Negara Islam Mendiskriminasi Non Muslim?

­(Telaah Fakta Hukum 3 Ideologi di Dunia dalam Mengatur Agama)


Oleh: Ustadz Umar Sulaiman

Jika Negara Indonesia menjadi Negara Islam maka akan terjadi disk riminasi terhadap agama tertentu, karena di Indonesia tidak hanya agama Islam saja yang eksis tetapi ada berbagai agama yang berbeda. Konsep Negara Islam tidak cocok diterapkan di negeri ini yang terdiri dari berbagai suku, agama, dan golongan. Buktinya pemberontakan NII (Negara Islam Indonesia) tidak diterima masyarakat Indonesia secara luas dan tidak berhasil menggulingkan kekuasaan yang sah menurut konstitusi. Konsep yang cocok dan menaungi seluruh agama dan melindunginya adalah konsep yang  memberikan kebebasan kepada setiap pemeluk agama agar menjalankan agama dan kepercayaannya masing-masing sebagaimana dalam pasal 29 UUD 1945.

Islam tidak perlu diformalisasi dalam bentuk hukum-hukumnya yang telah turun ratusan abad silam, cukup diambil substansi dari ajaran Islam tersebut yang lebih universal bagi semua golongan sehingga tidak ada pemaksaan hukum Islam dalam sebuah Negara. Islam adalah sebuah agama yang suci dan menjadi kotor jika masuk dalam ranah politik.

Jawaban:

Islam merupakan salah satu agama di antara beberapa agama yang ada di Indonesia. Akan tetapi ada perbedaan yang besar antara agama Islam dengan agama-agama lainnya. Di satu sisi Islam memiliki ranah yang sama dengan agama lain, yaitu spiritual yang mengatur urusan dalam aqidah, ibadah, dan akhlak. Di sisi lain Islam mengatur urusan kehidupan politik, sosial, ekonomi, pendidikan, dan  bidang lain dalam seluruh aspek kehidupan. Oleh karena itu Islam tidak hanya sekedar agama tetapi juga merupakan sebuah ideologi  yang menjadi asas Negara dalam mengatur segala  urusan-urusan kehidupan.

Kedudukan Islam sebagai ideologi membuat Islam memiliki kedudukan yang berbeda dengan agama lain karena wilayah yang diatur oleh  Islam jauh lebih luas, yaitu urusan spiritual dan seluruh kehidupan manusia dalam bermasyarakat. Kita bisa menemui dalam Islam hukum tentang ibadah dan akhlak, selain itu kita juga bisa menemui hukum pemerintahan Islam, pendidikan Islam, pergaulan Islam, ekonomi Islam, dan pengadilan Islam. Hukum-hukum tentang masalah kehidupan sebagaimana dalam pemerintahan, pendidikan, dan lain-lain tidak ditemui dalam hukum-hukum agama lain secara sempurna dan rinci. Jika kita bertanya kepada agama selain Islam tentang aturan agama mereka terhadap masalah-masalah tersebut maka tidak akan ditemui dalam kitab-kitab mereka kecuali masalah aqidah, ibadah, akhlak, dan beberapa hukum berkaitan dengan sanksi terhadap pelanggaran walaupun belum sempurna. Hal ini bukan berarti menyudutkan agama selain Islam, akan tetapi merupakan fakta yang dapat dibuktikan dan diketahui para intelektual baik dari Islam maupun dari barat.

Berdasarkan penjelasan di atas kita dapat mengetahui bahwa Islam mengatur urusan spiritual dan Negara, sedangkan agama lain hanya mengurusi urusan spiritual semata. Islam merupakan ideologi yang memiliki hukum (aturan) yang khas dalam sebuah Negara, sebagaimana ideologi lain seperti Kapitalisme dan Komunisme.  Masing-masing ideologi dalam mengatur seluruh urusan kehidupan dalam sebuah Negara memiliki aturan yang berbeda satu sama lain, bahkan saling bertentangan satu sama lain.

