Hukum Taqlid (2)

(Definisi Taqlid)

 

(dikutip dari Kitab Syakhsiyah Islamiyah Jilid I)

Taqlid menurut bahasa adalah mengikuti orang lain tanpa
berpikir lagi. Orang mengatakan  qalladahu fi kadza, artinya
mengikutinya tanpa perenungan dan tanpa berpikir lagi. Sedangkan
taqlid menurut syara’ adalah melakukan suatu perbuatan atau tindakan
berdasarkan perkataan orang lain tanpa memiliki hujjah atau bukti yang
diperlukan. Misalnya orang awam yang mengambil perkataan
(pendapat) seorang mujtahid, atau seorang mujtahid yang mengambil
perkataan mujtahid yang sederajat dengan dia. Taqlid dalam masalah
akidah tidak dibolehkan, karena Allah telah mencela orang-orang yang
taqlid dalam masalah akidah. Firman Allah Swt:

Dan apabila dikatakan kepada mereka: ’Ikutilah apa  yang telah
diturunkan Allah’, mereka menjawab: ‘(Tidak), tetapi kami hanya
mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek
moyang kami’, ‘(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun
nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan
tidak mendapat petunjuk?’ (TQS. al-Baqarah [2]: 170)

Apabila dikatakan kepada mereka: ‘Marilah mengikuti apa yang
diturunkan Allah dan mengikuti Rasul’. Mereka menjawab:
‘Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami
mengerjakannya’. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek
moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak
mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?. (TQS.
al-Maidah [5]: 104)

Sedangkan taqlid dalam hukum syara’ dibolehkan -secara syar’i-
bagi setiap muslim. Allah Swt berfirman:

Maka bertanyalah kepada orang yang mempunyai pengetahuan
jika kamu tidak mengetahui. (TQS. an-Nahl [16]: 43)

Allah Swt menyuruh orang yang tidak memiliki ilmu agar bertanya
kepada orang yang lebih mengetahui. Sekalipun ayat  di atas
menggambarkan penolakan terhadap orang-orang musyrik ketika mereka
mengingkari keberadaan Rasul sebagai manusia biasa, akan tetapi karena
lafadz berbentuk umum, maka yang dijadikan acuan adalah umumnya
lafadz bukan khususnya sebab. Ayat ini tidak menyangkut topik tertentu,
kemudian dikatakan bahwa (ayat tersebut) khusus untuk masalah ini
saja. Ayat ini berbentuk umum dalam  thalab (tuntutan/perintah)nya agar
orang yang tidak mengetahui bertanya kepada orang yang mengetahui.
Ini adalah thalab terhadap orang-orang musyrik agar bertanya kepada
ahli kitab agar mereka memberitahukan kepada orang-orang musyrik
bahwa Allah Swt tidak pernah mengutus seorang Rasul kepada umat-
umat sebelumnya kecuali dari golongan manusia. Hal  ini merupakan
berita di mana orang-orang musyrik tidak mengetahuinya, maka Allah
menyuruh mereka agar bertanya kepada orang yang mengetahuinya.
Adapun lengkapnya ayat tersebut adalah:

Dan Kami tidak mengutus sebelum kamu, kecuali orang-orang lelaki
yang Kami beri wahyu kepada mereka. Maka bertanyalah kepada
orang yang mempunyai pengetahuan jika kamu tidak mengetahui.
(TQS. an-Nahl [16]: 43)

Kalimat  fas-aluu disini datang secara umum, artinya berta-
nyalah kalian agar kalian mengetahui bahwa Allah tidak pernah
mengutus kepada umat-umat sebelumnya kecuali dari golongan
manusia. Pertanyaan ini berkaitan dengan ma’rifat (pengetahuan),
bukan tentang keimanan. Dan ahlu adz-dzikr sekalipun al-musyar
ilaih (orang yang disebutkan) dalam ayat, yaitu (mereka) adalah
ahli kitab, namun karena kalimatnya datang berbentuk umum, maka
mencakup juga seluruh ahli adz-dzikr. Dan orang-orang muslim
adalah ahli adz-dzikr, karena al-Quran telah menyebutkannya. Allah
Swt berfirman:

