HUKUM SYARA’ DIBEBANKAN KEPADA SIAPA?

(Dikutip dari kitab Syakhsiyah Islamiyah Jilid III)

Mereka yang terbebani hukum adalah seluruh manusia, oleh karena itu  hukum itu dinyatakan sebagai seruan pembuat syara’ yang berkaitan dengan perbuatan hamba. Tidak  ada perbedaan dalam taklif hukum syara’ antara orang kafir dan orang mukmin, mereka semua adalah sasaran  seruan dari seruan pembuat syara’, mereka semua orang yang terbebani  hukum syara’. Dalilnya adalah nash-nash yang saling bertautan dalam topik ini, nash-nash  tersebut secara keseluruhan menunjukkan adanya penunjukan yang jelas yang tidak memungkinkan untuk ditakwilkan bahwa yang diseru dalam syari’ah Islam secara keseluruhan adalah seluruh umat manusia, baik kafir maupun muslim. Dia Ta’ala berfirman:

Sesungguhnya Kami telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan…” (TQS Al Baqarah(2):119)

Katakanlah: “Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu semua”(TQS Al A’raf(7):158)

Rasulullah bersabda:

“ Sungguh aku diutus untuk orang yang berkulit mereh maupun yang berkulit hitam” (Hadits dikeluarkan oleh Muslim)

Maksudnya untuk seluruh umat manusia. Ini  merupakan khitab yang bersifat umum untuk seluruh umat manusia yang mencakup muslim dan kafir, juga tidak boleh dikatakan bahwa khitab ini berlaku hanya untuk keimanan terhadap Islam dan tidak berlaku pada hukum-hukum cabang. Sebab khitab risalah itu artinya Iman terhadap risalah  dan bukan berarti mengamalkan hukum-hukum cabang. Tidak bisa dikatakan demikian, risalah itu  bersifat umum meliputi keimanan terhadap risalah tersebut serta pengamalan terhadap hukum-hukum cabang yang datang di dalamnya. Maka pengkhususan risalah tersebut hanya pada Iman saja merupakan takhsis tanpa ada yang menunjukkan adanya penghususan. Terlebih lagi kalau seandainya yang dimaksud itu dengan seruan pada manusia secara keseluruhan adalah seruan untuk mengimani Islam, sedangkan seruan hukum-hukum cabang hanya untuk kaum Muslim saja, itu berarti bahwa seruan pada sebagian manusia  dengan sebagian hukum dan mereka tidak diseru  dengan sebagian (hukum) yang lain. Maka kalau seandainya seruan sebagian dengan sebagian hukum itu diperbolehkan sehingga dikhususkan untuk sebagian manusia keluar dari khitab tersebut maka tentunya boleh juga untuk setiap hal yang yang datang di dalam syariat. Artinya  boleh juga yang seperti itu (berlaku) pada  kaedah-kaedah Islam yang berkaitan dengan Iman sebab  apa yang diperbolehkan atas suatu hukum diperbolehkan pula pada yang lain dan ini adalah bathil. Karena seruan tersebut tegas

“utusan Allah pada kalian semua” (TQS Al A’raf(7):158)

maka keimanan di dalamnya artinya menerima khitab tersebut sejak awal.  Sementara bahwa khitab terhadap manusia secara keseluruhan terhadap  hukum-hukum cabang telah ditetapkan secara jelas dalam Al Qur’an sebagaimana  khitab atas mereka terhadap risalah. Dia Ta’ala berfirman:

“(yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat dan mereka kafir akan adanya (kehidupan) akhirat”(TQS Fushshillat(41):7)

“Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Penyayang itu (ialah) orang-orang yang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik” (TQS Al Furqan(25):63)

“Dan orang-orang yang apabila membelanjakan (harta), mereka tidak berlebih-lebihan, dan tidak (pula) kikir, dan adalah (pembelanjaan itu) di tengah-tengah antara yang demikian. Dan orang-orang yang tidak menyembah tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina…” (TQS Al Furqan(25):67-68)

