REVITALISASI PERAN ULAMA

Sebagaimana diriwayatkan oleh Iman Ahmad, Rasulullah pernah bersabda bahwa “Di tengah-tengah umat, ulama bagaikan lentera yang bersinar terang, membimbing dan menunjukkan jalan yang benar. Apabila ulama terbenam, maka jalan akan kabur”. Ulama adalah warasah al-anbiyâ’ (pewaris para nabi). Merekalah yang mewarisi tugas para nabi dan rasul dalam menyampaikan dakwah dan melakukan amar makruf nahi mungkar. Akan tetapi, apabila ulama tenggelam maka yang terjadi adalah kebingungan umat. Hal ini membuktikan bahwa betapa pentingnya peran ulama dalam kehidupan kaum muslimin. Hal ini telah terbukti ketika dahulu banyak imam besar yang bisa berperan besar dan bahkan menjadi rujukan problem solving kehidupan kaum muslimin. Kita tahu Imam Bukhari yang terkenal dengan karyanya yang paling monumental yaitu  kitab Al-Jami’ as-Shahih yang lebih dikenal dengan nama Shahih Bukhari. Demikian juga dengan Imam Ghazali, sebuah nama yang tidak asing di telinga kaum muslimin. Tokoh terkemuka yang memiliki pengaruh dan pemikiran yang telah menyebar ke seantero dunia Islam, dengan karya yang hebat yaitu kitab Ihya Ulumuddin. Dan masih banyak lagi ulama-ulama hebat yang menjadi “lentera kehidupan” bagi kaum muslimin.

Hal ini sangat berbeda kondisinya dengan ulama saat ini. Saat ini, ulama sudah mulai terpinggirkan tergerus dengan perkembangan jaman dan teknologi. Mereka tidak lagi menjadi bagian penting dari umat ini. Tidak ada prestasi besar dari ulama seperti Imam Bukhari, Imam Muslim, Imam Ghazali, dll. Ulama saat ini lebih menyukai disebut sebagai “Cendekiawan Muslim”, yang seolah-olah merupakan sekumpulan ulama ekslusif. Ulama hanya dianggap hanyalah berperan kecil dalam kehidupan, tidak seperti yang telah disampaikan oleh Nabi Saw, “ulama bagaikan lentera yang bersinar terang, membimbing dan menunjukkan jalan yang benar”. Tidak jarang pula, ulama saat ini sepertinya kurang mendapat tempat dihati masyarakat. Hal ini sebenarnya imbas dari tingkah polah para ulama itu sendiri, yang seringkali kurang memberikan perhatian dan kurang memberikan solusi yang tepat terhadap problem-problem yang terjadi di masyarakat, para ulama hanya berkutat mengurusi hal-hal kecil seperti fatwa pengharaman rokok, pengharaman nikah sirri, yang justru malah membuat kontroversi ditengah-tengah umat, bukan malah menjadi lentera ditengah-tengah umat. Bahkan fatwa-fatwa mereka tidak jarang dijadikan bahan olokan oleh sebagian kaum muslimin dan sama sekali tidak memiliki kekuatan hokum dimata umat, sehingga fatwa-fatwa yang telah diserukan bukan lagi dianggap sebagai suatu seruan yang begitu dihormati karena memiliki kekuatan hokum. Hal ini patut kita sesali mengingat betapa pentingnya peran ulama dalam kehidupan kaum muslimin. Apa yang sebenarnya terjadi, dan bagaimana seharusnya peran ulama dalam kehidupan kaum muslimin?

Peran Ulama Dalam Kehidupan Kaum Muslimin

Ulama sebagaimana yang telah disampaikan oleh Rasulullah harus bisa menjadi “lentera” dalam kehidupan kaum Muslimin. Seperti apa peran ulama itu, maka ada 5 peran ulama yang harus dilakukan yaitu :