Dan Kami turunkan kepadamu al-Quran, agar kamu menerangkan
kepada umat manusia apa yang telah diturunkan kepada mereka.
(TQS. an-Nahl [16]: 44)

Orang-orang yang mengetahui hukum-hukum syara’, tergolong
ahlu adz-dzikr, baik mereka itu memiliki pengetahuan dengan ijtihad
maupun dengan ilmu talaqqin (yang diperoleh melalui belajar secara
langsung). Sedangkan orang yang taqlid adalah yang bertanya tentang
hukum Allah dalam suatu masalah atau beberapa masalah. Ayat di
atas menunjukkan bolehnya bertaqlid.
Diriwayatkan dari Jabir ra, bahwa seorang laki-laki telah tertimpa
batu sehingga retak kepalanya, kemudian ia bermimpi (junub), lalu ia
bertanya kepada para sahabatnya, ‘Apakah kalian mendapatkan
untukku rukhshah (keringanan) untuk bertayamum? Mereka menjawab, ‘Kami tidak mendapatkan untukmu  rukhshah  sementara engkau
mampu menggunakan air’. Lalu laki-laki tadi mandi, tetapi setelah itu
meninggal dunia. Maka Nabi saw berkata:

Adalah cukup baginya bertayamum dan membalut kepalanya
dengan kain, lalu menyapukan (debu) diatasnya dan membasuh
seluruh badannya. (Dikeluarkan Abu Dawud dari Jabir ra)

Beliau berkata:

Tidakkah mereka harus bertanya apabila tidak tahu. Obat
kebodohan hanyalah bertanya.

Di sini Rasulullah membimbing mereka agar bertanya
mengenai hukum syara’. Benarlah perkataan asy-Sya’bi:  ‘Adalah enam
orang dari sahabat Rasulullah saw yang (biasa) memberikan fatwa
kepada orang-orang (yaitu) Ibnu Mas’ud, Umar bin al-Khattab, Ali
bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab dan Abu Musa al-
Asyari’ ra. Dan tiga orang meninggalkan perkataan mereka (mengikuti)
kepada tiga orang(lainnya), (yaitu) Abdullah meninggalkan
perkataannya (ikut) kepada perkataan Umar, Abu Musa meninggalkan
perkataannya (ikut) perkataan Ali, dan Zaid meninggalkan
perkataannya (ikut) kepada Ubay bin Ka’ab’. Ini menunjukkan bahwa
para sahabat menjadi rujukan kaum Muslim, dan sebagian mereka
bertaqlid kepada sebagian yang lain.
Adapun apa yang ada dalam al-Quran al-Karim yang mencela
taqlid, maka hal itu terkait dengan perkara keimanan bukan dalam
masalah pengambilan hukum-hukum syara’. Sebab, pembahasan ayat-
ayat tersebut tentang keimanan dan nashnya khusus membahas
keimanan. Lagi pula ayat-ayat tersebut tidak bisa dicari-cari  illatnya.
Firman Allah Swt:

Dan demikianlah, Kami tidak mengutus sebelum kamu seorang
pemberi peringatan pun dalam suatu negeri, melainkan orang-orang
yang hidup mewah dinegeri itu berkarta: ‘Sesungguhnya kami
mendapati bapak-bapak kami menganut suatu agama dan
sesungguhnya kami adalah pengikut jejak mereka’. (Rasul itu)
berkata: ‘Apakah (kamu akan mengikutinya juga) sekalipun aku
membawa untukmu (agama) yang lebih (nyata) memberi petunjuk
dari pada apa yang kamu dapati bapak-bapakmu menganutnya?’
(TQS. az-Zukhruf [43]: 23-24)

(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-
orang yang mengikutinya, dan mereka melihat siksa,  dan ketika
segala hubungan antara mereka terputus sama sekali. Dan
berkatalah orang-orang yang mengikuti: ’Seandainya kami dapat
kembali (kedunia) pasti kami akan berlepas diri dari mereka,
sebagaimana mereka berlepas diri dari kami’. Demikianlah Allah
memperlihatkan kepada mereka amal perbuatannya menjadi
sesalan bagi mereka, dan sekali-kali mereka tidak keluar dari api
neraka. (TQS. al-Baqarah [2]: 166-167)

