Rasulullah SAW Tauladan Sepanjang Masa*

Marilah pada kesempatan yang mulia dan berbahagia ini, kita bersama-sama meningkatkan takwa kita kepada Allah SWT  dengan sebenar-benarknya takwa seraya mengingat dan menyadari akan keagungan dan kebesaran-Nya yang telah menciptakan kita sebagai manusia dan juga seluruh alam semesta dan kehidupan. Bukan hanya menciptakan saja, akan tetapi Allah pula yang mengatur ketiganya tanpa adanyan cacat dan kejanggalan sedikit pun.

Jika kita bertafakkur dengan sungguh-sungguh terhadap karunia Allah, maka alangkah besarnya nikmat–Nya yang telah diberikan kepada seluruh makhluknya terutama kita sebagai manusia yang telah diberi kedudukan tinggi oleh Allah di muka bumi ini. Di antara nikmat allah yang amat besar  tersebut adalah, bahwa dia telah menurunkan Al Quran sebagai petunjuk yang telah mengajarkan manusia agar mampu membedakan antara yang hak dengan yang batil melalui perantara nabi-Nya yang mulia yaitu Rasulullah Muhammad SAW, semoga sholawat dan salam senantiasa tercurahkan kepada beliau, keluarga beliau, para shahabat,  serta seluruh pengikut-pengikut beliau yang setia hingga hari kiamat.

Kita mengetahui dan meyakini bahwa Sesungguhnya Allah SWT telah mengutus Rasulullah SAW sebagai manusia pilihan yang terbaik sepajang zaman sekaligus sebagai suri tauladan bagi umatnya yang hidup dari generasi ke generasi hingga generasi kita saat ini. Sebagaimana firman Allah:

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah (Q.S Al Ahzab:40)

Allah SWT telah mewajibkan bagi umat Islam untuk menjadikan Rasulullah sebagai contoh yang terbaik dalam menjalani kehidupan ini. Karena sesungguhnya Beliaulah orang yang paling baik dalam segala hal dan dalam seluruh aspek kehidupannya, baik dalam akhlaknya, ibadah, bermasyarakat, dan bernegara. Beliaulah yang dipilih oleh Allah untuk dijadikan standart kehidupan bagi umat manusia jika manusia tersebut menghendaki kebaikan di dunia dan juga akhirat.

Menjadikan Rasulullah sebagai contoh artinyya adalah  mengikuti sunnah beliau dalam seluruh aspek kehidupan kita. Kita mengikuti perkataan beliau, mengikuti perbuatan beliau, dan diamnya, baik berupa larangan atau pun perintah belaiau. Karena sesungguhnya mengikuti perintah dan larangan Rasulullah merupakan  perintah Allah SWT pula yang  telah diwajibkan bagi kita sebagaimana dalam firman-Nya:

Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. Dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah amat keras hukumannya.(Q.S. Al Hasyr: 7)

Sesungguhnya ketaatan kita kepada Rasulullah merupakan bukti ketaatan kita kepada Allah SWT. Disamping itu Allah SWT menegaskan bahwa mengikuti sunnah Rasulullah adalah sebagai bukti cinta kita kepada kepada Allah SWT. Sebagaimana jika sesorang mencintai  sesuatu membutuhkan bukti, maka cinta kita kepada Allah pun  membutuhkan bukti yang jelas. Oleh karena itu, Allah akan menerima cinta hamba-Nya ketika cinta tersebut telah  dibuktikan dengan jelas dalam bentuk ittiba’ kepada Rasulullah. Allah SWT berfirman:

Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai maka ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.”Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. (Q.S Ali Imran:31)

Dari ayat di atas telah dijelaskan bahwa Allah akan membalas cinta hamba-Nya dengan cinta-Nya jika seorang hamba telah mengikuti sunnah Rasul-Nya. Bahkan ketika kita sebagai umat Islam mengikuti Rasulullah, maka diwajibkan bagi kita agar mengikutinya dengan senang hati dan tidak ada perasaan berat sedikit pun bagi kita. Diwajibkan bagi kita dengan sepenuh hati menerima dalam setiap keputusan beliau. Inilah bukti bahwa sesorang dikatakan benar-benar beriman. Allah berfirman:

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya )tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap keputusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (Q.S An Nisaa:65)

Jelaslah di sini bahwa mengikuti beliau dalam bentuk ketundukan kita terhadap perintah dan larangan beliau sangat erat sekali hubungannya dengan keimanan kita. Tidak dikatakan beriman kepada  Allah jika kita tidak benar-benar rela terhadap apa yang telah diputuskan oleh Rasulullah SAW.

