Tabayyun

oleh: Ustadz Assaduddin

Berita tentang terorisme kembali ramai menghiasi headline berbagai media elektronik maupun cetak dalam sebulan belakangan ini. Sepanjang tahun setidaknya sudah tiga kali berita terorisme mengemuka, yakni pada kisaran bulan Maret saat kasus Bank Century berada pada puncak pembahasan di DPR, kemudian di bulan juni menjelang kedatangan Presiden AS Barrack Obama yang kemudian dibatalkan, dan terakhir di bulan September ini yang dimulai dari rangkaian peristiwa perampokan CIMB Medan serta penyerbuan di Polsek Hamparan Perak. Isu tentang terorisme cenderung timbul tenggelam di negeri ini.

Perampokan CIMB Medan memang terlihat sangat dramatis dan terencana. Menurut saksi mata sebanyak 12 pria merampok Bank CIMB Niaga Jl Aksara, Medan. Semuanya dilengkapi senjata laras panjang dan pendek memakai jaket hitam, kacamata, dan helm.  Setelah menggondol Rp 400 juta dari brankas, kawanan perampok itu kabur naik sepeda motor. Perampok itu meninggalkan tiga korban yang terkena tembakan. Beberapa waktu kemudian terjadi penyerbuan oleh sekelompok orang bersenjata ke markas polsek hamparan perak yang mengakibatkan tewasnya tiga anggota kepolisian.

Dua kejadian penyerangan oleh sekelompok orang bersenjata nampak dilakukan dengan terencana oleh orang – orang yang terlatih, setidaknya oleh orang yang pernah mendapat  pelatihan militer. Hal ini menimbulkan dugaan akan adanya sel teroris yang aktif di bagian wilayah negeri ini. Penyelidikan berkaitan kasus ini sudah intens dilakukan, namun masih banyak misteri yang belum terungkap.

Antara fakta dan opini

Fakta dan opini adalah dua hal yang berbeda. Fakta adalah realitas, hakikat peristiwa. Adapun opini adalah sebuah perspektif yang timbul dari sekumpulan informasi, artinya opini bisa bergerak ke arah yang berbeda – beda bergantung sudut pandang.

Perampokan CIMB Medan oleh sekelompok orang bersenjata adalah sebuah fakta, realitas yang tak terbantahkan. Namun siapakah mereka ? apa motifnya ? sejauh ini masih simpang siur dan serba spekulatif.

Informasi yang beredar di media massa bahwasanya pelaku perampokan adalah teroris yang berniat menegakkan Negara Islam, merampok sebagai fa’i (harta rampasan) untuk membiayai latihan militer dan sebagainya barulah sebatas opini, mengingat semua informasi tersebut didapat media di luar pengadilan sehingga belum bisa dianggap sebagai bukti yang sah dan meyakinkan. Apalagi belum ada tersangka yang disidang dan divonis dari kasus tersebut.

Sebagai sebuah Negara Hukum (rechstat), sangat penting bagi semua elemen masyarakat untuk menjunjung tinggi asas praduga tak bersalah (presumption of innocence). Semua perkara harus disidangkan untuk membuktikan kesalahan para pihak yang terlibat, termasuk dalam kasus terorisme ini.

Hendaknya kita bisa belajar pada pengalaman perang melawan teror di Amerika Serikat, khususnya peristiwa  pemboman di Oklahoma city.  Pada 19 April 1995 sebuah bom mobil meledak di depan gedung Alfred Murrah di Oklahoma City yang merupakan markas sebagian anggota FBI. Tercatat 81 orang tewas, 150 hilang dan 400 lainnya cedera akibat peristiwa tersebut. Sesaat setelah peristiwa pemboman, beredar opini bahwa pelaku pemboman pastilah teroris timur tengah. Namun setelah dilakukan proses penyidikan dan peradilan yang panjang, ternyata  pelakunya adalah Timothy Mc Veigh, seorang  veteran perang teluk. Dia melakukan pengeboman bukan karena bersimpati pada teroris timur tengah namun melakukan sebagai bentuk kekecewaan atas serangan FBI terhadap sekte “Branch Davidian” di Waco, Texas pada 19 April 1993.

Demikian pula pada peristiwa Bom Bali 1 pada 12 Oktober 2002. Setelah dilakukan berbagai proses penyelidikan, penyidikan, dan persidangan di pengadilan serta rekontruksi di TKP, para pelaku terbukti dan mengakui bahwa merekalah yang mengebom paddy’s café. Bom yang meledak di depan Paddy’s tak terlalu besar dan hanya menimbulkan kerusakan lokal dan sebagian pengunjung panik. Tetapi, selang beberapa menit, ledakan lebih dahsyat terjadi di depan Sari Club. Berdasarkan kesaksian Kapten Rodney Cox, seorang tentara Australia menyaksikan langsung dahsyatnya bom tersebut karena berada di dekat TKP, menyatakan bahwa dahsyatnya Bom menyebabkan seluruh aliran dan jaringan listrik di kota saat itu lumpuh total oleh pengaruh gelombang elektromagnetik yang dipancarkan pada titik kritisnya.

