Hukum Islam tentang Perbudakan (I)


(Dikutip dari Kitab Syakhsiyah Islamiyah Jilid II)

Islam datang ketika perbudakan sudah menjadi bagian dari kehidupan di mana-mana. Praktik perbudakan sudah menjadi sistem yang dipakai oleh seluruh umat. Tak ada satu wilayah pun yang bebas dari budak dan praktek perbudakan. Islam melihat problem ini dengan dua hal:

Pertama: Realitas para budak yang diperlakukan sebagai budak. Mereka dianggap sebagai kelompok kelas dua laksana barang dagangan yang diperjual-belikan dan ditawar. Maka solusi untuk mengatasi problem ini adalah  membebaskan mereka.

Kedua: Praktik perbudakan itu sendiri. Untuk mengatasi problem ini adalah dengan meminimalisir praktik tersebut. Oleh karena itu banyak sekali ayat-ayat dan hadits-hadits yang menawarkan solusi untuk mengatasi dua problem diatas dengan solusi yang positif bagi manusia dengan didasari pada realita manusia dan realita interaksi antar manusia.

Menangani Budak

Islam telah menawarkan solusi yang dapat meringankan status perbudakan dan membebaskannya secara paksa atau pilihan. Islam telah membuat aturan-aturan seputar kasus ini yang telah diuraikan secara detail oleh ulama fiqh. Hukum-hukum tersebut adalah:

1. Islam menemukan manusia memiliki hamba sahaya. Maka Islam menawarkan solusi mengatasi persoalan budak diantara para majikan, dengan menjamin hak-hak budak, dan menjaga statusnya sebagai manusia seperti orang merdeka dari segi karakter-karakter yang dimiliki manusia. Allah telah berwasiat dalam Al-Qur’an dan juga sabda Rasulullah dalam hadits agar berbuat baik terhadap hamba sahaya dan berhubungan dengan mereka dengan baik. Allah berfirman:

“Sembahlah Allah dan janganlah kalian mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apapun. Dan berbuat baiklah kepada dua orang ibu-bapak, karib-kerabat, anak-anak yatim, orang-orang miskin, tetangga yang dekat dan tetangga yang jauh, teman sejawat, ibn sabil, dan hamba sahaya kalian”.(Q.S.An-Nisa, 36).

Yang dimaksud dengan “Ma malakat aimânukum” adalah hamba sahaya.

Rasulullah saw. bersabda;

“Takutlah pada Allah dengan hamba sahaya kalian, mereka adalah saudara kalian yang Allah jadikan dibawah kekuasaan kalian. Berilah mereka makan dari apa yang kalian makan, berilah pakaian dengan apa yang kalian pakai, jangan membebani mereka dengan beban yang memberatkan, jika kalian membebani mereka, maka tolonglah mereka” (H.R. Muslim).

Dari perawi yang sama melalui Abu Hurairah; Rasulullah SAW bersabda.:

“Janganlah salah seorang dari kalian mengatakan “’abdi wa amati” (budak lelakiku dan budak perempuanku). Kalian semua adalah hamba Allah dan wanita-wanita kalian adalah hamba perempuan Allah, tetapi berkatalah “ghulami wa jariyati, fataya wafatati” (pembantu laki-laki dan pembantu perempuaku)”.

Syara’ telah mengangkat derajat budak dan menjadikannya sama seperti orang merdeka, dengan menjadikan darahnya terjaga, dimana orang merdeka akan dibunuh dengan sebab membunuh budak. Allah berfirman;

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian qishosh berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh…”(Q.S. Al-Baqarah; 178).

Qishash adalah pembalasan dan menghukum orang yang menganiaya. Dengan demikian, Qishash mempunyai makna ganda; membalas perbuatan dosa dan melakukan terhadap pelaku seperti yang telah ia lakukan. Makna “kutiba alaikumul qishoshu fil qotla” adalah  diwajibkan atas kalian sebagai balasan perbuatan dosa yang berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh agar membunuh si pembunuh. Dan ini berlaku umum, laki-laki, perempuan, orang merdeka, dan hamba.