Sebuah ideologi akan berpengaruh terhadap kondisi kehidupan Negara dan rakyatnya dalam berbagai bidang. Diantaranya bidang ekonomi, politik, pendidikan, sosial, dll termasuk masalah agama. Pengaturan  masalah agama masing-masing ideology  berbeda-beda sesuai dengan ideology tersebut. Oleh karena itu kita harus mengetahui masing-masing ideology dalam dalam mengatur urusan masalah agama

Kapitalisme Menindas Agama Islam, Komunisme Menindas Semua Agama

Komunisme dibangun dari aqidah Materialisme yang meyakini  bahwa  alam semesta, manusia, dan kehidupan berasal dari materi tanpa campur tangan Tuhan. Menurut pandangan ini Tuhan tidak ada sama sekali, Tuhan hanyalah khayalan dalam otidak manusia yang tidak memiliki wujud secara nyata. Khayalan tersebut dapat berakibat buruk bagi ketentraman hubungan antar manusia.

Mereka menganggap bahwa salah satu penyebab timbulnya peperangan dan kekacauan di dunia adalah karena perselisihan antar agama atau kelompok agama. Keberagaman agama di dunia karena terjadinya perbedaan keyakinan tentang konsep ketuhanan masing-masing agama. Oleh karena itu solusi yang tepat untuk meredam semua kekacauan dan peperangan di dunia adalah harus melenyapkan seluruh agama di dunia. Agama merupakan “candu” yang menjadi biang keladinya kekacauan, jika agama tersebut ditiadakan maka manusia akan hidup tentram dan damai.

Berdasarkan pemikiran tersebut, maka aturan Komunisme tentang masalah agama adalah bahwa agama harus dilenyapkan dalam Negara. Warga Negara dilarang menampakkan kegiatan agama mereka dalam kehidupan umum. Aturan Komunisme tidak pernah melindungi agama apapun sehingga sangat meresahkan bagi setiap individu yang memiliki agama tertentu. Semua agama menjadi musuh Komunisme secara nyata sehingga aturan ini sangat mengerikan bagi individu yang memiliki agama. Oleh karena itu kita harus sadar bahwa Komunisme tidak hanya menjadi musuh agama Islam semata, tetapi juga semua agama di dunia.

Ideologi Kapitalisme lahir dari aqidah Sekulerisme yang memisahkan urusan sepiritual dengan urusan kehidupan. Ideologi ini menganggap bahwa urusan agama tidak ada hubungannya dengan urusan kehidupan. Agama hanya mengurusi urusan-urusan yang berkaitan dengan masalah spiritual, sedangkan urusan kehidupan bernegara adalah urusan manusia. Manusia berhak membuat aturanya sendiri tanpa ada campur tangan Tuhan. Aturan yang lahir dari agama tidak diperkenankan mengatur masalah kehidupan bernegara.

Konsep dasar ini bagi agama yang hanya mengatur masalah spiritual tidak memiliki pengaruh yang mendasar. Akan tetapi bagi sebuah agama yang memiliki aturan-aturan untuk seluruh aspek kehidupan akan sangat berpengaruh sekali baik dari segi asas maupun dari segi hukum yang dipancarkan dari asas tersebut. Pengaruhnya adalah terjadinya pemaksaan terhadap pemeluk agama tersebut agar menjalankan hukum  buatan manusia dalam urusan kehidupan sekaligus membuang hukum/aturan dari agama mereka.  Pengaruh ini terjadi hanya pada agama Islam dan pemeluknya, tetapi tidak untuk selainnya.

