BENCANA ALAM; TANGGUNG JAWAB SIAPA?

Oleh : Ustadz Maghfur S Afkar

Hujan tiada henti-hentinya mengguyur, yang terjadi sejak Sabtu hingga Ahad, 2-3 Oktober 2010 silam hingga menyebabkan Sungai Batang Salai yang berhulu di Pegunungan Wondiwoy meluap. Dan akhirnya terjadilah “tragedi 4 Oktober 2010”_ Banjir bandang di Wasior, Teluk Wondama, Papua Barat yang terjadi di pagi hari. Banjir bandang yang terjadi di Wasior bak tsunami kecil yang pernah terjadi di Aceh. Puluhan rumah hanyut, korban berjatuhan dan sebagian besar pemukiman dan bangunan rata dengan tanah.

Selang waktu kurang dari satu bulan; di Yogyakarta, Selasa, 26 Oktober 2010, Gunung Merapi kembali memuntahkan lavanya dan menelan cukup banyak korban. Tidak cukup berhenti disini, Senin malam, pukul 21.42 WIB (25 Oktober 2010), warga Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat, dikejutkan dengan sebuah gempa  kuat. Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika kemudian merilis, gempa itu berkekuatan 7,2 skala Richter, berpusat 78 kilometer barat daya Pagai Selatan, Mentawai. Dan akhirnya tidak lama berselang, terjadilah gelombang tsunami itu.

Bencana demi bencana datang silih berganti, bertubi-tubi, satu belum selesai sudah datang yang lain lagi. Rasanya  negeri ini sudah terlalu sering mengalami bencana hingga terlalu lelah; tidak tahu harus berbuat apa, hingga kadang membuat kita bertanya; apakah kita cukup pasrah begitu saja?. Benarkah Allah telah murka hingga menganiaya manusia?. Benarkah Allah telah menurunkan adzabnya?. Menjadi tanggung jawab siapakah penanganan korban bencana ini?.

Allah tidak akan dimintai pertanggungjawaban

Allah swt berfirman: “DIa (Allah) tidak ditanya tentang apa yang diperbuatnya, dan (tetapi) merekalah yang akan ditanyai” (QS. Al-Anbiya’: 23). Tuhan tidak akan diminta pertanggungjawaban terhadap segala yang diperbuat-Nya, termasuk dengan adanya banjir bandang, gunung meletus, gempa, dan tsunami.

Kalau masih dimintai pertanggungjawaban, berarti Allah bukanlah Tuhan karena masih ada yang lebih tinggi. Maha Suci Allah, Dia lah Tuhan Yang Maha Tinggi dan tidak ada yang lebih tinggi dari-Nya. Dia Maha Kuasa, tiada yang lebih kuasa dari-Nya.

Allah tidak sekali-kali menganiaya manusia

Allah berfirman: “Maka masing-masing (mereka) itu kami siksa disebabkan dosanya, maka diantara mereka ada yang kami timpakan kepadanya hujan batu kerikil dan diantara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur, dan diantara mereka ada yang kami benamkan ke dalam bumi, dan diantara mereka ada yang kami tenggelamkan. Dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri” (QS. Al-Ankabut: 40).

Allah tidak akan menurunkan adzab bagi umat Nabi Muhammad

Allah telah menyiksa kaum-kaum kuffar; umat-umat terdahulu secara langsung. Namun, tidak demikian untuk umat Nabi Muhammad. Umat Nabi Muhammad saw, tidak akan disiksa (diadzab) oleh Allah secara langsung, melainkan akan ditanguhkan waktunya. Banjir bandang, gunung meletus, gempa, dan tsunami bukanlah adzab yang diturunkan oleh Allah kepada manusia yang kufur dan berbuat kriminal sebagaimana umat-umat nabi terdahulu. Allah berfirman: “Jikalau Allah menghukum manusia karena kedzalimannya, niscaya tidak akan ditinggalkan-Nya di muka bumi sesuatupun dari makhluk yang melata, tetapi Allah menangguhkan mereka sampai kepada waktu yang ditentukan” (QS. An-Nahl: 61). Jika Allah menurunkan adzab kepada suatu kaum, maka orang-orang beriman selalu terlebih dahulu diselamatkan sebelum kaum tersebut dihancurkan sebagaimana disaat adzab ditimpakan pada umat-umat nabi terdahulu. Allah berfirman: “Sesungguhnya kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan diwaktu sebelum fajar menyingsing” (Al-Qomar:34). Juga firman Allah: “Para utusan (malaikat) berkata: Hai Luth, sesungguhnya kami adalah utusan-utusan Tuhanmu, sekali-kali mereka tidak akan dapat mengganggu kamu, sebab itu pergilah dengan membawa keluarga dan pengikut-pengikut kamu di akhir malam dan janganlah ada seorang diantara kamu yang tertinggal, kecuali istrimu. Sesungguhnya dia akan ditimpakan adzab yang menimpa mereka karena sesungguhnya saat jatuhnya adzab kepada mereka ialah di waktu subuh, bukankah subuh itu sudah dekat?” (QS. Hud: 81).