Almarhum Letjend. (Purn) Z.A. Maulani, Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara semasa pemerintahan B.J. Habibie, menyatakan setuju pada pernyataan Joe Vialls, pakar bahan ledak yang tinggal di Australia bahwa bom di sari club termasuk jenis nonkonvensional yang dikenal dengan sebutan SADM — Special Atomic Demolition Munition yang disebut juga micro nuklir. Padahal Negara-negara yang punya micro nuklir ini hanyalah  Amerika Serikat, Inggris, Prancis, Israel, dan Rusia.

Analisa ini mendorong sebagian pihak untuk menuntut aparat melakukan penyidikan lebih dalam guna mencari “pelaku lain” dari Bom Bali ini. Namun sayangnya aparat berpuas diri dengan pangakuan Imam Samudra, dkk bahwa mereka pelaku pemboman di paddy’s café seraya menutup proses penyidikan. Padahal penyidikan terhadap pelaku pemboman di sari club diperkirakan akan menguak lebih dalam jaringan teroris yang “sebenarnya”.

Sungguh sangat penting bagi ummat islam untuk mendapatkan informasi yang valid kebenarannya dalam segala urusan, termasuk perkara terorisme ini, agar ummat tidak salah bersikap. Oleh karena itu ummat harus mendapatkan informasi yang jernih berdasarkan fakta dan bukan berdasarkan opini.

Apalagi dalam kasus terorisme ini cenderung terjadi tarik ulur kepentingan dari banyak pihak. Para politisi mempolitisasi isu untuk menarik simpati publik, media menggunakannya untuk meningkatkan rating dan oplah sehingga terkadang lupa melakukan cross check sumber berita.

Sejauh ini proses persidangan di pengadilan adalah metode terbaik untuk membuktikan kesalahan sekaligus motif para tersangka. Bila dalam pengadilan terbukti bersalah, maka selayaknya pelaku memperoleh hukuman yang setimpal. Proses pengadilan juga diharapkan bisa menguak motif pelaku : apakah bermotif agama sehingga “berbau” jihad, ataukah bermotif politik sehingga layak dilabeli teroris, ataukah hanya bermotif ekonomi sebagaimana dilakukan oleh para bandit kriminal pada umumnya.

Tabbayyun

Tabayyun adalah suatu sikap untuk senantiasa cek dan re-cek terhadap semua informasi. Sikap ini disyariatkan oleh Allah SWT berdasarkan firman-Nya pada QS. Al Hujurat : 6, yang artinya:

”Hai orang-orang yang beriman! Jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka ber-tabayyun-lah (konfirmasikanlah), agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatan itu”

Terdapat beberapa riwayat tentang sebab turun ayat ini yang pada kesimpulannya turun karena peristiwa berita bohong yang harus diteliti kebenarannya.  Sebuah riwayat dari imam ahmad menyebutkan bahwa suatu saat  Al-Walid bin Uqbah bin Abi Mu’ith tatkala ia diutus oleh Rasulullah untuk mengambil dana zakat dari Suku Bani Al-Musththaliq yang dipimpin waktu itu oleh Al-Harits bin Dhirar. Al-Walid malah menyampaikan laporan kepada Rasulullah bahwa mereka enggan membayar zakat, bahkan berniat membunuhnya, padahal ia tidak pernah sampai ke perkampungan Bani Musththaliq. Kontan Rasulullah murka dengan berita tersebut dan mengutus Khalid untuk mengklarifikasi kebenarannya, sehingga turunlah ayat ini mengingatkan bahaya berita palsu yang coba disebarkan oleh orang fasik yang berakibat terjadinya permusuhan antar umat Islam saat itu

Sementara dalam riwayat lain menyebutkan suatu saat, Ummul Mukminin Aisyah mengikuti Rasulullah dalam sebuah ekspedisiuntuk menyerang Bani Musthaliq yang berlokasi di dekat kota Mekah. Dalam perjalanan pulang, rombongan berkemah di dekat Madinah. Dalam kesempatan itu Aisyah keluar dari kemahnya untuk membuang hajat di suatu tempat. Setelah memenuhi hajatnya, putri Abu Bakar ini kembali ke kemah dan langsung masuk ke dalam sekedup (pelangkin) yang berada di atas punggung untanya. Menjelang rombongan berangkat, Aisyah merasa kehilangan kalung yang tadi dipakainya saat membuang hajat. Serta-merta beliau turun dari unta dan berusaha mencari-cari kalungnya yang hilang di kegelapan malam. Pada saat itulah rombongan tentara Rasul meneruskan perjalanan pulang ke Madinah. Para pengawal Aisyah tak menyadari kalau istri Rasul tak berada di dalam sekedupnya lagi. Ini disebabkan oleh karena pelangkin (tandu) itu begitu rapat. Unta itu berangkat ke Madinah dengan sekedup kosong, sedang Ummul Mukminim tertinggal di tempat semula. Akhirnya, ‘Aisyah hanya berbaring di tempat itu, berselimutkan kainnya, sambil pasrah kepada Allah dan berharap rombongan yang menyadari ketiadaannya, bakal kembali. Untunglah ada Shafwan bin Al Mu’aththol (seorang pemuda tampan dan tegap) yang juga tertinggal karena sedang mengurus suatu keperluan. Ia menemukan istri Rasul secara tak sengaja. Akhirnya, Ummul Mukminin itu dipersilakan naik untanya dan dituntunnya unta itu ke Madinah, sambil mengejar rombongan Nabi. Walau berusaha mengejar, ternyata rombongan Nabi tak dapat tersusul.