Dengan demikian sistem Kapitalisme menghendaki kebebasan terhadap pemeluk agama dalam menjalankan  agamanya hanya dalam aspek spiritual, sedangkan dalam aspek kehidupan, sistem ini memaksa manusia agar tunduk hanya kepada aturan yang dibuat oleh taghut (aturan yang dibuat selain dari Tuhan). Umat Islam dibiarkan secara bebas agar menjalankan syariat ibadah shalat, puasa, zakat, bahkan difasilitasi dalam menjalankan ibadah haji, serta ibadah lainnya. Akan tetapi mereka tidak dibiarkan secara bebas menjalankan syariat Pengadilan Islam, Ekonomi Islam, Pendidikan Islam, Politik Islam, dan peraturan tentang urusan kehidupan lainya. Umat Islam dipaksa agar tunduk kepada syariat buatan manusia dan meninggalkan syariat yang dibuat oleh Tuhanya. Padahal syariat yang dilarang tersebut memiliki kedudukan yang sama di dalam Islam yaitu wajib dijalankan.

Hanya  umat Islam yang dirugikan dengan sistem seperti ini. Jaminan kebebasan beragama hanyalah jaminan semu demi menutupi penindasan Kapitalisme terhadap umat Islam dalam menjalankan agamanya. Sistem Kapitalisme bukanlah ideologi yang melindungi semua agama dan menjamin pemeluknya menjalankan agamanya.  Sistem ini pada hakikatnya ingin memaksakan aturan manusia dalam kehidupannya sehingga sangat bertentangan dengan agama Islam.

Realitasnya, penguasa negeri-negeri muslim ternyata mengambil konsep ini untuk diterapkan dalam mengatur warga negaranya, tidak terkecuali negeri ini. Walaupun negeri ini menyatidakan bahwa negara ini berdasarkan atas Ketuhanan Yang Maha Esa, bukanlah negara sekuler, akan tetapi fakta aturan negara yang kita lihat dan perhatikan dalam mengatur umat beragama sesuai dengan aturan yang lahir dari aqidah Sekulerisme. Sehingga umat Islam yang memiliki jumlah mayoritas justru tidak terjamin kebebasannya secara penuh dalam menjalankan agamanya sebagaimana di dalam undang-undang dasar di negeri ini. Renungan bagi kaum muslimin agar segera menyadari haknya dan kewajibannya sebagai umat Islam di dunia.

Islam Melayani Hak Semua Warga Negara (Muslim atau Non Muslim)

Islam dibangun di atas aqidah Islam yang memancarkan Syariat Islam/Hukum Syara’. Seluruh problematika termasuk pangaturan terhadap agama selain Islam harus tunduk pada Syariat Islam. Syariat Islam mengatur pemeluk agama non-Islam dengan sangat terperinci dalam Hukum Dzimmi. Perlu dijelaskan disini untuk mengetahui fakta syariat Islam dalam mengatur pemeluk agama lain sehingga tidak terjadi dugaan atau prasangka bahwa jika Islam berkuasa akan mendiskriminasi agama non-Islam dan kaum minoritas. Tuduhan tersebut merupakan tuduhan klasik yang berdasarkan kebencian kaum kafir terhadap Islam.

Adz-dzimmi  adalah setiap orang yang beragama selain Islam, dan telah menjadi rakyat Daulah Islamiyah. Kata  Adz-dzimmi  diambil dari kata adz-dzimmah yang berarti janji. Mereka mendapatkan hak agar negara memperlakukan mereka sesuai kepentingan mereka, juga memperlakukan mereka dan segala urusannya berdasarkan hukum-hukum Islam.

Tidak sedikit hukum-hukum yang dibawa Islam yang menguntungkan ahli dzimmi, antara lain adalah; tidak boleh memfitnah agama mereka, dan mereka hanya dibebani membayar jizyah, tidak boleh mengambil hartanya selain jizyah, kecuali disebutkan dalam syarat-syarat perdamaian. Dari ‘Urwah ibn az-Zubair, ia berkata; Rasululloh SAW menulis untuk kaum Yaman,

“Sesungguhnya barang siapa yang masih tetap beragama Yahudi atau Nasrani, maka ia tidak boleh diganggu, dan ia harus membayar jizyah”,

diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid. Orang-orang musyrik dan kafir lainnya sama dengan Yahudi dan Nasrani’

Dari Hasan ibn Muhamad ibn Ali ibn Abi Tholib, ia berkata; “Rasululloh SAW menulis pada orang Majusi Hajar sambil menyeru mereka masuk Islam,

“Barang siapa yang memeluk Islam maka ia diterima dan barang siapa yang tidak masuk Islam maka dikenai jizyah dengan catatan sembelihan mereka tidak dimakan dan wanitanya tidak dinikahi”, diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid.

