Hukum Islam tentang Perbudakan (II)

Solusi Islam Membrantas Praktik Perbudakan

 

Sistem perbudakan telah menjadi bagian dari kehidupan masa lampau sebelum Islam datang. Orang yang berhutang dan mengalami kepailitan akan terkena dampak dari sistem ini, ia akan menjadi budak dari orang yang memberinya pinjaman. Seseorang yang menjadi budak akan mendapatkan hukuman dari tindakan kriminal atau kesalahan yang ia lakukan. Sistem ini pun memberikan peluang bagi orang merdeka untuk menjadikan dirinya sebagai budak, dan menjualnya kepada orang lain dengan syarat akan dimerdekakan kembali setelah masa yang disepakati keduanya. Suku yang kuat akan memperbudak suku yang lemah. Begitupula dengan para tawanan perang, mereka semua akan  menjadi budak. Lebih dari itu, semua penduduk satu wilayah menjadi budak bagi yang menguasai mereka. Namun demikian, ada juga sistem yang membatasi hanya terhadap tawanan perang yang dijadikan sebagai budak. Jadi seseorang yang tertawan dalam sebuah peperangan yang dijadikan budak, maka statusnya adalah sebagai budak.

Itulah fenomena kehidupan sebelum datangnya Islam. ketika Islam datang, ditetapkanlah aturan-aturan yang anti perbudakan. Masalah perang mendapat porsi penjelasan sendiri. Seorang debitur yang mengalami pailit ditangguhkan sampai ia mampu untuk membayar hutang-hutangnya. Allah berfirman;

“Dan jika (orang berhutang itu) dalam kesukaran, maka berilah tangguh sampai dia

berkelapangan…”,  (Q.S Al-Baqarah; 280).

 Islam juga menjelaskan hukuman-hukuman sebab tindak kriminal secara detail, terutama hal pencurian yang pada masa pra-Islam hukumanya adalah dijadikan budak. Dan itu digambarkan dalam Al-Quran,

“mereka menjawab; balasannya ialah pada siapa diketemukan (barang yang hilang) dalam  karungnya, maka dia sendirilah balasannya (tebusannya)…”, (Q.S Yusuf; 75).

Islam menetapkan hukuman pencurian adalah potong tangan. Firman-Nya menyebutkan;

 “laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya (sebagai) pembalasan dari apa yang mereka kerjakan….” (Q.S Al-Maidah; 38).

Perjanjian antara budak dengan tuannya adalah perjanjian atas dasar memerdekakan, bukan sebaliknya, memperbudak. Islam melarang keras memperbudak orang-orang merdeka. Nabi saw. bersabda;

“tiga golongan dimana saya adalah musuh mereka pada hari kiamat.  Pertama, orang yang memberikan kepadaku, lalu berkhianat. Kedua,  orang yang menjual orang yang merdeka lalu memakan harganya. Dan ketiga, orang yang memperkerjakan orang lain, setelah dikerjakan, ia tidak membayarkan upahnya”, diriwayatkan oleh Al-Bukhori.

Allah membenci penjual orang merdeka.  Islam menjelaskan secara detail hal-hal yang berhubungan dengan perang. Islam melarang memperbudak tawanan secara mutlak. Pada Tahun kedua Hijrah, Islam menjelaskan hukum tawanan, yaitu; melepas mereka tanpa tebusan, atau dengan tebusan dengan harta atau dengan melepas tawanan yang sama dari orang Islam atau dzimmi. Dengan begitu Islam melarang memperbudak para tawanan. Allah berfirman; 

“Apabila kalian bertemu dengan orang-orang kafir (di medan perang) maka pancunglah batang leher mereka. sehingga apabila kalian telah mengalahkan mereka maka tawanlah mereka dan sesudah itu kalian boleh membebaskan mereka atau menerima tebusan sampai perang berhenti…” ( Q.S. Muhammad; 4).

Ayat tersebut secara jelas menjelaskan perihal tawanan perang, yaitu membebaskan  atau  menerima tebusan, dan tidak bisa diartikan lain. Secara Bahasa hukum tawanan perang hanya ada dua; membebaskan atau menerima tebusan. Karena lafadz Imma berarti memilih antara dua hal. Dalam hal ini pilihan itu hanya al-mann atau al-fida

Timbul satu persoalan yang menjadi polemik, yaitu ketika seorang khalifah memandang perlu untuk memperbudak tawanan. Hal ini mengingat Nabi SAW. melakukan praktik perbudakan setelah turunnya ayat diatas. Sebab ayat itu turun pada tahun kedua Hijrah saat permulaan perang antara Rasul dengan orang kafir Quraisy. Dan Rasulullah saw. memperbudak tawanan saat perang Hunain. Tindakan Rasul adalah syariat, sebagaimana ia adalah tafsir terhadap ayat Al-Quran. Maka kenapa dilarang memperbudak tawanan perang berdasarkan ayat ini, sementara setelah turun ayat tersebut Rasul justru melakukannya? Jawabanya adalah; bahwa tindakan dan ucapan Rasul berkaitan dengan ayat Al-Quran bisa sebagai penjelas makna global, pembatas makna mutlak, penyempit makna umum.  Dan tidak ada yang bersifat menganulir (naskh) Al-Quran.