Kedatangan Aisyah bersama Shafwan itu menimbulkan rumor di masyarakat bahwa Aisyah melakukan penyelewengan. Hampir saja terjadi disintegrasi diantara kaum muslimin gara-gara berita bohong ini. Sebab, dua suku terbesar di Madinah, yaitu Suku Aus dan Khazraj saling membela, mencurigai, dan menuduh. Suku Aus membela martabat dan kesucian Aisyah, sementara suku Khazraj membela Abdullah bin Ubay sang penyebar isu selingkuh, karena dia berasal dari suku itu. Untungnya Rasulullah cepat bertindak menengahi pertikaian dua suku yang sebelumnya sudah menjadi musuh bebuyutan ini. Rasullullah ber-tabayyun (mengecek) kabar itu langsung kepada orang yang dikenal adil, ta’at pada ALLAH SWT, yakni istrinya Aisyah RA.

Ayat ini –seperti yang dikemukakan oleh Ibnu Katsir- termasuk ayat yang agung karena mengandung sebuah pelajaran yang penting agar umat tidak mudah terpancing, atau mudah menerima begitu saja berita yang tidak jelas sumbernya, atau berita yang jelas sumbernya tetapi sumber itu dikenal sebagai media penyebar berita palsu, isu murahan, atau berita yang menebar fitnah. Apalagi perintah Allah ini berada di dalam surah Al-Hujurat, surah yang sarat dengan pesan etika, moralitas dan prinsip-prinsip mu’amalah

Disini, yang harus diwaspadai adalah berita dari seorang yang fasik, seorang yang masih suka melakukan kemaksiatan, tidak komit dengan nilai-nilai Islam dan cenderung mengabaikan aturannya. Lantas bagaimana jika sumber berita itu datang dari pihak yang cenderung memusuhi Islam dan ingin menyebar benih permusuhan dan perpecahan di tengah umat, tentu lebih prioritas untuk mendapatkan kewaspadaan dan kehati-hatian. Sebagaimana dalam kasus terorisme ini, ada sebuah media yang menulis berita dengan judul “teroris merekrut mujahidin dari Afghanistas dan Irak”. Sungguh ini adalah sebuah redaksi berita yang “menyesatkan”, karena teroris hanya merekrut sesama teroris dan bukan mujahid. Mujahidin bukanlah teroris dan jihad bukanlah terorisme, kecuali ada kepentingan dari pihak tertentu yang ingin mengkriminalisasi syariat Islam dengan membentuk opini publik bahwa mujahidin adalah teroris dan jihad adalah kejahatan.

Selain sikap waspada dan tidak mudah percaya begitu saja terhadap sebuah informasi yang datang dari seorang fasik, Allah juga mengingatkan agar tidak menyebarkan berita yang tidak jelas sumbernya tersebut sebelum jelas kedudukannya. Allah swt berfirman yang artinya , “Tiada suatu ucapan pun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya malaikat pengawas yang selalu hadir”. (Qaaf: 18). Dalam sebuah riwayat dari Qatadah disebutkan, “At-Tabayyun minaLlah wal ‘ajalatu Minasy Syaithan”, sikap tabayun merupakan perintah Allah, sementara sikap terburu-buru merupakan arahan syaitan.

Sungguh bersikap konfirmatif terhadap berita adalah sesuatu yang sangat disarankan dalam Islam, agar supaya ummat tidak menjatuhkan musibah / fitnah / kedholiman pada sebuah kaum padahal mereka tidak benar – benar mengetahui apa sesungguhnya yang sedang terjadi. Jangan sampai ummat Islam terbawa arus opini “global war terrorism” ala Amerika yang mengakibatkan sikap saling curiga, saling olok, dan saling tolak diantara ummat Islam sendiri yang pada akhirnya meretakkan ukhuwah islamiyyah.

Wallahu a’lam bi asowab.

Bahan Bacaan :

http://www.dakwatuna.com/2008/sikap-tabayyun-terhadap-informasi/

http://www.freelists.org/post/salafy/Sedikit-ttg-Tabayyun

http://ruanghati.com/2010/08/20/foto-eksklusif-drama-perampokan-berdarah-bank-cimb-medan-kronologis

http://www.oocities.com/batu_capeu/kompas130203a.htm

http://sallysety.multiply.com/journal/item/12/BOM_BALI_KONSPIRASI_Nuklir_Mini_di_Diskotek

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s