Hadits itu tidak dikhususkan pada kaum Majusi Hajar semata, tetapi sifatnya umum. Dan hadits tidak mempunyai pengertian tambahan (istilah usul fiqh). Karena mafhumnya nama tidak bisa dijadikan hujjah dan pertimbangan.

Jizyah hanya boleh ditarik dari laki-laki yang telah baligh. Dari Nafi’ ibn Aslam, budaknya Umar, “Bahwa Umar menulis pada para pimpinan tentara untuk menarik jizyah dan tidak dibenarkan menarik jizyah dari para wanita dan anak-anak, dan hanya boleh dari orang yang sudah terkena alat cukur”, Diceritidakan oleh Abu‘Ubaid dan tidak seorangpun yang membantahnya. Bahkan ia berkata; hadits ini adalah dasar bagi mereka yang wajib membayar jizyah dan mereka yang tidak wajib.

Disamping itu, jizyah hanya diambil dari orang yang mampu membayarnya, karena firman Allah; “’An Yadin”,berarti kemampuan. Jika tidak memiliki kemampuan, maka tidak dipaksa untuk membayarnya. Bahkan, jikalau dia tidak mampu bekerja dan tergolong orang fakir, dia tidak hanya terbebas dari beban jizyah, tetapi juga dia berhak mendapatkan santunan dari Baitul Mal, sebagaimana umat Islam.

Penarikan jizyah diharuskan dengan cara yang sopan, tidak dengan kekerasan dan penganiayaan. Selain itu juga harus disesuaikan dengan kemampuannya, tidak boleh dibebani diluar kemampuannya. Dari Hisyam ibn Hakim ibn Hizam, ia menemukan  kaum yang melakukan penganiayaan dalam menarik jizyah di Palestina, lalu Hisyam berkata; saya mendengar Rasululloh SAW bersabda;

“Sesungguhnya Allah akan menyiksa pada hari Kiamat mereka yang menyiksa manusia di dunia”.

Dari Abdurrahman ibn Jubair ibn Nafir dari ayahnya, bahwa Umar ibn Khattab diserahi harta yang banyak. Saya kira Abu Ubaid berkata harta itu dari jizyah. Lalu Umar berkata; saya melihat kalian telah menghancurkan manusia, mereka menjawab; Demi Allah, tidak. Kami tidak menuntut permintaan maaf mereka. Umar berkata; tanpa cambuk. Sahabat menjawab; ya. Umar berkata; puji bagi Allah yang tidak menetapkan itu pada kekuasaanku”, hadits riwayat Abu Ubaid.

Tidak boleh menjual sarana penghidupan dzimmi, sebesar apapun nilainya, untuk pembayaran jizyah. Dari Sufyan ibn Abi Hamzah, ia berkata; Umar ibn Abdul Aziz memutuskan, “agar tidak menjual peralatan ahli dzimmah”. Abu Ubaid berkata; ia berkata demikian karena kewajiban Kharaj, sebab kalau alat pertaniannya ia jual, ia tidak lagi dapat bertani, yang pada akhirnya kewajiban Kharaj menjadi tiada. Dan juga sarana penghidupan lain hukumnya disamakan dengan sarana pertanian.

Ketika dzimmi masuk Islam, maka gugurlah kewajiban membayar jizyahnya. Dari ‘Ubadillah ibn Rowahah, ia berkata; “Saya bersama orang yang dicuri rantainya, dia menceritidakan bahwa seseorang dari suatu kaum telah masuk Islam, tapi dia tetap ditarik bayar jizyah, lalu orang tersebut mendatangi Umar ibn Khattab dan berkata; Wahai amirul mu’minin! saya telah masuk Islam. Umar berkata; semoga kamu masuk Islam untuk berlindung. Lelaki tadi berkata; apakah dalam Islam ada yang melindungiku? Umar menjawab; ya. Lalu Umar menetapkan agar orang tersebut tidak dikenai jizyah”. Diriwayatkan oleh Abu Ubaid dari Qobus ibn Abi Dzobyan dari ayahnya, ia berkata; Rasululloh SAW bersabda;

“Tidak dibebankan pada orang Islam jizyah”, hadits diriwayatkan Abu Ubaid.