Makna diatas didukung oleh hadits yang diriwayatkan Ibn Majah melalui Ibn ‘Abbas sabda Nabi saw :

“Orang Islam itu sepadan darahnya”.

Hadits ini sifatnya umum. Orang merdeka dan hamba sahaya sama. Darah keduanya dijaga dan haram dibunuh. Sedangkan pembunuhnya, siapa pun orangnya, akan dibunuh. Oleh karena itu, Islam telah menjadikan jiwa dan darahnya hamba sahaya sama dengan jiwa dan darahnya orang merdeka. Rasulullah saw. bersabda;

“Barangsiapa membunuh hambanya, maka kami akan membunuhnya”, diriwayatkan oleh Ahmad dan Abu Daud melalui Samroh ibn Jandab.

Islam juga telah memberikan kepada hamba hak berumah tangga, hak talak, hak belajar dan hak sebagai saksi atas orang lain, orang merdeka atau sesama hamba.  Sementara pemberian hak terhadap sang majikan untuk bersenang-senang  (istimta’) dengan hambanya adalah demi mengangkat martabat hamba dan membebaskan hamba. Sebab dengan bersenang-senangnya sang majikan dengan hambanya layaknya seorang suami terhadap istrinya,  martabat hamba menjadi terangkat seperti martabatnya seorang istri yang merdeka, dan menempatkannya pada sebuah kedudukan mulia dimata majikannya. Lebih dari itu, dengan istimta’, seorang hamba akan mengandung dan melahirkan yang dengan kematian sang majikan, statusnya menjadi merdeka secara otomatis.

2- Islam menekankan pelepasan budak. Dengan melepaskan budak, seseorang dapat mensyukuri nikmat Allah yang sempurna dan dapat menempuh jalan yang berliku. Allah berfirman:

“Maka tidakkah sebaiknya (dengan hartanya itu) ia menempuh jalan yang mendaki lagi sukar?. Tahukah kamu apakah jalan yang mendaki lagi sukar itu?  (yaitu)

melepaskan budak dari perbudakan”. (Q.S. Al-Balad; 11-13).

Kata Iqtiham berarti menembus dan melewati kesulitan. Al-Aqobah. Amal- amal sholeh adalah ‘aqobah, dan mengamalkannya berarti menempuh rintangan itu, karena di dalamnya terdapat penderitaan dan perjuangan. Arti Fakkur roqobah adalah membebaskannya dari perbudakan. Maka Allah menganjurkan dalam ayat itu untuk membebaskan budak. Demikian pula Rasulullah sangat menekankan pembebasan budak. Beliau bersabda;

“Siapa saja membebaskan hamba Islam, maka Allah akan menyelamatkan dari setiap anggota hamba, anggota orang tersebut dari api neraka”. (H.R. Bukhori dan Muslim).

Dengan demikian, jelaslah, Islam sangat menganjurkan pembebasan budak dan membalasnya dengan pahala yang besar.

3. Islam telah memberlakukan hukum yang menetapkan pembebasan budak,  seperti pemberlakuan status merdeka secara otomatis terhadap hamba yang dimiliki oleh kerabat muhrimnya sendiri, baik si pemilik senang atau tidak senang, memerdekakan atau tidak. Jadi, setiap  orang yang memiliki kerabat muhrim dengan membeli atau warisan, secara otomatis hamba tadi menjadi merdeka, hanya karena ia dimiliki oleh kerabatnya, tanpa harus ada niat membebaskan dari si pemilik. Abu Dawud meriwayatkan dari Al-Hasan dari Samroh bahwa Nabi saw. bersabda;

“Barangsiapa memilki kerabat muhrim, maka ia merdeka”.

