni Mubarak turun dari tahta kepresidenan yang telah dipegangnya selama tiga dekade tanpa tantangan. http://www.fajar.co.id/read-20110203011300-gemuruh-timur-tengah

Mesir bergejolak, meski jumlah korban tidak—atau mungkin belum—sebesar jumlah korban pada revolusi Iran yang mencapai satu juta jiwa, atau revolusi Prancis yang mencapai enam ratus lima puluh ribu jiwa, gejolak Mesir segera disinyalir banyak pihak sebagai proses revolusi itu sendiri. Banyak orang kemudian menyebut gejolak ini sebagai “Revolusi Mesir”. Terlepas dari tepat atau tidaknya istilah ini digunakan, jika dilihat dari makna generik revolusi itu sendiri, seperti yang pernah dikemukakan Theda Skocpol seorang sosiolog Amerika dalam bukunya “States and Scial Revolution: A Comparative Analysis of France, Rusia, and China” revolusi merupakan perubahan yang cepat dan mendasar dari masyarakat dan struktur kelas dalam sebuah Negara.

Krisis politik Mesir ini sama persis dengan keadaan Indonesia menjelang turunnya rezim Soeharto di tahun 1998. Husni Mubarak baru saja menyelesaikan perjalanannya dari Jerman, lalu disambut demonstrasi besar-besaran yang menuntut pengunduran dirinya. Soeharto baru saja menginjakkan kakinya di tanah air setelah melakukan perjalanan dari Mesir, demonstrasi menyambutnya, menuntut pengunduran dirinya sebagai Presiden. Secara keseluruhan, gemuruh politik Timur Tengah ini, mengingatkan kita dengan jelas dua dekade silam. Dinamo perubahan saat itu, mulai di Rusia, lalu menyebar ke seluruh Eropa Timur yang pada ahirnya merontokkan keperkasaan Komunis. Di sini jelas ada faktor snowball effect. Kondisi Timur Tengah sekarang ini, begitu juga. Unsur efek bola salju tak bisa dihindari.

 

Timur Tengah Menggemuruh

Beberapa ahli mengatakan bahwa pelatuk gerakan protes rakyat di sejumlah negara Timur Tengah di atas, ditarik oleh tiga agenda besar. Pertama, kondisi dan beban ekonomi rakyat yang kian mendera. Daya beli yang kian menurun, bersamaan dengan kian tingginya harga-harga. Di saat yang sama, tingkat pengangguran semakin membengkak. Kedua, rakyat menuntut pengelolaan negara yang transparan untuk semua hal. Mereka meminta kepala negara mereka secara jujur mengatakan apa adanya. Bukan dengan menyembunyikan berbagai hal dengan retorika dan kamuflase. Mereka bosan dengan janji dan muak dengan iming-imingan fatamorgana. Ketiga, mereka menuntut demokrasi dan kebebasan. Mereka ingin sekali menghirup udara segar, yang bebas dari tekanan dan terhindar dari himpitan tangan besi rezim penguasa. Bersamaan dengan itu, rakyat menuntut adanya rotasi kepemimpinan yang dilakukan secara terbuka dan jujur. Ketiga faktor ini juga yang menjadi tema sentral gelindingan perubahan di Eropa Timur dua dekade silam. Ketiga faktor ini, semua hadir di negara-negara yang bergolak itu, dan menjadi common platform perjuangan. Di sinilah faktor efek bola salju menjadi niscaya.

Efek bola salju ini menggelinding terus. Tidak hanya sebatas wilayah Timur Tengah. Gemuruh rakyat Tunisia, amuk rakyat Aljazair, Yaman, Yordania dan guntur rakyat Mesir, akan menjalar ke berbagai negara, terutama yang dililit oleh beban ekonomi yang menghimpit. Amuk politik rakyat yang menuntut pendongkelan kepala pemerintahan, tidak lagi hanya dipicu oleh masalah perilaku kediktatoran atau bukan, tetapi juga performa ekonomi yang diberikan oleh pemerintah.