Dari Ibn Abbas, berkata; Rasululloh SAW berkata;

“Tidak layak dalam satu tempat terdapat dua kiblat, dan seorang muslim tidak dibebani jizyah”, hadits diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud.

Umar ibn Abdul Aziz menulis pada pegawainya yang tetap menarik jizyah pada orang yang masuk Islam dengan niat menghindari jizyah, dalam suratnya ia tulis; “Sesungguhnya Allah mengutus Muhamad SAW sebagai petunjuk, dan bukan sebagai pengumpul harta”. Islam telah mengajarkan agar memperlakukan dzimmi dengan baik, bersikap lembut dan memperhatikan kepentingannya. Kaum muslimin wajib menjaga keselamatan jiwa, harta dan harga dirinya, juga menjamin makanan, tempat tinggal, dan pakaiannya. Dari Abi Wa’il dari Abi Musa —atau dari salah satunya— bahwa Rasululloh SAW bersabda;

“Berilah makan orang yang lapar, jenguklah orang sakit, lepaskanlah orang yang sedang kesusahan”.

Abu Ubaid berkata; Demikian juga ahli dzimmah, orang yang dibawah mereka berjuang dan menghilangkan kesusahan mereka, ketika mereka minta selamat, mereka kembali pada dzimmah dan janji mereka secara bebas. Terdapat beberapa hadits yang menjelaskan kasus ini. Dari Amar ibn Maimun dari Umar ibn Khattab, dia berpesan dalam wasiat terakhirnya, “Saya berwasiat untuk khalifah setelahku ini dan itu, saya juga berwasiat kepadanya untuk melakukan dzimmah Allah dan dzimmah Rasulullah-Nya dengan baik, agar berada dibelakang mereka (mendukung) ketika berperang dan tidak membebani mereka diluar kemampuannya”.

Ahli dzimmi tetap diberikan kebebasan keyakinan dan ibadah mereka, karena sabda Rasululllah;

“Barangsiapa yang tetap pada keyakinannya; Yahudi atau Nasrani, dia tidak boleh diganggu”, diriwayatkan oleh Abu Ubaid.

Maksud laa yuftanu ‘anha adalah mereka  tidak dipaksa untuk meninggalkan mereka, tapi justru mereka dibiarkan tetap memeluk agamanya, tetap pada aqidah dan ibadahnya. Hukum ini  tidak terbatas pada Ahli Kitab semata, tetapi juga berlaku untuk orang kafir selain ahli kitab sebagaimana sabda Nabi tentang Majusi,

“Berbuatlah pada mereka seperti pada Ahli Kitab”, diriwayatkan oleh Malik melalui Abdurahman ibn ‘Auf. Sama seperti Majusi kaum musyrikin yang lain.

Adapun memakan sembelihan mereka dan menikahi wanita mereka, maka harus dilihat kondisinya. Jika mereka termasuk Ahli Kitab; Nasrani dan Yahudi, maka boleh bagi kaum muslimin memakan sembelihan mereka dan menikahi wanitanya. Allah berfirman;

“Makanan (sembelihan) orang-orang yang diberi Al-kitab itu halal bagi kalian, dan makanan kalian halal bagi mereka. (Dan dihalalkan mengawini)  wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi al-kitab sebelum kalian…” (Q.S. Al-Maidah; 05).

