POLEMIK PEMBERIAN GELAR PAHLAWAN

(Membakar semangat para pejuang menuju perubahan demi masa depan umat)

Oleh: Ustadzah Faizah

REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA, Kemensos akan mengajukan 10 nama tokoh yang telah diseleksi untuk memperoleh gelar pahlawan nasional kepada Dewan Gelar, Tanda Kehormatan, dan Tanda Jasa. Selain mantan presiden Soeharto yang dari Jawa Tengah, sembilan nama lagi adalah mantan Gubernur DKI Ali Sadikin dari Jawa Barat, Habib Sayid Al Jufrie dari Sulawesi Tengah, mantan Presiden KH Abdurrahman Wahid dari Jawa Timur.Andi Depu dari Sulawesi Barat, Johanes Leimena dari Maluku, Abraham Dimara dari Papua, Andi Makkasau dari Sulawesi Selatan, Pakubuwono X dari Jawa Tengah,dan Sanusi dari Jawa Barat. Dari kesepuluh nama tersebut, yang paling mendapat perhatian hanya dua nama yaitu KH Abdurrahman Wahid alias Gusdur dan Soeharto. Namun yang paling mendapat silang pendapat adalah pengajuan mantan presiden Soeharto yang pernah menetapkan dirinya sebagai bapak pembangunan tersebut. Pengusulan Soeharto menjadi pahlawan nasional ditanggapi beragam masyarakat kita. Sebagian mengatakan pantas, namun sebagian besarnya lagi mengatakan sangat tidak layak.

YOGYAKARTA, KOMPAS.com sejarawan dari Universitas Gadjah Mada Yogyakarta Suhartono, mengatakan pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto jangan dilakukan terlebih dahulu, karena masih terjadi pro-kontra, Sabtu (23/10/2010). kalangan masyarakat yang pro dengan pemberian gelar terhadap mantan presiden Soeharto,  menilai bahwa Soeharto patut mendapat gelar sebagai pahlawan nasional karena beliau telah mampu membangun negeri ini selama 32 tahun, beliau juga dinilai sebagai penyelamat pancasila, memberantas PKI dll. Hal ini juga di ungkapkan oleh mantan wakil presiden Try sutrisno “Kita harus menghargai orang tua, tanpa orang tua kita tidak bisa seperti sekarang ini,”.Kesalahan Soeharto di masa lampau menurut Try tidak perlu diungkit-ungkit lagi. Apalagi jika yang bersangkutan telah tiada.“Sebagai orang Muslim, Allah memerintakan agar kita kenang-kenanglah yang baik. Kalau yang buruk kata orang Jawa bilang pendem jero,” ucapnya sambil tersenyum

Lain halnya dengan kalangan masyarakat yang kontra setiap kali diwacanakan pemberian gelar pahlawan nasional kepada Soeharto muncul penolakan yang kuat terutama dari penggiat antikorupsi dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) seperti kasus Tanjung Priok (1984), Talangsari (1989), penculikan dan penghilangan paksa (1997/1998), hingga kerusuhan 1998. Selain itu Soeharto juga dinilai terkena kasus korupsi, kolusi dan nepotisme. Hal ini bertentangan dengan pasal 4 Tap MPR No XI/1998 tentang Penyelenggaraan Negara yang Bersih dan Bebas Korupsi, Kolusi dan Nepotisme. Karena itulah jika Soeharto tetap diberikan gelar pahlawan maka akan melanggar ketentuan tersebut. ”.

Dengan pertimbangan itu, maka belum saatnya untuk memberikan gelar pahlawan nasional kepada Soeharto karena masih ada waktu bagi pemerintah untuk memberikan gelar tersebut tanpa ada penolakan dari  elemen masyarakat,” kata guru besar UGM. Ia mengatakan pemberian gelar pahlawan kepada seseorang sudah ada instansi yang mengurusnya dengan kategori dan kriteria yang telah ditentukan.”Pemberian gelar pahlawan kepada Soeharto lebih tepat dilakukan menjelang masa jabatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) berakhir sehingga SBY tidak lagi direpotkan dengan penolakan berbagai aktivis antikorupsi dan HAM,” Kalau kita flash back sebentar, umumnya masyarakat kecil menilai bahwa ketika pemerintahan berada di tangan Soeharto keamanan terjamin, kebutuhan mereka bisa tercukupi, Soeharto pun dirasa banyak melakukan berbagai pembangunan seperti gedung-gedung, yayasan, sekolah-sekolah dll. Lalu siapakah dan apakah pula yang menyebabkan rakyat menderita kelaparan kemiskinan, kebodohan saat ini?  Pantaskah seorang Pahlawan menggadaikan rakyatnya? Bagaimana urgensi pahlawan sesungguhnya?

Definisi Pahlawan

Pahlawan adalah orang yang telah berjuang untuk bangsa dan negaranya dalam memperjuangkan kemerdekaan ataupun mengisi kemerdekaan. Dalam sejarah kita mengenal berbagai pahlawan seperti pahlawan nasional, pahlawan revolusi, pahlawan kemerdekan dll.

Pemberian gelar Pahlawan ini diatur dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2009 tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan. Untuk gelar, hanya satu yang disebut dalam UU ini,yakni Gelar Pahlawan Nasional. Pasal 25 mengatur syarat umum terdiri atas, WNI atau seseorang yang berjuang di wilayah yang sekarang menjadi wilayah NKRI, memiliki integritas moral dan keteladanan, berjasa terhadap bangsa dan negara, berkelakuan baik, setia dan tidak mengkhianati bangsa dan negara, dan tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap karena melakukan tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara paling singkat 5 (lima) tahun, sedangkan syarat khusus diatur Pasal 26. Gelar

Pahlawan Nasional diberikan kepada seseorang yang telah meninggal dunia dan yang semasa hidupnya: pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata atau perjuangan politik atau perjuangan dalam bidang lain untuk mencapai, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa; tidak pernah menyerah pada musuh dalam perjuangan; melakukan pengabdian dan perjuangan yang berlangsung hampir sepanjang hidupnya dan melebihi tugas yang diembannya, pernah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara; pernah menghasilkan karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa; memiliki konsistensi jiwa dan semangat kebangsaan yang tinggi; dan/atau melakukan perjuangan yang mempunyai jangkauan luas dan berdampak nasional. Secara garis besar dapat ditarik kesimpulan para pahlawan itu sebenarnya memperjuangkan apa?