Ukuran-ukuran ekonomi bagi rakyat, amat sederhana. Mampukah mereka membeli kebutuhan-kebutuhan pokok untuk kehidupan sehari-hari, atau tidak. Apakah pendapatan mereka masih mampu menopang kehidupan keseharian mereka, atau tidak. Apakah mereka tidak terancam PHK setiap saat, atau tidak.mLebih konkret lagi, apakah mereka punya pekerjaan tetap atau tidak tetap yang bisa menghasilkan sesuatu demi sesuap nasi, ataukah tidak. Mereka tidak ribet dalam mengukur kondisi kehidupan mereka sendiri. Parameter mereka amat jelas. Inilah yang menjadi penentu, apakah rakyat mengguntur atau tidak.

 

Siapa dibalik Gemuruh Mesir?

Harian Daily Telegraph terbitan Inggris menyebutkan, AS diam-diam mendukung para pemimpin gerakan revolusi Mesir. Kedutaan Besar Amerika Serikat (AS) di Kairo pernah membantu seorang anak muda anti-pemerintah untuk menghadiri konferensi para aktivis AS. Nama pemuda itu dirahasiakan agar tidak diketahui polisi Mesir. Kemudian,saat datang ke Kairo pada Desember 2008, aktivis itu menuturkan bahwa para diplomat AS menggaet kelompok oposisi untuk merencanakan skenario menggulingkan Presiden Mubarak dan membentuk pemerintahan demokratik pada 2011. Aktivis tersebut kini telah ditangkap dalam kaitannya dengan demonstrasi yang merebak akhir-akhir ini. Terjawab sudah siapa yang berada di balik revolusi yang bertujuan menggulingkan Presiden Mesir Hosni Mubarak. Pihak itu tak lain dan tak bukan adalah Amerika Serikat (AS). Skenario itu telah disusun Washington dengan bertema “perubahan rezim” selama tiga tahun terakhir. Skenario itu sangat matang hingga meledak setelah kesuksesan Revolusi Melati yang menggulingkan Presiden Tunisia Zine El Abidine Ben Ali.

Dalam data diplomatik disebutkan, pada 30 Desember 2008 Duta Besar AS untuk Mesir Margaret Scobey melaporkan bahwa kelompok oposisi sedang menyusun agenda rahasia “perubahan rezim” yang akan dilaksanakan sebelum pemilu, dan dijadwalkan pada September 2011. Sebagai sekutu utama, posisi AS pun serbasulit.Tetapi,AS tetap memainkan standar ganda untuk menutupi skenario revolusi. Itu terbukti ketika Obama berkomentar pada pekan lalu mengenai Mesir. Presiden AS Barack Obama dalam reaksi atas demonstrasi di Mesir, menyatakan, “Kekerasan bukanlah jawaban dalam penyelesaian permasalahan di Mesir.” Dia juga menegaskan agar Mubarak menempuh langkah reformasi politik. http://www.cintapendidikan.co.cc/2011/02/revolusi-mesir.html

Revolusi Islam

People power adalah kekuatan rakyat; biasanya digunakan untuk melakukan perubahan dengan menjatuhkan rezim yang ada, lalu menggantinya dengan rezim yang baru. Perubahan dengan menggunakan kekuatan rakyat ini bisa digunakan untuk tujuan reformasi maupun revolusi, baik untuk mengubah sebagian sistem yang ada maupun mengubah seluruh sistem yang ada dengan sistem yang lain sama sekali. Tujuan dari proses perubahan melalui people power atau revolusi rakyat tersebut sebenarnya untuk mewujudkan rezim baru guna mewujudkan kehidupan yang lebih baik. Namun nyatanya, people power justru sering menimbulkan kekacauan yang luar biasa, termasuk mengorbankan hak milik umum, negara dan kepentingan rakyat. Jika kondisi ini terjadi, tujuan untuk mewujudkan kehidupan yang lebih baik jauh api dari panggang. Selain itu, cara seperti ini juga bisa memicu terjadinya konflik horisontal, yang mengakibatkan perpecahan ditengah-tengah umat