Ayat tawanan perang itu bukanlah ayat mujmal  yang butuh pada penjelasan lebih, bukan pula ayat ‘Am yang berarti ditakhsis, bukan juga mutlak sehingga di batasi. Kalau betul Nabi memperbudak tawanan setelah turunnya ayat, berarti tindakannya adalah menganulir ayat diatas. Dan itu tidak boleh. Lebih dari itu, hadits yang menjelaskan tindakan Rasul itu adalah hadits Ahad. Hadits itu bertentangan dengan ayat tawanan “membebaskan mereka atau menerima tebusan”. Ketika hadits Ahad bertentangan dengan dalil-dalil qoth’I dari ayat Al-Quran dan hadits, maka hadits Ahad tersebut ditolak. Dengan demikian, tidak bisa dijadikan pegangan hadits yang menjelaskan bahwa Rasulullah saw. memperbudak tawanan perang setelah turunnya ayat tawanan.

Sebab realitanya pada saat perang Hunain, kaum musyrikin membawa kaum wanita dan anak-anak untuk memperkuat pasukannya. Setelah mereka kalah, maka para wanita itu menjadi tawanan dan dibagikan kepada pasukan kaum muslimin. Ketika pulang dengan membawa tawanan, Nabi memberikan hak pasukannya, yaitu tawanan dengan kelembutan hati dan mengembalikan tawanan kepada keluarganya. Ini bukti bolehnya memperbudak tawanan, yaitu para wanita dan anak-anak yang ikut berperang demi memperkuat barisan musuh. Pada saat itu, Rasulullah saw. tidak memperbudak tawanan saat perang Khaibar. Ketika memenangkan perang Khaibar, Rasulullah saw. membiarkan mereka para tawanan tetap merdeka dan tanahnya tetap milik mereka. Mereka dapat bercocok tanam dengan menyerahkan separuh hasil panennya. Berkata Abu Ubaid tentang saby  (sebutan untuk tawanan perang wanita dan anak-anak), “seorang imam diberi pilihan dalam tawanan wanita selama belum dibagi, ketika sudah dibagikan, maka tak ada pilihan kecuali bersikap lembut kepada mereka, seperti yang dilakukan oleh Rasul saw pada tawanan perang Huna in. Namun Nabi saw tidak melakukan hal itu saat perang Khaibar, karena Rasul membiarkannya tetap merdeka.

Sementara terhadap pasukan perang laki-laki ketika dijadikan tawanan, Rasulullah saw. belum pernah memperbudak satu orang pun dari mereka. Tidak benar jika beliau telah memperbudak tawanan perang, dari Barat, Yahudi, juga Nasrani. Lafadz asiir, ketika dimutlakkan, berarti tawanan perang laki-laki. Sementara untuk wanita dan anak-anak menggunakan lafadz sabyu. Dengan demikian, jelaslah bahwa Islam melarang memperbudak tawanan perang laki-laki. Sementara untuk saby,  tawanan wanita dan anak-anak, seorang imam diberikan pilihan antara melepaskan dan memperbudak mereka, dan tidak ada tebusan. Hal ini pernah dilakukan Rasulullah saw. pada tawanan wanita Hunain. Namun akhirnya beliau melepaskan mereka. Sementara pada perang Khaibar, Nabi saw. membiarkannya tetap merdeka, dan tidak memperbudak mereka. Ketentuan ini jika para wanita dan anak-anak itu ikut terjun di arena pertempuran. Tetapi jika mereka tetap berada di rumah masing- masing, maka tidak boleh diapa-apakan.

Tindakan khalifah dalam masalah memperbudak tawanan wanita itu harus dengan pertimbangan strategi peperangan dalam memperlakukan musuh, dan bukan atas dasar ingin memperbudak mereka. Semuanya diserahkan pada kebijakan khalifah dengan mempertimbangkan kemaslahatan.  Dari uraian diatas, jelaslah bahwa Islam telah menawarkan solusi dalam memberantas praktik perbudakan. Islam melarang semua kondisi yang bisa terjadi praktik perbudakan. Islam memberikan  pilihan kepada khalifah dalam kasus saby  dengan memperhatikan sikap terhadap musuh. Dengan begitu, ia telah menetapkan untuk memperbudak tawanan wanita. Apalagi tidak dibenarkan mengikutsertakan wanita dan anak-anak dalam barisan perang seperti yang berlaku dalam peperangan modern selama beberapa kurun sampai sekarang. Tidak ada satu kondisi yang memberikan peluang praktik perbudakan. Itulah bukti bahwa Islam melarang praktik perbudakan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s