Demikian pula, Islam menetapkan penyiksaan terhadap hamba, seperti membakar, memotong, merusak  bagian tubuhnya, atau memukulnya dengan pukulan yang menyakitkan, sebagai hal yang menetapkan kemerdekaan hamba. Kalau sang majikan tidak membebaskannya, maka hakim yang membebaskannya dari sang majikan. Nabi saw. bersabda;

“Barangsiapa yang menampar atau memukul hambanya, kafaratnya adalah dengan membebaskan hamba itu” (H.R.Muslim melalui Ibn Umar).

Pukulan yang dimaksud adalah pukulan yang menyakitkan, karena ada hadits yang memperbolehkan majikan memukul hambanya dengan pukulan mendidik.

Islam juga  menetapkan pembebasan budak sebagai kafarat untuk sejumlah dosa. Barangsiapa membunuh orang mu’min karena kekeliruan, maka kafaratnya adalah membebaskan hamba sahaya wanita yang mu’min. Allah berfirman:

“Dan tidak layak bagi seorang mu’min membunuh seorang mu’min (yang lain), kecuali karena salah (tidak sengaja), dan barangsiapa membunuh seorang mu’min karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka bersedekah. Jika ia (si terbunuh) dari kaum yang memusuhimu, padahal ia mu’min, maka (hendaklah si pembunuh) memerdekakan hamba sahaya yang mu’min. Dan jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara merka dengan kalian, maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang mu’min…” (Q.S. An-Nisa; 92).

Dan barangsiapa yang melanggar sumpahnya, maka pembayaran kafaratnya adalah dengan memerdekakan hamba sahaya. Firman Allah:

“Allah tidak menghukum kalian disebabkan sumpahmu yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi. Dia menghukum kalian disebabkan sumpah-sumpah yang disengaja. Maka kaffarat (melanggar) sumpah itu ialah memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kalian berikan kepada keluarga kalian, atau memberi pakaian kepada mereka, atau memerdekakan seorang budak..”, (Q.S. Al-Maidah; 89).

Demikian pula seseorang yang melakukan dzihar terhadap istrinya, dengan mengucapkan “kamu terhadapku seperti punggung ibuku”, lalu dia kembali kepada istrinya, maka kafaratnya adalah membebaskan budak. Sebagaimana firman Allah dalam Al-Qur’an: “Orang-orang yang mendzihar istri mereka, kemudian mereka hendak menarik kembali apa yang yang mereka ucapkan, maka (wajib atasnya) memerdekakan seorang budak sebelum kedua suami isteri itu bercampur…”(Q.S. Al-Mujadalah; 3).

Sama halnya seseorang yang merusak puasa Ramadlan dengan jima’, kafaratnya dengan memerdekakan budak. Dari Abu Hurairah, ia berkata:

“Datang seorang lelaki kepada Rasulullah saw., lalu dia berkata; aku telah celaka wahai Rasulullah. Nabi bertanya; apa yang membuatmu celaka? Si lelaki tadi menjawab; aku telah menyetubuhi isteriku di bulan Ramadlan. Nabi bertanya; apakah kamu punya sesuatu yang bisa kamu merdekakan? Si lelaki menjawab; tidak. Nabi saw. bertanya; apakah kamu mampu berpuasa selama dua bulan berturut-turut? Lelaki itu menjawab; tidak. Nabi saw. bertanya lagi; apakah kamu mempunyai makanan yang kamu berikan kepada enam puluh orang miskin? Laki-laki itu menjawab; tidak. Rawi berkata; Lalu

Nabi saw. duduk, lalu didapatinya sekeranjang jerami yang berisi kurma. Nabi berkata; sedekahlah dengan ini! Lelaki tadi berkata; apakah kepada orang yang lebih fakir dari kami?  Tidak ada keluarga di lingkungan kami yang lebih fakir dari kami. Nabi saw. tersenyum sampai kelihatan gerahamnya. Lalu Nabi saw. berkata; pergilah dan berikan pada keluargamu!”.

Pertama kali yang diperintahkan Nabi dalam hadits di atas adalah memerdekakan budak, tidak langsung memberikan pilihan yang lain sebelum orang tadi betul-betul tidak mampu melakukannya. Semua hukum-hukum kafarat diatas mewajibkan seorang  mukaffir (orang yang terkena kafarat) untuk memerdekakan budak.