Betapa besar kewajiaban kita untuk menjadikan Rasulullah sebagai suri tauladan dalam kehidupan ini, maka mengharuskan kita untuk mengikuti sunnah beliau dalam realita kehidupan ini baik sebagai individu atau pun sebagai suatu kaum/masyarakat.

Mengikuti sunnah beliau sebagai individu berarti bahwa kita mengikuti syariat Islam  yang telah beliau lakukan sebagaimana tata cara ibadah beliau, adab dan akhlak berpakaian, tanpa mencampur adukkan dengan yang hak dan yang batil.

Sedangkan mengikuti sunnah beliau sebagai masyarakat, maka kita mengikuti kehidupan belaiau dan para shahbat sebagai umat terbaik yang telah dikeluarkan oleh Allah kepada manusia. Allah berfirman:

Kamu umat yang terbaik yang dikeluarkan untuk manusia, yang memerintah kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar, dan kamu tetap beriman kepadad Allah SWT (Q.S Ali Imran: 110)

Allah telah memuji kehidupan beliau dan para shabat sebagai umat yang terbaik, sehingga sebaik-baiknya hidup bermasyarakat adalah sebagaimana kehidupan beliau bersama shahabat. Artinya bahwa kehidupan Rasulullah dan para shahabat merupakan standart yang dijadikan contoh bagi kita dalam hidup bermasyarakat. Kehidupan mereka laksana satu tubuh yang akan merasakan sakit jika ada tubuh lain yang sakit. Mereka memiliki satu pemikiran yang sama dan merasakan perasaan yang sama yaitu sama-sama tunduk kepada syariat Islam dan rela terhadap syariat Islam.

Dapat digambarkan di sini sebagai contoh betapa relanya mereka semua  dengan Syariat Islam yang beliau bawa sebagaimana ketika Allah memerintahkan diharamkan khomer,

Hai orang-orang yang beriman, sesungguhnya (meminum) khamar, berjudi, (berkorban untuk) berhala, mengundi nasib dengan panah[434], adalah termasuk perbuatan syaitan. Maka jauhilah perbuatan-perbuatan itu agar kamu mendapat keberuntungan.(Q.S Surat Al Maidah:90)

maka dengan serta merta semua khamr yang diminum oleh para shahabat dan yang mereka simpan telah dibuang ke jalan-jalan semuanya, tanpa satu pun orang yang menantang perintah tersebut. Mereka rela kebiasaan mereka selama ini yang sudah memasyarakat dirubah dengan kebiasaan baru yang Islami. Dan mereka siap saling mencegah ketika ada salah seorang yang melanggar perintah.

Dan juga bagaimana ketika turun ayat tentang memakai kerudung atau khimar bagi perempuan muslimah saat itu, maka dengan serta merta para kaum muslimah segera menutup kerudungnya tanpa punya rasa ragu sedikit pun. Sampai-sampai yang tidak memiliki kerudung, mereka telah merobek kain penutup jendela rumahnya untuk dijadikan kerudung.

Begitu pun ketika diperintahkan berjihad, maka mereka dengan segera tunduk tanpa rasa takut untuk menjalankan perintah tersebut. Masya Allah begitu menakjubkan kehidupan masyarakat Islam generasi shahabat ini, mereka layak mendapat gelar terbaik dari umat ini. kita Insya Allah akan mendapat gelar tersebut bila kita berusaha kembali kepada kehidupan tersebut. Bukanlah hal yang mustahil jika kita benar-benar ikhlas dan rela mewujudkan masyarakat tersebut, karena mengikuti sunnah dan menjadikan suri tauladan Rasulullah dan kehidupan beliau bersama shahabat adalah kewajiban sebagaimana sabda beliau:

Wajib atas kalian mengikuti sunnahku dan sunnah shahabatku (H.R Ibnu Majah).

Setiap beban kewajiban yang diperintahkan syara’ pasti bisa diwujudkan selama umat Islam benar-benar bersungguh-sungguh dalam mewujudkan hal itu.

Allah tidak memberi beban kepada sesorang melainkan berdasarkan kesanggupannya (Q.S Al Baqarah: 287).

* Disampaikan dalam Khutbah Jumat, 4 Januar1 2011

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s