Istilah pahlawan pada dasarnya merupakan pemikiran yang dipengaruhi oleh hadhoroh (peradaban) tertentu baik kapitalis atau pun komunis. Bagaimana dengan Islam?

Berdasarkan sabda Rosulullah:”Bukan dari golongan kami orang-orang yang menyeru kepada ashobiyah (nasionalisme/sukuisme),orang-orang yang berperang karena ashobiyah serta orang-orang yang mati karena ashobiyah”. (HR. Abu Daud)

Bagaimanakah dengan para pejuang seperti Pangeran Diponegoro, Pangeran Imam Bonjol, Pattimura dll? Benarkah perjuangan mereka untuk kemerdekaan Indonesia? Ataukah karena semata-mata untuk agama mereka, melindungi hak-hak mereka?

Indikator Orang yang Berjuang di Jalan Allah

  1. 1. Mentaati dan menjalankan aturan Allah

“Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”. (QS Adz Dzaariyaat 56)

Telah dijelaskan bahwa Allah menciptakan manusia semata-mata untuk beribadah kepadaNya. Bumi yang terhampar luas, langit yang menjulang tinggi dan segala isinya yang beraneka ragam, semuanya Allah ciptakan untuk seluruh umat manusia, setelah itu lantas apakah kita akan berpaling kepadaNya?

Allah telah memberikan pedoman pada manusia berupa Al Qur’an dan As Sunnah yang mengatur hidup manusia. Pedoman itu bukan sebagai simbol saja, tapi disana berisi tentang aturan- aturan Allah baik dalam aqidah atau pun syariah yang wajib dijalankankan oleh kaum muslimin. Oleh karena itu setiap kaum muslimin perlu memperhatikan ketika akan melakukan amal perbuatan, apakah haram, makruh, mubah, wajib dan mandub karena Allah akan menanyai kelak di hari pembalasan. Allah swt berfirman: “Maka demi Tuhanmu, kami pasti akan menanyai mereka semua tentang apa yang telah mereka kerjakan dahulu”. (QS. Al Hijr 92-93)

  1. 2. Memperjuangkan Agama Allah

“Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong agama Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu”. (QS. Muhammad: 7)

Dalam surat ini jelas tersurat, mengajak semua kaum muslim untuk memperjuangkan agama Allah yaitu agama Islam. Dengan mengembalikan aqidah kaum muslimin. Apakah kita sebagai muslim mau hidup dengan penuh penderitaaan, ketertindasan, kebodohan, kemelaratan? Jawabannya tentu tidak!

Oleh karenanya kaum muslimin harus bersatu padu berjuang untuk agama ini. Kenapa? karena sesungguhnya saat ini kita belum mencapai kemerdekaan yang hakiki. Kaum muslimin masih berada dalam cengkraman kapitalis, komunis, sosialis, pluralis, dan lain sebagainya. Sedangkan Islam tidak bisa hidup dengan paham-paham itu secara berdampingan, jika berdampingan muncullah suatu kompromi. Aturan-aturan yang diterapkan jadi kompromi bukan semata-mata aturan dari Allah swt. “Barang siapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang di turunkan oleh Allah, maka mereka itu adalah orang-orang kafir,…,orang-orang dzalim,…,dan orang-orang fasik.” (QS Al Maidah 44-47) ”Apakah hukum jahiliyah (hukum selain Islam) yang mereka kehendaki? Padahal siapa sesungguhnya yang lebih baik hukumnya daripada hokum Allah bagi orang-orang yang meyakini”. (QS. Al Maidah: 50). Karenanya umat muslim saat ini sangat membutuhkan para pejuang sejati, pejuang yang berjuang untuk menegakkan aqidah dan hukum islam sehingga terbebas dari belenggu kapitalisme, pluralism, komunisme dll.

Biarlah Allah yang mengetahui perjuangan kita, tidakkah akan lebih bangga jika mendapat gelar dari Allah?

Muttaqin, Muhlisin, Mujahidin adalah beberapa gelar bagi kaum muslimin yang berjuang untuk agama Allah. Apakah tidak terbesit dalam diri kita untuk menjadi seorang muttaqin, muhlisin ataupun mujahidin?

Allah swt berfiman dalam Qur’an surat Al At Taubah 20 “orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah; dan itulah orang-orang yang mendapat kemenangan”.

“Dan hendaklah ada segolongan umat dari kamu sekalian yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah kepada yang munkar, dan merekalah orang-orang yang beruntung.”(QS. Al Imron:104)

Khatimah

Kaum muslimin wajib berjuang untuk agamanya yakni berjuang mengembalikan aqidah dan hokum Islam dengan menyampaikan pemikiran-pemikiran Islam; menuju perubahan yang lebih baik,sehingga umat mampu menerapkan hukum Islam disegala aspek kehidupan. Karena  memang Islam adalah agama dan ideologi (Mabda’) yang sempurna yaitu problem solving segala persoalan dan paripurna yaitu mencakup segala aspek kehidupan..

Satu pemikiran pada “POLEMIK PEMBERIAN GELAR PAHLAWAN

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s