“Dan orang-orang yang tidak memberikan persaksian palsu…”(Al Furqan(25):72)

Ini secara keseluruhan merupakan hukum-hukum cabang yang  diserukan pada hamba-hamba Dzat Yang Maha Rahman, kalimat Ibadur-rahman mencakup kaum Muslim dan orang-orang kafir. Dia Ta’ala berfirman:

“pada hari itu manusia berkata: “Ke mana tempat lari?”(TQS Al Qiyamah(75):10)

“Dan ia tidak mau membenarkan (Rasul dan Al Qur’an) dan tidak mau mengerjakan shalat” (TQS Al Qiyamah (75):31)

“Tiap-tiap diri bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuatnya” (TQS Al Mudatstsir(74):38)

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar (neraka)?” Mereka menjawab: “Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat.” (TQS Al Mudatstsir(74):42-44)

Dan lagi sesungguhnya Allah SWT memerintahkan manusia secara keseluruhan untuk beribadah, maka orang kafir pun termasuk yang diperintahkan untuk beribadah. Dia Ta’ala berfirman:

Hai manusia, sembahlah Tuhanmu Yang telah menciptakanmu dan orang-orang yang sebelummu, agar kamu bertakwa” (TQS Al Baqarah(2):31)

“mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah” (TQS Ali Imran(3):97)

Ayat-ayat  ini jelas menunjukkan bahwa Allah membebani mereka dengan hukum-hukum cabang. Maka ayat-ayat tersebut menyeru mereka dengan hukum-hukum cabang, berarti mereka pun terbebani dengan hukum-hukum cabang tersebut. Kalau  seandainya mereka tidak terbebani hukum-hukum cabang lalu mengapa Allah mengancam mereka dengan acaman yang keras dengan siksa karena meninggalkannya. Dia Ta’ala berfirman:

“sungguh celaka bagi orang-orang Musyrik. (yaitu) orang-orang yang tidak menunaikan zakat…” (TQS Fushshillat(41):6-7)

“barangsiapa yang melakukan demikian itu, niscaya dia mendapat (pembalasan) dosa (nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab…” (TQS Al Furqan(25):68-69)

Dengan  begitu sungguh Allah telah menyeru pada orang-orang kafir dengan sebagian perintah dan larangan dari hukum-hukum cabang secara khusus, maka demikian pula untuk hukum-hukum cabang yang lainnya. Berdasarkan hal itu maka jelas bahwa orang-orang kafir pun diseru oleh syariat secara keseluruhan baik pokok maupun cabang. Sungguh  Allah akan menyiksa mereka karena mereka tidak beriman dan karena mereka tidak melaksanakan hukum-hukum tersebut. Maka dari sisi khitab tidak diragukan lagi bahwa mereka merupakan obyek khitab hukum-hukum.

Adapun  dari sisi pelaksanaan mereka atas hukum-hukum ini dan dari sisi penerapan daulah atas mereka  serta pemaksaan mereka untuk melaksanakannya, ini perlu ada rincian:

1. Jika pelaksanaan mereka atas hukum tersebut oleh mereka sendiri tanpa dipaksa maka hal tersebut dilihat terlebih dahulu:

a. Apabila hukum-hukum tersebut mensyaratkan adanya Islam dalam penunaiannya berdasarkan nash dari pembuat syara’ seperti shalat, puasa, haji, zakat dan ibadah-ibadah yang lain, demikian pula dengan shadaqah, perbuatan baik, maka tidak diperbolehkan atas mereka untuk menunaikan hukum-hukum tersebut dan mereka dilarang untuk mengerjakan hukum-hukum tersebut, karena syarat pelaksanaan hukum-hukum tersebut adalah adanya Islam sementara dia kafir, maka tidak diperbolehkan. Dan yang sejenis dengan itu adalah kesaksian dari orang kafir atas selain harta, dan menjadikan orang kafir sebagai penguasa atas kaum muslim atau qadhi diantara kaum Muslim atau yang semacam dengan itu yang merupakan bagian dari hukum-hukum yang nash-nash syara’ datang  bahwa tidak diperbolehkan orang kafir dan disyaratkan harus Islam.