‘Patung-patung apakah ini yang kamu tekun beribadat kepadanya?’
Mereka menjawab: ‘Kami mendapati bapak-bapak kami
menyembahnya’. (TQS. al-Anbiya [21]: 52-53)

Ayat-ayat ini merupakan nash tentang keimanan dan kekufuran,
bukan bersifat umum mencakup segala sesuatu. Nash tidak
mengandung  illat apapun, dan tidak terdapat pengillatan apapun untuk
ayat tersebut pada nash lainnya. Tidak bisa dikatakan bahwa yang
dijadikan acuan adalah umumnya lafadz bukan khususnya sebab.
Pernyataan ini benar jika berkaitan dengan sebab, yaitu kejadian yang
menjadi penyebab turunnya ayat. Pernyataan itu tidak benar jika
berkaitan dengan maudlu’ (topik) ayat. Jadi, yang jadi acuan itu adalah
maudlu’ ayat sedangkan keumumannya terbatas pada maudlu’ ayat
saja. Dengan kata lain, umum dalam setiap sesuatu yang mencakup
makna ayat yang berupa maudlu’, bukan umum untuk segala sesuatu
yang tidak dikandung oleh ayat. Jadi, tidak benar ayat tersebut berkaitan
dengan iman dan kufur. Namun dibenarkan pentakwilannya bagi orang
yang taqlid berdasarkan anggapan bahwa hukum berputar bersama
illat, baik ada atau tidak adanya. Dalam ayat ini tidak ada illatnya, dan
tidak mengandung pengillatan. Sama sekali tidak ada  illat apapun pada
ayat tersebut, baik nash-nash al-Kitab maupun Sunnah. Dengan demi-
kian tidak ada satu nash pun yang mencegah untuk bersikap taqlid.
Nash-nash maupun realita kaum Muslim pada masa Rasulullah dan
para sahabat, juga fakta para sahabat, semuanya menunjukkan
bolehnya bertaqlid.

Taqlid mencakup  al-muttabi’ (orang yang taqlid tetapi
mengetahui dalilnya-pen) dan juga al-‘aami (orang yang taqlid tanpa
mengetahui dalilnya-pen), keduanya tidak berbeda. Itu karena Allah
menamakan taqlid sebagai  ittiba’an  (pengikutan) sebagaimana
firmanNya:

(Yaitu) ketika orang-orang yang diikuti itu berlepas diri dari orang-
orang yang mengikutinya. (TQS. al-Baqarah [2]: 166-167)

Juga karena hukum syara’ yang diadopsi oleh seseorang kadangkala
diistinbath (di gali)nya sendiri atau diistinbath oleh yang orang lain.
Jika dia sendiri yang melakukan  istinbath maka dia adalah seorang
mujtahid, dan jika orang lain yang melakukan istinbath kemudian dia
mengambilnya, maka dia telah mengambil pendapat orang lain. Artinya,
dia mengikuti pendapat orang lain. Mengikuti pendapat orang lain
adalah taqlid, baik mengikutinya tanpa disertai hujjah ataupun dengan
hujjah ghairu al-mulzamah (yang tidak mengikatnya). Berarti al-muttabi’
juga termasuk orang yang taqlid. Demikian pula  al-ittiba’ adalah
mengikuti pendapat seorang mujtahid berdasarkan dalil yang tampak
bagi anda tanpa mempertimbangkan (apakah hal itu memang) dalilnya.
Maksudnya, tanpa menjadikan anda harus terikat dengan hujjah
tersebut. Jika anda mempertimbangkan dalil dan mengetahui cara
pengistinbathan hukum dalil-dalil tersebut, kemudian anda setuju
terhadap  istinbath hukum tersebut, maka hujjah yang dijadikan
sandaran bagi hukum tersebut menjadi keharusan bagi anda. Maka
jadilah pendapat anda seperti pendapat seorang mujtahid. Berarti anda
dalam kondisi seperti ini bukanlah seorang muttabi’ (pengikut). Dari
sini jelas bahwa al-ittiba’ (pengikutan) itu adalah taqlid dan al-muttabi’
(orang yang mengikuti) adalah juga taqlid, sekalipun dia mengetahui
dalilnya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s