Sementara jika mereka bukan Ahli Kitab, maka tidak boleh memakan sembelihannya dan juga tidak boleh mengawini wanitanya. Perkawinan orang kafir dengan wanita muslimin tidak diperbolehkan sama sekali, itu adalah haram, baik mereka termasuk Ahli kitab ataupun bukan, karena firman Allah;

“…maka jika kalian telah mengetahui bahwa mereka (benar-benar) beriman maka janganlah kalian kembalikan mereka kepada (suami-suami mereka) orang-orang kafir. Mereka tiada halal bagi orang-orang kafir itu dan orang-orang kafir itu tiada halal pula bagi mereka.” (Q.S. Al-Mumtahanah; 10).

Transaksi antara kaum muslimin dengan ahli dzimmi adalah hal yang  diperbolehkan, seperti jual-beli, sewa, perkongsian, pergadaian, dan lainnya, tanpa diskriminasi terhadap satu kelompok tertentu. Rasulullah pernah melakukan transaksi dengan ahli Khaibar, mereka adalah kelompok Yahudi, dengan separuh hasil bumi dengan catatan mereka yang mengolah tanah dengan biaya sendiri. Demikian pula, beliau pernah membeli makanan dari orang Yahudi, dan juga pernah menggadaikan baju besinya. Nabi mengirim utusan kepada orang Yahudi untuk meminta dua potong baju diberikan pada Maysaroh. Semua itu adalah bukti bolehnya melakukan semua jenis transaksi dengan ahli dzimmi. Namun demikian, semua transaksi dalam bentuk jual-beli, sewa, serikat, atau gadai, tetap harus berdasarkan hukum-hukum Islam, dan tidak boleh sama sekali menggunakan hukum yang lain.

Sebagai warga negara, ahli dzimmi tetap diperlakukan seperti warga negara yang lain, mereka mendapatkan hak kewarganegaraan, hak perlindungan, hak jaminan hidup, hak perlakuan yang baik, dan hak perlakuan yang lembut. Mereka juga boleh bergabung dengan tentara Islam dan berperang bersama umat Islam, namun sifatnya tidak wajib. Demikian juga mereka mempunyai hak keadilan dan kewajiban berbuat adil seperti kaum muslimin. Tidak ada diskriminasi terhadap mereka, baik di depan hakim, di depan qadhi, mengurusi urusan-urusannya, semua bentuk transaksi, dan hukuman. Mereka diperlakukan sama seperti kaum muslimin. Wajib berbuat adil terhadap mereka seperti halnya terhadap kaum muslimin.

Adapun yang terjadi pada Umar bahwa dia membuat perjanjian dengan mereka dan menetapkan beberapa syarat tertentu, maka sesungguhnya perjanjian itu adalah perjanjian damai. Di dalam perjanjian tersebut ditetapkan syarat-syarat yang disetujui dengan penuh kerelaan. Oleh karena itu, sudah menjadi keharusan jika perjanjian itu tetap dilaksanakan seperti semula. Berbeda kalau dalam perjanjian damai itu tidak disebutkan syarat-syarat tertentu, maka mereka harus diperlakukan seperti kaum muslimin, kecuali ada nash yang menjelaskan bentuk-bentuk perbedaannya, seperti tidak boleh mengawini wanita muslim.

Bukti bahwa apa yang dilakukan Umar berdasarkan isi perjanjian, adalah apa yang dilakukan Umar sendiri ketika menarik pungutan. Dia menarik dari kaum muslimin sebesar ¼, sementara dari ahli dzimmi ½, padahal secara hukum syara’ tidak ada pungutan dari dagangan orang muslim atau dzimmi. Dari Abil Khoir, ia berkata; saya mendengar Ruwaefa’ ibn Tsabit berkata; saya mendengar Rasulullah bersabda;

“Sesungguhnya orang yang menarik pungutan bea cukai itu hukumannya neraka, yang dimaksud adalah pungutan 1/10 (Al-‘Asyir)”,

diriwayatkan oleh Abu Ubaid Nabi bersabda;

“Jika kalian bertemu dengan pengumpul zakat 1/10, maka bunuhlah!”,

Diriwayatkan oleh Abu Ubaid dari Ibrahim ibn Muhajir, ia berkata; “Saya mendengar Ziyad ibn Hudair berkata; ‘Akulah orang yang pertama kali mengambil 1/10 dalam Islam, saya berkata; ‘Siapa yang kamu ambil 1/10 itu? Dia menjawab; ‘Kami tidak mengambil 1/10 dari orang Islam dan dari Mu‘ahid, kami menariknya dari kaum Nasrani Bani Taghlab”, hadits riwayat Abu Ubaid.