b. Sedangkan hukum-hukum yang selain itu maka seandainya mereka melaksanakan diperbolehkan, seperti memerangi orang kafir bersama dengan kaum Muslim, karena memang tidak disyaratkan bahwa dalam melakukan peperangan (dengan orang kafir) hendaknya yang berperang adalah muslim. Islam bukanlah syarat di dalamnya, kerena itu boleh saja orang kafir melakukannya. Demikian pula dengan kesaksian dalam masalah harta, kedokteran, dan hal-hal tehnis yang lain yang memang tidak mensyaratkan adanya Islam. Ini jika  ditinjau dari sisi pelaksanaan mereka terhadap hukum-hukum cabang atas inisiatif mereka sendiri.

2.Adapun pembebanan pada mereka terhadap hukum-hukum tersebut secara paksa, ini perlu rincian lebih jauh:

a. Apabila hukum-hukum tersebut merupakan bagian yang khitab datang di dalamnya secara umum ddan tidak dibatasi oleh adanya syarat keimanan maka dikaji dulu, jika termasuk yang tidak diperbolehkan kecuali muslim karena Islam merupakan syarat di dalamnya atau merupakan hal-hal yang telah ditetapkan atas orang-orang kafir untuk tidak melaksanakannya maka mereka dalam dua keadaan ini tidak dipaksa untuk melaksanakannya dan juga seruan pembuat syara’ tersebut tidak diterapkan pada mereka. Khalifah pun  tidak memberikan sanksi pada orang-orang kafir karena mereka tidak beriman pada Islam, kecuali apabila mereka orang-orang musyrik Arab yang bukan ahlul-kitab. Itu berdasarkan firman-Nya Ta’ala :

Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam)…”(TQS Al Baqarah(2):256)

“sampai mereka membayar jizyah dengan patuh sedang mereka dalam keadaan tunduk” (TQS At Taubah(9):29)

serta ketetapan Rasulullah saw terhadap orang-orang Kafir Yaman untuk dibiarkan tetap pada agama mereka dan cukup dengan diambil jizyah dari mereka, namun orang musyrik Arab yang bukan ahlul-kitab memang dikecualikan dari hal tersebut, berdasarkan firman-Nya Ta’ala:

“…kamu akan memerangi mereka atau mereka menyerah (masuk Islam)” (TQS Al Fath(48):16)

ini khusus untuk orang-orang musyrik Arab selain ahlul-kitab.

Demikian  pula mereka tidak ditaklifkan untuk shalat dengan kaum Muslim dan mereka tidak dilarang untuk ibadah dengan ibadah mereka berdasarkan ketetapan Rasulullah SAW terhadap mereka, ibadah mereka dan gereja-gereja mereka di Yaman dan Bahrain serta penduduk Najran, dan Rasulullah tidak menghancurkan gereja-gereja meraka yang tidak masuk Islam. Ini menunjukkan bahwa mereka dibiarkan dengan apa yang mereka peluk dan yang mereka sembah. Dan tidak diterapkan pula atas mereka hukum jihad dan tidak dipaksakan atas mereka untuk jihad karena perang yang dituntut dalam ayat-ayat jihad adalah peperangan untuk (memerangi) semua orang-orang kafir dan orang kafir tidak didiskripsikan di dalamnya untuk memerangi dirinya sendiri. Mereka  juga tidak dipaksa untuk meninggalkan (minum) khamr dan juga tidak diterapkan pada mereka hukum khamr dan mereka juga tidak diberi sanksi karena meminumnya karena di Yaman yang di sana terdapat orang-orang nasrani, mereka minum khamr dan telah ditetapkan untuk kebolehan meminumnya, dan para shahabat ketika mereka menaklukkan berbagai negeri mereka tidak melarang orang-orang kafir untuk minum khamr.