  1. Menjaga kejernihan Aqidah kaum Muslimin

Salah satu penyebab dari kemunduran kaum muslimin saat ini adalah adanya kemerosotan nilai aqidah. Dengan kata lain adalah telah ditinggalkannya  aqidah Islam sebagai pandangan hidup kaum muslimin. Bencana ini berawal dari dijauhkannya umat Islam dari permata mereka, al-Quran dan as-Sunnah, sebagai standar berpikir umat. Kelemahan berpikir ini menjadikan masyarakat bertindak berdasarkan pola pikir dangkal dan pragmatis. Ketertinggalan di berbagai sisi kehidupan menjadi konsekuensi logis dari kemunduran pola beripikir ini. Kaum Muslimin saat ini lebih memilih pemikiran-pemikiran  seperti  pluralisme, liberalisme, serta cabang dan ranting sekularisme yang lain dari pada aqidah Islam. Oleh karena itu, Ulama adalah kelompok yang paling stategis untuk meningkatkan taraf berpikir umat. Caranya adalah pertama ulama harus  menjelaskan secara jernih kerusakan pemikiran-pemikiran (sekularisme, pluralism, dll) kepada kaum muslimin, kedua Ulama harus menyerukan kepada kaum muslimin untuk kembali menjadikan Aqidah Islam sebagai pandangan hidup. Kaum muslimin diarahkan untuk senantiasa mengaitkan setiap persoalan yang terjadi dalam kehidupan ini dengan cara pandang Islam.

  1. Melakukan perang pemikiran (ash-shirâ‘ al-fikri).

Seiring dengan perkembangan zaman, tidak bisa dipungkiri lagi banyak pemikiran-pemikiran kuffur yang telah menyerang kaum muslimin. Bahkan saat ini kaum Muslimin telah dalam taraf “demam pemikiran barat” daripada pemikiran Islam. Sejatinya hal ini tidaklah mengherankan, karena pada masa Rasulullah, beliau senantiasa berkonfrontasi dengan kekufuran dan berbagai bentuk kemusyrikan masyarakat Arab. Kini, kita pun sejatinya selalu berkonfrontasi dengan berbagai bentuk pemikiran kufur. Samuel P. Huntington dalam bukunya, The Clash of Civilizations and Remaking of World Order (Benturan Peradaban dan Masa Depan Politik Dunia) menyatakan keniscayaan benturan peradaban, terutama antara peradaban Islam dan Barat (Kapitalisme). Karena itu, perang pemikiran adalah kenyataan yang harus dihadapi kaum Muslim. Bahkan saat ini musuh kaum muslimin bukan saja dari orang-orang kuffur, akan tetapi kita juga berhadapan dengan putra-putra kaum Muslim yang kadang pola pikirnya bahkan  lebih “Barat” daripada orang-orang Barat sendiri. Khaled Abu al-Fadl, profesor Hukum Islam di UCLA, AS dalam situs JIL pernah menyatakan,  “Hak Asasi Manusia di atas Hak Asasi Allah.”  Nurchalis Madjid telah dinobatkan sebagai “Bapak Pluralisme” oleh JIL. Pradana Boy ZTF, salah seorang presidium JIMM (Jaringan Intelektual Muda Muhammadiyah) dalam suatu kesempatan pernah mengatakan, bahwa Nabi Muhammad itu adalah seorang yang liberal. Oleh karena itu salah satu tugas penting Ulama adalah melakukan perang pemikiran (ash-shirâ‘ al-fikri) dalam rangka untuk menyelamatkan kaum muslimin dari gempuran pemikiran-pemikiran yang bisa menghancurkan aqidah kaum muslimin.

  1. Memberikan solusi terhadap berbagai persoalan masyarakat.

Islam adalah serangkaian aturan hidup yang berfungsi sebagai solusi terhadap persoalan-persoalan masyarakat.  Solusi-solusi tersebut terangkai dalam suatu sistem hukum. Ulama adalah yang pihak yang paling kredibel untuk menjelaskan semua itu.  Persoalan masyarakat dari masalah kebobrokan moral, pengangguran yang kian membengkak,  kemiskinan yang kian tersistematisasi, kesehatan dan pendidikan yang terus dikomersialisasi, korupsi yang makin meningkat, dll yang kesemuanya itu perlu solusi. Dan sekali lagi hanya Ulama-lah yang bisa menjelaskan kepada kaum muslimin bahwa hanya Islam-lah yang mampu untuk menyelesaikan berbagai persoalan secara komprehensif.