Selain hal di atas, Islam juga memberikan solusi yang dapat dilakukan hamba untuk memerdekakan dirinya sendiri. Bagi pemiliknya akan mendapatkan ganti dari harga seorang hamba. Ini akan dibahas lebih jauh dalam pembahasan mukatab. Islam memilih solusi ini seperti yang tertuang dalam al-Qur’an,

“…dan budak-budak yang kalian miliki yang menginginkan perjanjian, hendaklah kalian buat perjanjian dengan mereka. jika kalian mengetahui ada kebaikan pada mereka, dan berikanlah kepada mereka sebahagian dari harta Allah yang dikaruniakan-Nya kepadamu…” (Q.S. An-Nuur, 33).

Ketika sang majikan melakukan transaksi mukatabah terhadap hambanya dengan mengucapkan; “jika kamu dapat menyerahkan sejumlah uang dalam masa tertentu, kamu merdeka”, maka wajib baginya memberikan peluang terhadap hamba agar dapat bekerja sampai mendapatkan sejumlah uang yang disepakati. Sang majikan wajib membebaskan hamba tadi ketika hamba menyerahkan uang tersebut. Tidak sah hukumnya mencabut perjanjian mukatabah.

Dalam istilah fiqh, Mukatabah adalah membebaskan hak milik dan status budaknya saat itu juga ketika si budak sudah melunasinya. Artinya, ketika  akad kitabah sah, maka seorang hamba sudah keluar dari genggaman sang majikan. Setelah dia menyerahkan sejumlah uang (sebagai ganti), dia telah keluar dari milik tuannya. Semua ketentuan diatas berorientasi membebaskan hamba sahaya.

Metode yang dipakai adalah dengan penekanan dan anjuran, dan juga dengan pemberlakuan hukum-hukum yang dilaksanakan  negara secara paksa, ketika seseorang tidak melaksanakannya. Semua itu adalah ketentuan yang mewujudkan pola pikir dan tindakan terhadap majikan dengan memerdekakan budak, dan terhadap hamba untuk bekerja demi membebaskan dirinya dari perbudakan. Inilah cara untuk mengakhiri perbudakan dalam masyarakat.

4. Tidak cukup hanya dengan anjuran dan penetapan undang-undang yang berorientasi pada pembebasan para budak. Islam juga menetapkan dalam baitul mal alokasi khusus untuk membebaskan budak dengan memasukannya sebagai golongan yang berhak menerima zakat. Firman Allah dalam surat At-Taubah:60 menyebutkan :

“Sesungguhnya zakat-zakat itu, hanyalah untuk orang-orang fakir, orang-orang miskin, pengurus-pengurus zakat, para mu’allaf yang dibujuk hatinya, untuk (memerdekakan) budak, orang-orang yang berhutang, untuk jalan Allah, orang-orang yang sedang dalam perjalanan, sebagai sesuatu ketetapan yang diwajibkan Allah; dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana”.

Makna Ar-Riqob adalah membebaskan budak. Ayat di atas tidak menentukan kadar yang dialokasikan untuk memerdekakan budak. Masalah itu diserahkan kepada Negara untuk menetapkan kadar tertentu. Bahkan negara boleh mengalokasikan semua harta zakat untuk pembebasan budak, ketika pengalokasian untuk kelompok lain tidak begitu mendesak. Karena pentasarufan zakat tidak harus untuk semua golongan yang delapan, tetapi boleh ditentukan satu golongan saja sesuai dengan sekala prioritas.

2 pemikiran pada “Hukum Islam tentang Perbudakan (I)

    • Bukan teori saudaraku, tetapi hukum yang harus dilaksanakan dan memiliki konsekuensi di akhirat kelak. Kalau teori bisa benar, bisa juga salah. Mari kita tegaakkan hukum yang islam yang indah ini dalam kehidupan

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s