Islam memandang bahwa perubahan yang dimaksud tentu adalah perubahan dari sistem kufur menjadi sistem Islam. Islam mengharuskan perubahan yang terjadi mengikuti metode yang telah digariskan oleh Rasulullah saw dalam melakukan perubahan, termasuk di dalamnya ketika membangun sistem Islam, yaitu melalui thalab an-nushrah yakni dengan mencari pertolongan kepada siapa saja yang memang mempunyai kekuatan dan bisa menolong dakwah Beliau. Shirah menyebutkan bahwa Rasulullah pernah mendatangi Bani Tsaqif di Taif, Bani Hanifah, Bani Kalb, Bani Amir bin Sha’sha’ah dan sejumlah kabilah yang lain. Karena pihak yang mempunyai kekuatan ketika itu adalah kepala suku dan kabilah, maka kepada merekalah Rasulullah saw berusaha sungguh-sungguh untuk mendapatkan pertolongan.

Allah SWT berfirman; “Apa yang diberikan rasul kepadamu maka terimalah dia. Dan apa yang dilarang bagimu maka tinggalkanlah.” (QS. Al Hasyr :7)

“Barang siapa menta’ati rasul, maka sesungguhnya ia telah menta’ati Allah.” (QS. An nisa :80)

Saat ini yang dibutuhkan umat adalah mendapatkan pemahaman yang benar tentang konsep pemikiran islam. Umat harus dikembalikan kepada keyakinan bahwa Allah lah tempat kembali, dan hanya Allah satu-satunya yang berhak membuat hokum aturan tentang kehidupan. Umat harus dipersiapkan terlebih dahulu agar meyakini dan menerima sistem Islam, baik sistem pemerintahannya, ekonomi, sosial, pendidikan, sanksi hukum maupun politik luar negerinya. Ketika umat sudah merasa siap, mereka akan meminta dengan sendirinya untuk ditegakkannya islam. Dilakukan perubahan secara menyeluruh sampai akarnya sehingga tidak ada kesempatan untuk hadir system kufur jahiliyah. Sebab, kekuatan negara dan pemerintahan dalam pandangan Islam terletak pada umat. Negara adalah entitas teknis yang mengimplementasikan seluruh konsepsi, standarisasi dan keyakinan yang diterima oleh umat. Karena itu, penerimaan umat terhadap konsepsi, standarisasi dan keyakinan Islam tersebut merupakan pilar dasar bagi tegaknya sistem Islam. Begitu juga sebaliknya.

System Islam bisa diterapkan didaerah mana saja asalkan negeri tersebut memiliki empat syarat, yaitu: pertama, Kekuasaan negeri itu haruslah independep, yaitu harus bersandar kepada kaum muslimin, bukan bersandar kepada salah satu negara kafir atau dibawah pengaruh Negara-negara kafir. Kedua, Keamanan bagi kaum muslimin di negeri itu adalah keamanan islam, bukan keamanan kufur. Artinya pemeliharaan keamanan mereka dari gangguan luar dan dari dalam negeri berasal dari kekuatan kaum muslimin sebagai suatu kekuatan islam semata. Ketiga, Negeri tersebut harus menerapkan islam secara serentak dan menyeluruh, serta segera mengemban dakwah islam. Keempat, imam yang dipilih harus memenuhi syarat in iqad, meskipun tidak terpenuhi syarat afdholiyahnya.“Siapa saja yang mati, sedang dipundaknya tidak ada baiat(kepada khalifah), maka matinya seperti mati jahiliyah.” (HR.Muslim dari Abdullah bin Umar )

Dengan demikian jelas sekali, perubahan harus dilakukan secara menyeluruh terhadap sistemnya. Dan yang dimaksud dengan ‘an thariq al-ummah (melalui jalan umat) bukanlah people power atau revolusi rakyat, melainkan upaya sungguh-sungguh dan sistematik membangun sistem yang dibangun berdasarkan kekuatan umat, melalui keyakinan, dukungan dan implementasi mereka terhadap sistem tersebut. Adapun proses perubahannya dari sistem kufur ke sistem Islam hanya dilakukan melalui thalab an-nushrah, bukan dengan cara yang lain. Wallâhu a‘lam.

2 pemikiran pada “AKANKAH GEMURUH POLITIK MESIR MENJADI REVOLUSI ISLAM?

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s