Maka demikianlah, bahwa semua hukum yang Islam merupakan syarat sahnya  atau Rasulullah SAW menetapkan atas mereka  atau ijma’ shahabat menunjukkan tidak ada pemaksaan untuk melaksanakan hukum tersebut dan  khalifah pun  tidak menerapkan (hukum tersebut) atas mereka. Tapi  jika terdapat hukum yang Islam bukan merupakan syarat sahnya dan tidak terdapat nash syar’i yang menunjukkan adanya ketentuan untuk meninggalkan penerapannya atas mereka maka mereka dituntut untuk menerapkannya, dan mereka dipaksa untuk menerapkan hukum tersebut. Mereka  akan diberi sanksi apabila meninggalkannya. Karena orang kafir memang dituntut untuk melaksanakan hukum-hukum yang terdapat di dalam seruan pembuat syara’ dan tidak terdapat nash yang mensyaratkan Imam dalam (pelaksanaan) hukum sehingga orang kafir tidak terbebani hukum sebelum beriman dan memang tidak terdapat nash yang mengecualikan tuntutan di dalamnya, maka seruan tersebut tetap bersifat umum mencakup mereka (orang kafir).

Dalilnya  adalah penerapan hukum yang dilakukan oleh Rasulullah terhadap orang-orang kafir.  Dalam  hukum mu’amalah telah menjadi ketetapan dari beliau SAW bahwa beliau melakukan mu’amalah dengan mereka berdasarkan hukum Islam, demikian pula dalam hukum tentang sanksi-sanksi (uqubath). Telah menjadi ketetapan dari beliau bahwa beliau memberikan sanksi pada mereka yang melakukan pelanggaran. Dari Anas RA:

“bahwa sesungguhnya seorang Yahudi membenturkan kepala anak perempuan diantara dua batu, maka ketika anak perempuan tersebut ditanya siapa yang melakukan padamu dengan ini si fulan atau si fulan sampai dia sebut seorang Yahudi, maka orang Yahudi tersebut didatangkan, maka nabi SAW memerintahkan untuk dibenturkan kepalanya dengan batu” (Hadits dikeluarkan oleh Al Bukhari)

Dari  Abi Salamah Ibn Abdirrahman dan Sulaiman bin Yasar dari seorang laki-laki Anshar:

“bahwa Nabi SAW bersabda pada si Yahudi dan beliau memulai dengan mereka: “berusumpahlah lima puluh laki-laki dari kalian” merekapun menolak, maka Rasulullah bersabda pada orang Anshar: “terimalah yang benar yang mereka klaim dengan sumpah mereka”. Orang Ansharpun menjawab: kami bersumpah dengan yang ghaib wahai Rasulullah. Maka Rasulullah menetapkan diat untuk orang Yahudi karena ditemukan diantara mereka”. (Hadits dikeluarkan oleh Abu Dawud.)

Dari Jabir bin Abdillah berkata:

“Nabi SAW merajam seorang laki-laki dan seorang  wanita Yahudi” (Hadits dikeluarkan oleh Muslim)

Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa Rasulullah SAW telah memberikan sanksi pada orang-orang kafir sebagaimana kaum Muslim. Hal ini menunjukkan bahwa mereka dipaksa untuk melaksanakan hukum syara’ dan bahwa hukum syara’ tersebut diterapkan atas mereka sebagaimana diterapkan pada kaum Muslim, dan mereka diharuskan sebagaimana diharuskannya kaum Muslim dalam hukum mu’amalah, uqubath, dan semua hukum yang lain dan tidak ada pengecualian kecuali yang memang dikecualikan oleh syara’ dalam penerapannya dan bukan dalam seruannya. Yaitu hukum-hukum yang Islam merupakan syarat sahnya dan hal-hal yang ditetapkan oleh nash bahwa mereka tidak dipaksa untuk menerapkannya, selain itu syara’ menuntut mereka dan mereka dipaksa untuk menerapkan hukum tersebut.