Pungutan dagang tidak boleh ditarik dari orang Islam dan dzimmi. Apa yang diambil oleh Umar dari umat Islam adalah zakat, sementara dari dzimmi adalah kesepakatan yang telah mereka sepakati dan menjadikan statusnya sebagai ahli dzimmi.

Adapun apa yang dilakukan kepada ahli dzimmi di masa-masa kemunduran Islam adalah kesalahan pemahaman dalam mengikuti tindakan Umar di dalam perjanjiannya. Dapat dipahami bahwa yang dilakukan Umar hanyalah mengikuti apa yang terkandung dalam kesepakatan-kesepakatan yang telah mereka sepakati. Selain itu, Umar tetap berwasiat untuk berbuat baik pada orang-orang dzimmi. Jadi, ahli dzimmi diperlakukan dengan baik dan mereka pun wajib mengikuti apa yang ditetapkan syara’, kecuali kalau dalam perjanjian disebutkan beberapa syarat tertentu, maka hal itu harus dilaksanakan sesuai isi perjanjian diatas. (Dikutip dari Kitab Syakhsiyah Islamiyah Jilid II).

Wajib Menerapkan Hukum Islam Terhadap Orang Kafir

Setiap orang yang berada dalam kekuasaan hukum negara Islam wajib diterapkan kepadanya hukum-hukum Islam, baik ia seorang muslim, dzimmi, mu’ahid, atau musta’min. Tidak ada pilihan bagi hakim dalam hal ini, bahkan dia harus menerapkannya tanpa adanya keraguan, karena berdasarkan firman Allah yang  ditujukan pada ahli Kitab,

“…maka putuskanlah perkara mereka menurut apa yang Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti  hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu.” (Q.S. Al-Maidah; 48),

dan lagi ayat

“…dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka. Dan berhati-hatilah kamu terhadap mereka, supaya mereka tidak memalingkan kami dari sebagian apa yang telah diturunkan Allah kepadamu.” (Q.S. Al-Maidah; 49).

Begitu juga dengan ayat,

“Sesungguhnya kami telah menurunkan kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang telah Allah wahyukan kepadamu..” (Q.S. An-Nisa’; 105).

Ayat-ayat di atas bersifat umum, mencakup kaum muslimin dan non-muslimin. Karena kalimat An-nas bersifat umum, “supaya kamu mengadili antara manusia”. Adapun ayat

“Mereka itu adalah orang-orang yang suka mendengar berita bohong, banyak memakan barang yang haram. Jika mereka (orang Yahudi) datang kepadamu (untuk meminta putusan), maka putuskanlah (perkara itu) diantara mereka atau berpalinglah dari mereka.” (Q.S. Al-Maidah; 42),

yang dimaksud adalah seorang yang datang dari luar ke negara Islam untuk meminta putusan kepada kaum muslimin dalam kasus sengketa  dengan orang kafir lain, maka kaum muslimin diberikan pilihan antara memberikan putusan di antara mereka atau tidak. Ayat itu turun pada seseorang yang telah diberi jaminan oleh Rasulullah dari kaum Yahudi Madinah. Mereka  adalah suku-suku yang dianggap sebagai negeri-negeri yang lain, mereka tidak tunduk pada hukum Islam, bahkan mereka adalah bangsa yang lain. Karenanya, diantara nabi dan mereka terdapat perjanjian-perjanjian.