Penanganan korban bencana adalah tanggung jawab negara

Manusia dalam persoalan ini akan dimimpa orang banyak. Khususnya dalam hal ini adalah negara, sebab negara wajib melayani rakyat secara keseluruhan dan secara layak. Disaat negara diberi kewenangan untuk melaksanakan hukuman mati bagi yang ditetapkan pengadilan yang benar, maka disaat yang sama negara juga diwajibkan untuk menjaga hak hidup rakyatnya secara keseluruhan dari kebutuhan pokok; pangan, papan, sandang, kesehatan, keamanan, dan pendidikan.

Hak-hak pokok rakyat wajib dijamin oleh negara, meliputi hak pokok keamanan, kesehatan, dan pendidikan untuk semua rakyat warga negara, dan biaya hidup sandang, pangan, dan papan sebagai layaknya manusia. Sebab untuk persoalan-persoalan kebutuhan pokok, negara tidak boleh beralasan tidak mampu atau tidak ada anggaran. Sebab kebutuhan pokok harus didahulukan anggarannya sebelum anggaran lainnya, apapun namanya. Apalagi mencoba men_swastanisasi tanggung jawab negara kepada masyarakat. Negara tidak boleh hanya memberi kail kepada masyarakat dengan himbauan dan bantuan sekedarnya tanpa memperhitungkan kecukupan dan kelayakan, dengan maksud agar masyarakat mau menghimpun dana untuk berbagai kebutuhan pokok rakyat, termasuk kebutuhan penanganan bencana alam. Walaupun masyarakat sangat baik dan terpuji perbuatannya bila ikut ambil bagian dalam membantu penanganan korban beintai tanggung jawab dalam menangani musibah yang menncana, tetapi kewajiban persoalan tersebut tetap ada pada Negara_bukan pada masyarakat.

Negara tidak boleh ngeles (menghindar) dengan alasan tidak mampu, kecuali kalau seluruh wilayah negara terkena bencana sehingga seluruh pasukan reaksi cepat tidak dapat dipergunakan untuk menangani persoalan itu. Wasior, Jogja, dan Mentawai adalah sebagian saja dari seluruh wilayah negeri ini. Oleh karena itu, tidak boleh ada yang teledor (lalai) dalam penanganan pasca bencana, terutama terhadap yang masih hidup. Mereka tidak boleh terlantar dan dibiarkan sampai mati kelaparan. Alasan tidak mampu tidak dapat diterima, sebab hanya sebagian kecil saja wilayah negara yang terkena bencana. Aparat dan tentara dari wilayah lain yang aman dari bencana masih sangat besar jumlahnya dan sehat dengan segala sarana dan prasarana. Tentara juga harus hebat dibidang penyelamatan rakyat, bukan hanya hebat dalam latihan seperti yang ditayangkan televisi. Bahkan kalau negara teledor menangani persoalan ini; tidak segera mengirim pasukan penyelamat sehingga ada yang mati terlantar dan kelaparan setelah bencana sterjadi, maka pemerintah harus bisa diajukan ke pengadilan.

Pemerintah harus menunjukkan telah menggerakkan pasukan khusus yang bergerak menyelamatkan rakyat dengan cepat dan professional, dan dengan peralatan yang sudah biasa dipakai latihan, untuk wilayah-wilayah yang sulit dijangkau transportasi. Bukan malah meminta untuk dimaklumi sebelum menangani penanganan. Dan lebih baik bersikap gentleman dengan menyatakan pemerintah siap diajukan ke pengadilan jika ternyata aparatur negara dan pasukan-pasukan ternyata tidak professional menangani penyelamatan dan perlindungan hak hidup rakyat yang terkena bencana sehingga banyak rakyat yang lolos dari bencana alam tetapi tidak lolos dari kelaparan dan kematian karena tidak mendapat pertolongan dalam jangka waktu yang terlalu lama.

Banjir, gunung meletus, gempa dan tsunami adalah salah satu peristiwa yang menunjukkan tanda kebesaran dan kekuasaan Allah. Rukun iman yang ke-6; beriman kepada qodho’ dan qodar; baik dan buruknya semata-mata dari Allah. Baik dan buruk dalam konteks menguntungkan manusia atau ketidakberuntungan adalah ujian semata dari Allah. Allah berfirman: “Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan mengujimu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benarnya). Dan hanya kepada Kamilah kamu akan dikembalikan” (QS. Al-Anbiya’: 35). Manusia diuji dengan adanya bencana. Untuk orang beriman yang terkena bencana akan dijadikan sebagai syuhada’ dunia. Untuk masyarakat diuji kepeduliannya. Dan untuk negara diuji tanggung jawabnya dalam menangani bencana, karena untuk negara adalah wajib dan jika teledor menjamin pelayanan kepada rakyat dapat diajukan ke pengadilan untuk mendapat sanksi.

Satu pemikiran pada “BENCANA ALAM; TANGGUNG JAWAB SIAPA?

  1. Hmm it appears like your blog ate my first comment (it
    was extremely long) so I guess I’ll just sum it up what I submitted and say, I’m
    thoroughly enjoying your blog. I too am
    an aspiring blog blogger but I’m still new to the whole thing. Do you have any tips and hints for inexperienced blog writers? I’d genuinely appreciate it.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s