Berdasarkan hal itu maka seruan pembuat syara’ yang berkaitan dengan perbuatan-perbuatan hamba itu bersifat umum berlaku bagi orang-orang kafir dan orang-orang Muslim, tidak ada perbedaan antara orang-orang kafir dan muslim, karena keumuman seruan pembuat syara’ di dalam risalah Islam. Kewajiban  penerapannya atas manusia itu bersifat umum diterapkan pada orang-orang kafir sebagaimana diterapkan pada kaum Muslim selama mereka tunduk dalam kekuasaan Islam. Mereka  dipaksa untuk melaksanakan hukum-hukum Islam dan mereka akan diberi sanksi apabila meninggalkannya. Tidak ada pengecualian atas hal tersebut kecuali yang memang dikecualikan oleh syara’, yaitu syara’ menjadikan Islam sebagai syarat sah atau penunaian hukum-hukum tersebut, dan apa yang syara’ tetapkan atas orang-orang kafir dan tidak dipaksa atas mereka untuk mengerjakannya baik dalam masalah pokok atau masalah cabang. Sedangkan selain itu mereka dan kaum Muslim  adalah sama.

Tidak bisa dikatakan bahwa Allah mengkhususkan orang-orang Mukmin dengan sebagian hukum, misalnya shalat, maka  orang-orang mukmin saja  yang menjadi obyek seruan di dalamnya, karena didasarkan apa yang terdapat di dalam seruan “wahai orang-orang yang beriman”,  itu berarti khusus untuk kaum Muslim. Sedangkan yang bersifat umum seperti jual-beli, riba maka itu umum bagi kaum Muslim dan non muslim, tentu tidak dapat dikatakan demikian, karena seruan “wahai orang yang beriman” maksudnya   adalah mengingatkan mereka dengan keimanan mareka dan bukan berarti seruan tersebut khusus untuk mereka, dalilnya (adalah) sungguh Allah Ta’ala berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh…” (TQS Al Baqarah(2):178)

Dan telah menjadi ketetapan dari Rasulullah SAW bahwa beliau menjadikan hukum qishas dalam pembunuhan tersebut  berlaku sama baik pada orang-orang kafir maupun kaum Muslim, karena firman-Nya:

“ bagi orang yang mengharapkan kembali pada Allah dan hari akhir..”(TQS Al Ahzab(33):21)

“ maka kembalilah pada Allah dan Rasul-Nya jika kalian beriman pada Allah dan hari akhir” (TQS An Nisa'(4):59)

“Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian” (TQS Al Baqarah(2):232)

Konteks ayat-ayat  yang ada tersebut menunjukkan bahwa penyebutan itu adalah untuk  mengingatkan hal-hal yang merupakan konskwensi dari keimanan pada Allah dan hari akhir, pada ayat yang pertama:

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah” (TQS Al Ahdzab (33):21)

“Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Qur’an) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya” (TQS An Nisa'(4):59)

“Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian” (TQS Al Baqarah(2):232)

Semuanya adalah tadzkir (mengingatkan). Maka berdasarkan prespektif ini sabda beliau SAW:

“barangsiapa yang beriman pada Allah dan hari akhir maka hendaknya dia berkata baik atau diam” (HR Al Bukhari)

Semuanya merupakan tadzkir tentang  keimanan dan bukan merupakan syarat dalam taklif hukum, bahkan juga bukan syarat absahnya juga bukan syarat penunaiannya, apalagi keimanan pada Allah dan hari akhir itu tidak (otomatis) menjadikan seseorang itu sebagai muslim. Orang Yahudi, mereka beriman pada Allah dan juga hari akhir, karena itulah Allah menyeru mereka dengan firman-Nya:

“Wahai orang-orang yang beriman, tetaplah beriman” (TQS An Nisa'(4):136)

Seruan ini untuk  orang Yahudi. Oleh karena itu adanya indikasi seruan dengan “wahai orang yang beriman” bukanlah berarti bahwa seruan tersebut dikhususkan bagi kaum Muslim saja, tapi itu merupakan tadzkir (untuk mengingatkan) tentang keimanan, sedangkan seruannya meliputi kaum Muslim maupun non Muslim karena keumuman seruan-seruan taklif tersebut. Karenanya maka seruan taklif tersebut tetap bersifat umum mencakup orang-orang kafir serta kaum Muslim.