Akan tetapi kalau mereka mau tunduk pada hukum Islam, dengan statusnya sebagai ahli dzimmi, atau mereka datang sebagai musta’minin yang tunduk pada hukum Islam, seperti mu’ahid dan musta’min, maka mereka harus dihukumi hanya dengan hukum Islam. Mereka yang tidak mau kembali pada hukum Islam, hakim harus memaksanya untuk kembali pada hukum Islam. Karena, mereka mendapat jaminan itu dengan catatan mengikuti aturan-aturan Islam, baik itu berupa janji dzimmah, perlindungan, atau keamanan. Tidak ada perbedaan selama berada dalam wilayah Islam.

Rasulullah menulis pada Ahli Najran yang beragama Nasrani:

“Orang-orang yang melakukan jual-beli dari kalian dengan riba, maka tiada lagi dzimmah untuknya”.

Ibn Umar meriwayatkan “bahwa Nabi SAW datang membawa dua orang Yahudi Fahira setelah mereka berbuat zina muhson, kemudian Nabi memerintahkan untuk merajam keduanya”, begitu pula Anas meriwayatkan “bahwa seorang Yahudi membunuh budak wanita dengan batu, maka Rasulullah membunuhnya dengan dua batu”. Orang-orang Yahudi diatas termasuk warga negara. Peristiwa itu terjadi setelah berakhirnya eksistensi Yahudi dan mereka berada di dalam kekuasaan pemerintah Islam.

Namun demikian, jika perbuatan itu menurut mereka termasuk dalam wilayah akidah, meskipun menurut negara tidak, maka  negara tidak boleh mengganggunya. Mereka dibiarkan melakukan perbuatan itu dan melakukan apa yang diyakininya. Jika mereka meyakini perbuatan itu boleh, seperti meminum arak, maka mereka tidak dikenai hukuman. Hal itu karena mereka tidak meyakini keharaman minum arak, maka tidak ada hukuman terhadapnya, seperti halnya perbuatan kufr. Allah berfirman;

“tidak ada paksaan dalam agama” (Q.S. Al Baqarah:256)

dan sabda Rasulullah,

“Barangsiapa yang tetap pada keyakinannya; yahudi atau nasrani, dia tidak boleh diganggu”, diriwayatkan oleh Abu ‘Ubaid.

Menerapkan hukum yang bertentangan dengan keyakinan mereka secara paksa berarti menodai agama mereka, karenanya dalam masalah akidah dan ibadah, mereka tidak dipaksa. Disamping itu, ketika mereka menerima untuk membayar jizyah, berarti mereka tetap mengakui kekufuran dari segi akidah, dan mereka tidak mengakui hukum kufr, maka hukuman pada mereka atas sesuatu yang masuk wilayah akidah adalah hukuman atas kekufuran yang mereka yakini, dan ini hukumnya tidak boleh. Berdasarkan itu, wajib menerapkan hukum-hukum Islam terhadap orang kafir sebagaimana terhadap kaum muslimin. (Dikutip dari Kitab Syakhsiyah Islamiyah Jilid II).

Setelah memahami konsep hukum Islam di atas, sebagai muslim apakah masih ragu terhadap keadilan hukum Allah untuk seluruh umat manusia?  Apakah kita masih memiliki alasan bahwa aturan Sekulerisme yang menjamin kebebasan semu di negeri ini dapat menjamin kebebasan semua agama? Ataukah dengan prasangka dan opini para orientalisme, kita masih menganggap bahwa Islam menindas dan memerangi non muslim?  Akankah kita masih beralasan pragmatis bahwa Islam tidak mungkin bisa diterapkan saat ini?

Jawabanya adalah Islam sebuah hukum Allah yang dapat diaplikasikan selama 1400 tahun lebih. Semuanya telah merasakan keadilannya, bahkan hewan dan tumbuhan serta malaikat di langit pun tidak ketinggalan. Tidak ada pilihan bagi seorang muslim yang di dalam dada dan kepalanya terdapat Islam untuk memilih selain Islam, kecuali orang yang mengikuti hawa nafsunya. Ya Allah Sesungguhnya Hamba telah Menyampaikan. Wallahu A’lam bi Showwab

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s