  1. Membongkar konspirasi penjajah.

Saat ini banyak kebijakan-kebijakan pemerintah yang lebih condong kepada kepentingan kaum capital. Adanya kebijakan-kebijakan yang kurang mendukung rakyat ini harus diwaspadai, apalagi kemudian para  fakta yang terjadi adalah para penguasa negeri Muslim tunduk terhadap kebijakan-kebijakan negara adidaya. Ini harus dimaknai sebuah konspirasi.  Didiktenya berbagai kebijakan ekonomi negara oleh lembaga-lembaga internasional seperti IMF, IDB dan konsorsium moneter lainnya adalah sebuah konspirasi. Dikuasainya aset-aset publik (seperti minyak bumi, gas, air, listrik) dengan diawali perubahan UU yang memberikan kepada asing untuk mengelolanya adalah sebuah konspirasi. Exxon Mobil yang mencaplok Blok Cepu ditengarai oleh pengamat sebagai win win solution AS dengan negara ini. Kongres AS mendukung sepenuhnya Papua tetap berintegrasi dengan Indonesia, asalkan  Blok Cepu diberikan kepada Exon Mobil. Bagi AS, “No free lunch!” Tidak ada makan siang gratis. Rakyat banyak akhirnya harus menjadi korban. Di luar negeri, penjajahan militer AS terhadap Irak dan Afganistan, invasi Israel atas Libanon dan Palestina, serta dengan diamnya negara-negara Arab terhadap penjajahan dan serangan itu adalah sebuah konspirasi.  Hal itu karena AS dan sekutu-sekutunya tidak akan dengan mudah menyerang negeri-negeri Islam tersebut jika tanpa dukungan penguasa-penguasa yang telah berkhianat. Semua peristiwa politik di atas sudah seharusnya disadari oleh para ulama pewaris nabi. Para ulama bahkah wajib menjelaskan semua konspirasi ini kepada umat. Dengan begitu, umat pun menyadari bahayanya.

  1. Melakukan kontrol terhadap penguasa (muhâsabah li al-hukkâm).

Inilah aktivitas pokok seorang ulama. Di hadapan penguasalah reputasi seorang ulama dipertaruhkan. Rasulullah saw. bersabda (yang artinya), “Hendaklah kalian menyuruh kebaikan dan mencegah kejahatan. Hendaklah kalian melarang penguasa berbuat zalim dengan menyatakan kebenaran di hadapannya. Janganlah kalian menutup-nutupi kebenaran itu.  Kalau tidak, nanti Allah akan menaruh rasa dendam di hati kalian dan permusuhan di antara sesama kalian, atau nanti Allah akan mengutuk kalian sebagaimana Dia mengutuk kaum Bani Israil.(HR Abu Dawud dan at-Tirmidzi). Imam Malik bin Anas. Beliau pernah memberikan fatwa bahwa tidak sah perceraian yang dipaksakan. Bagi masyarakat, fatwa ini bagaikan embun yang menyejukkan.  Namun, lain dengan penguasa al-Manshur saat itu. Fatwa ini  menyinggungnya. Lalu al-Manshur memanggil Imam Malik dan meminta kepadanya agar mencabut fatwa tersebut.  Namun, Imam Malik tetap berpegang teguh pada pendiriannya. Dari sinilah kemudian gerak-gerik Imam  diawasi dan dipersempit sampai ia ditangkap dan dimasukkan di penjara.

Penutup

Pada akhirnya kita bisa mengetahui bahwa peran ulama sangat penting bagi kaum muslimin. Akan tetapi perlu ditegaskan bahwa memang betul ulama mempunyai peran penting bagi kaum muslimin dalam kehidupan ini, tetapi bukan berarti peran penting ulama salah dipahami menjadi kepemimpinan ulama terhadap kaum muslimin. Mengakui pentingnya ulama berarti menjadikan ulama sebagai pihak yang bisa dijadikan rujukan setiap permasalahan karena keilmuannya. Hal ini berbeda dengan ketika kaum muslimin mengakui pentingnya ulama karena figure ulama atau ketokohan ulama itu sendiri. Pemahaman akan pentingnya peran ulama karena figure ulama sangat berbahaya bagi kaum muslimin, karena nantinya baik buruk suatu perbuatan akan selalu tergantung pada figure ulama tersebut. Padahal baik buruk suatu perbuatan bukan tergantung ulama, akan tetapi tergantung karena aqidahnya. Karena tidak sedikit ulama yang memanfaatkan keilmuannya hanya sekedar memuaskan hawa nafsu mereka, benar adalah menurut kepentingan mereka, salah juga menurut kepentingan mereka. Rasulullah bersabda :

«أَلاَ إِنَّ شَرَّ الشَّرِّ شِرَارُ الْعُلَمَاءِ وَإِنَّ خَيْرَ الْخَيْرِ خِيَارُ الْعُلَمَاءِ»

Ingatlah, sejelek-jelek keburukan adalah keburukan ulama dan sebaik-baik kebaikan adalah kebaikan ulama. (HR ad-Darimi).

Semoga kita senantiasa waspada terhadap segala tipu muslihat dari musuh-musuh Allah yang senantiasa mengintai kaum muslimin. Semoga bermanfaat, wallahu ‘alam bishowab.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s