Maka sungguh orang-orang kafir semua diseru dengan umumnya syariah baik pokok maupun cabang, dan khalifah diperintahkan untuk menerapkan semua hukum syara’ atas mereka. Dan pengecualian tersebut dari aspek penerapan hukum, bukan dari aspek seruan, yaitu pada hukum-hukum yang terdapat nash-nash (yang menjelaskan) baik dalam al-Qur’an atau Hadits bahwa  hukum tersebut tidak diterapkan atas mereka, atau hukum-hukum yang nash yang datang (menjelaskan) bahwa hukum-hukum tersebut khusus untuk kaum muslim. Selain  itu  seluruh hukum Islam diterapkan atas orang-orang kafir persis sama sebagaimana kaum Muslim.

SYARAT-SYARAT TAKLIF

Islam itu bukanlah syarat dalam taklif atas hukum-hukum cabang kecuali pada hal-hal  yang nash datang (dengan penjelasan) bahwa hukum cabang tersebut memang khusus untuk kaum Muslim, baik secara tegas (sharahah) seperti:

“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah” (TQS Al Hasyr (59):18)

“…berjihadlah (melawan) orang-orang kafir dan orang-orang munafik itu…” (TQS At Taubah(9):73)

“…dan Allah sekali-kali tidak akan memberi jalan kepada orang-orang kafir untuk memusnahkan orang-orang yang beriman” (TQS An Nisa'(4):141)

atau dalalah (dari nash), misalnya dimaafkannya orang kafir dari hukum tersebut, misalnya shalat, itu menunjukkan bahwa Islam merupakan syarat di dalam taklif. Maka Islam merupakan satu syarat dari beberapa syarat taklif pada hal-hal yang ada di dalamnya. Tapi, disana  terdapat syarat yang bersifat umum untuk taklif, tidak dibedakan antara seorang Muslim atau kafir, syarat-syarat tersebut adalah baligh, berakal, serta adanya kemampuan. Maka syarat orang mukallaf hendaknya dia baligh, berakal dan memiliki kemampuan untuk melaksanakan hal-hal yang dibebankan padanya.  Dari Ali Karramallahu wajhah, dia berkata: Beliau SAW bersabda:

“ pena diangkat dari tiga perkara, dari orang tidur sampai dia bangun, dari orang gila sampai dia sembuh dan dari anak kecil sampai dia baligh” (Hadits dikeluarkan oleh Imam Zaid dalam kitab Musnadnya)

Allah Ta’ala berfirman:

“sungguh Allah tidak membebani seseorang kecuali dengan kemampuannya” (TQS Al Baqarah(2):233)

Pengertian pena diangkat artinya diangkat taklif (darinya). Maka dia bukanlah orang mukallaf dan bukan menjadi obyek seruan hukum-hukum. Sadangkan pengertian “Allah tidak membebankan”  meski dalam bentuk peniadaan tapi terkandung pengertian adanya larangan, itu dikuatkan oleh sabda beliau Alaihis-salam:

“ jika aku memerintahkan tentang suatu perkara maka tunaikan perintah tersebut sesuai dengan kemampuan kalian”(Hadits dikeluarkan oleh Al Bukhari dan Muslim).

Tidak (bisa) dikatakan bahwa sungguh Allah mewajibkan zakat, nafkah dan jaminan-jaminan  pada  anak-anak dan orang gila maka itu berarti mereka mukallaf karena Allah bebankan sebagian hukum pada mereka. Tidak bisa dikatakan demikian. Sebab  kewajiban-kwajiban tersebut tidak berhubungan dengan perbuatan anak kecil dan orang gila, tapi itu berkaitan dengan harta milik anak kecil dan orang gila serta jaminan atas mereka berdua. Harta  dan jaminan tersebutlah obyek taklifnya.  Seruan pembuat syara’ pada keduanya yang berkaitan dengan harta jaminan itu tidak berkaitan dengan perbuatan, karena itu pena tidak diangkat dari keduanya. Karena pena itu diangkat dari seruan taklif yang berkaitan dengan perbuatan.  Terlebih lagi bahwa  pengangkatan pena tersebut dibatasi oleh tujuan yang jelas “sampai dia baligh” dan “ sampai dia sembuh” itu menunjukkan adanya ta’lil, dan illahnya adalah kecil, hilangnya akal dan ini tentu tidak tidak masuk dalam harta dan jaminan, maka tidak dikecualikan.

Tidak dapat dikatakan bahwa sesungguhnya Allah membebankan hal yang tidak mungkin karena Allah membebankan orang yang tidak memiliki kemampuan dalam melaksanakan hal-hal yang ditaklifkan. Sungguh Allah memerintahkan Abu Lahab untuk beriman dengan apa yang Allah turunkan, sementara Allah memberikan informasi tentang Abu Lahab bahwa dia tidak beriman, itu berarti mengumpulkan antara dua hal yang bertentangan maka Allah membebankan sesuatu yang mustahil, artinya Allah membebankan pada seseorang dengan hal yang diluar kemampuan dia. Tidak bisa dikatakan demikian, karena Allah membebankan pada abu Lahab pada awalnya adalah untuk beriman pada apa yang Allah turunkan dan bukan  Allah menurunkan setelah dia tidak beriman. Lalu  setelah itu Allah memberikan informasi tentang Abu Lahab, bahwa dia tidak beriman. Maka berita tentang Abu Lahab bahwa dia tidak beriman bukanlah termasuk sesuatu yang ditaklifkan bagi Abu Lahab untuk membenarkannya, karena informasi tersebut lebih belakang dari dalil yang menunjuk pada  wajibnya iman.

Ini dari sisi syarat-syarat taklif dalam hukum pada awalnya, adapun diangkatnya suatu hukum atas mukallaf setelah ditaklifkan bukanlah syarat taklif tetapi itu merupakan alasan-alasan  yang dibolehkan untuk meninggalkan hukum yang dibebankan padanya. Itu berlaku seperti pada orang yang dipaksa, orang yang keliru, dan orang yang lupa. Maka diangkatnya  kesulitan dari mereka karena tidak dapatnya melaksanakan apa yang dibebankan dan bukan karena mereka sejak awal memang tidak mukallaf. Karenanya  itu bukanlah salah satu  syarat taklif. Itu berdasarkan sabda beliau SAW:

“telah diangkat dari umatku kesalahan, lupa dan apa-apa yang dipaksakan padanya” (Hadits dikeluarkan oleh Ibnu Majah)

perhatikan perbedaan antara sabda beliau “ telah diangkat pena” dengan sabda beliau: “telah diangkat dari umatku”. Maka sabda beliau: “telah diangkat pena” artinya  adalah telah diangkat taklif, maka dia tidak dibebani, sedangkan sabda beliau: “telah diangkat dari umatku”, maksudnya adalah telah diangkat penilaian dari umatku; dan itu tidak mengharuskan mengangkat taklif. Maka pemaksaan yang dianggap syar’i adalah al-ikrah al-mulji’u (pemaksaan yang membahayakan) untuk (melakukan) perbuatan yang tidak ada peluang untuk meninggalkan, apabila tidak  sampai batas yang membahayakan maka tidak ada masalah; tapi apabila  pemaksaan tersebut tidak sampai menimbulkan bahaya maka berarti ada pilihan oleh karena itu dihukumi.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s